Di atas meja perundingan “Majelis Perdamaian”, laporan-laporan berbalut optimisme terus digulirkan. Namun di lapangan, aroma mesiu tak pernah benar-benar hilang. Dengan 60 persen wilayah Gaza kini dalam cengkeraman militer Israel, gencatan senjata Oktober lalu tampak tak lebih dari sekadar jeda untuk mengatur napas sebelum perang kembali meletus.
Ketegangan di Jalur Gaza saat ini berada pada titik nadir. Setelah tinjauan internasional mengevaluasi periode Oktober hingga Mei ini, muncul satu pertanyaan yang menghantui: apakah dimulainya kembali perang besar hanya tinggal menunggu waktu?
Optimisme yang dipasarkan oleh Direktur Eksekutif Majelis Perdamaian, Nickolay Mladenov, ternyata tak bergaung di kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pengamat urusan Israel, Muhannad Mustafa, menyebutkan bahwa absennya pernyataan resmi dari Tel Aviv yang mendukung narasi perdamaian ini adalah bentuk penolakan halus terhadap tuntutan bantuan kemanusiaan dan penghentian operasi militer.
Strategi Titik Nol
Netanyahu nampaknya sedang memainkan kartu “pelarian ke depan”. Di tengah persiapan pemilu Israel, ia mencoba meyakinkan pemerintahan Donald Trump bahwa jalur diplomasi untuk melucuti senjata Hamas sudah buntu. Targetnya jelas: kembali ke “titik nol” dan menuntaskan operasi militer yang tertunda.
Indikasi ini bukan sekadar analisis di atas kertas. Di wilayah yang mereka duduki (yang kini mencakup 60 persen luas Jalur Gaza) militer Israel sibuk membangun pangkalan permanen dan melakukan penghancuran bangunan secara sistematis. Ini bukan gerak-gerik tentara yang bersiap angkat kaki; ini adalah niat untuk “menetap secara ideologis”.
Garis Oranye dan Ilusi Gencatan Senjata
Dari sisi Palestina, kegusaran mulai memuncak. Iyad al-Qara, analis politik di Gaza, menunjukkan ketimpangan nyata: faksi-faksi Palestina telah memenuhi janji terkait pertukaran tawanan, namun Israel tidak menjalankan satu pun poin pada Fase Pertama. Alih-alih melunak, Tel Aviv justru menciptakan “garis oranye”—zona-zona baru yang dijadikan landasan untuk operasi pembunuhan dan pengejaran target.
Kondisi hidup di Gaza saat ini digambarkan “nyaris tiada”. Bantuan yang masuk tak mampu memenuhi kebutuhan dasar paling minimal. Hamas kini bertaruh pada “Kesepakatan Oktober” (yang diklaim sebagai prestasi Donald Trump) sebagai satu-satunya rem untuk menahan ambisi Netanyahu. Mereka bersikeras: Fase Pertama harus tuntas sebelum bicara soal pelucutan senjata.
Visi Washington: Transaksi atau Bencana?
Mantan pejabat komunikasi Gedung Putih, Mark Feifle, melihat Washington sedang terjepit. Trump menginginkan sebuah “kesepakatan besar” (big deal): pemerintahan teknokrat baru di Gaza dan pelucutan senjata Hamas, yang ditukar dengan penarikan mundur pasukan Israel.
Namun, Feifle memperingatkan bahwa jendela peluang ini sangat sempit. Jika gagal, Gaza akan tetap terperangkap dalam siklus krisis tanpa ujung. Taruhan Amerika saat ini adalah menjaga tekanan pada kedua belah pihak agar situasi tidak meledak menjadi perang total.
Menanti Letusan
Analisis para ahli mengerucut pada satu kesimpulan: perang kembali adalah opsi utama dalam perhitungan politik Netanyahu. Namun, opsi ini terganjal oleh potensi “veto” dari Amerika yang khawatir proyek Majelis Perdamaian mereka akan kolaps total.
Saat ini, Gaza hidup dalam status “semi-perang”. Pergerakan di lapangan lebih banyak ditentukan oleh manuver politik antara Kairo dan Tel Aviv. Sementara itu, rakyat Gaza masih terhimpit di tengah kehancuran 90 persen infrastruktur sipil mereka, sebuah puing raksasa yang menurut PBB membutuhkan dana sedikitnya US$ 70 miliar untuk dibangun kembali.
Gencatan senjata ini mungkin hanya sebuah panggung sandiwara, sementara di balik layar, persiapan untuk babak terakhir yang lebih berdarah terus dimatangkan.
Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari laporan mendalam Al Jazeera dan berbagai sumber korespondensi.










