Gencatan senjata yang diteken Oktober lalu terbukti hanya selembar kertas rapuh. Di lapangan, militer Israel perlahan menggeser batas wilayah, mencaplok lebih banyak tanah, dan menyiapkan panggung untuk ronde pertempuran baru. Gaza kini berada di ambang “mati suri” yang dipaksakan.

Di atas peta militer Israel, Gaza bukan lagi wilayah utuh. Ia telah dikerat-kerat oleh garis warna yang menentukan siapa yang boleh hidup dan di mana mereka boleh berpijak.

Awalnya adalah “Garis Kuning”, batas demarkasi yang disepakati Oktober lalu sebagai pembatas antara posisi tentara Israel (IDF) dan area yang boleh ditempati warga Palestina. Namun, janji tinggal janji. Laporan lapangan mengungkap adanya pergeseran sistematis ke arah Barat. Ekskavator dan buldoser militer bekerja dalam senyap, melakukan penggalian dan perataan lahan yang memperluas cengkeraman Israel.

Kini, muncul istilah baru yang lebih mencekik, Garis Oranye.

Cengkeraman 60 Persen

Investigasi Reuters menemukan bahwa Tel Aviv telah merilis peta baru yang mengurung ribuan pengungsi ke dalam zona terbatas yang terus menyusut. Data yang dikirim ke organisasi kemanusiaan pada Maret lalu menunjukkan bahwa zona terbatas ini mencakup sekitar 11% wilayah Gaza di luar Garis Kuning.

Saluran berita Israel, i24 News, mengonfirmasi manuver ini. Tak puas hanya berdiam di Garis Kuning, IDF merangsek ke jantung wilayah melalui operasi “Garis Oranye”. Akibatnya, wilayah efektif yang dikuasai Israel bertambah 8 hingga 9%. Jika dikalkulasi secara total, Tel Aviv kini mengendalikan hampir 60% wilayah Gaza.

Bagi institusi keamanan Israel, ini adalah “realitas operasional” untuk mematikan potensi ancaman dan mencegah faksi-faksi perlawanan mengatur ulang barisan. Namun bagi warga Palestina dan dunia internasional, ini adalah upaya sistematis mengubah peta geografi Gaza secara permanen—sebuah sabotase terhadap kesepakatan damai.

Restu Washington dan Genderang Perang

Di koridor politik, suasana tak kalah mendidih. Channel 12 Israel melaporkan bocoran dari pejabat keamanan bahwa Donald Trump kemungkinan besar akan memberi lampu hijau bagi Israel untuk melanjutkan operasi militer dalam waktu dekat.

Pertemuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Direktur Eksekutif Dewan Perdamaian Gaza, Nickolay Mladenov, Selasa lalu, menjadi sinyal kuat ke arah sana. Washington dikabarkan telah berbisik ke Tel Aviv: “Hamas menolak pelucutan senjata.” Bagi Israel, penolakan ini adalah “pelanggaran gencatan senjata” yang cukup untuk menjadi alasan melepaskan kembali anjing-anjing perang.

Status WilayahCakupan LuasKonsekuensi Lapangan
Garis KuningAwal KesepakatanBatas pemisah awal yang kini dilanggar
Garis OranyeEkspansi 8-9%Area penyangga baru yang memotong akses warga
Total Kontrol IDF~60% GazaPengapungan total terhadap sisa pemukiman

Antara Politik Dalam Negeri dan Front Regional

Meski genderang perang mulai ditabuh, para pengamat meragukan serangan besar akan terjadi dalam hitungan hari. Fokus Tel Aviv saat ini masih terbelah oleh ketegangan dengan Iran dan front Lebanon yang membara.

Namun, motif domestik tak bisa diabaikan. Analis militer Haaretz, Amos Harel, memberi peringatan keras. Ia mencium ada ambisi politik di balik rencana serangan baru ini. Dengan pemilu Israel yang kian dekat, eskalasi di Gaza sering kali menjadi komoditas empuk bagi pemerintah untuk mendulang simpati pemilih sayap kanan.

Uni Eropa telah melayangkan kecaman keras, menuntut Israel kembali ke poin-poin gencatan senjata dan menjaga integritas wilayah Palestina. Namun di lapangan, suara alat berat dan deru mesin perang lebih nyaring ketimbang nota diplomatik. Gaza kini tidak hanya menghadapi blokade fisik, tapi juga penghapusan ruang hidup yang kian nyata di bawah peta “Garis Oranye”.


Sumber: Diolah dari Al Jazeera, Reuters, Haaretz, dan media Israel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here