Di sudut sempit yang tersisa dari hiruk-pikuk kehancuran, puluhan anak di Jalur Gaza duduk bersila, sebagian di lantai, sebagian di atas batu-batu bekas bangunan yang runtuh. Di tangan mereka, kuas dan warna. Di hadapan mereka, kertas yang perlahan berubah menjadi ruang pelarian.
Di Kota Deir al-Balah, Gaza tengah, sebuah ruang seni sederhana menjadi tempat anak-anak menata ulang dunia yang porak-poranda. Di sana, warna-warna bukan sekadar alat menggambar, melainkan cara bertahan, cara diam-diam melawan trauma yang tak pernah mereka pilih.
Merujuk laporan Anadolu Agency, ruang ini dikenal sebagai “Atelier Mays”. Tempat di mana anak-anak, yang tumbuh di bawah bayang-bayang agresi sejak Oktober 2023, mencoba merajut kembali potongan masa kecil yang tercerai.
Di antara goresan yang masih gemetar, mereka menggambar sesuatu yang berbeda dari apa yang mereka lihat sehari-hari. Bukan ledakan. Bukan tenda pengungsian. Tapi langit yang utuh, bunga yang mekar, dan rumah yang berdiri tanpa retak.
Padahal, kenyataan yang mereka tinggalkan di luar ruang itu jauh lebih gelap. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat, lebih dari 20 ribu anak di Gaza telah syahid. Puluhan ribu lainnya kehilangan salah satu (atau bahkan kedua) orang tua. Anak-anak, yang mencakup sekitar 47 persen dari total 2,4 juta penduduk Gaza, menjadi kelompok paling terdampak dalam perang ini.
Menggambar untuk Bertahan
Abir Shubair (14 tahun) tahu betul bagaimana rasanya kehilangan tempat berpijak. Ia mengungsi dua kali dari Khan Younis sebelum akhirnya menetap sementara di Deir al-Balah. Baginya, ruang seni ini bukan sekadar tempat menggambar.
“Di sini, saya bisa mengeluarkan semua yang saya rasakan,” ujarnya.
Awalnya, lukisan Abir dipenuhi kesedihan, bayangan kehancuran, wajah-wajah muram, dan garis-garis gelap. Namun perlahan, warnanya berubah. Ia mulai menggambar sesuatu yang lebih terang, seolah memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk bernapas kembali.
Kisah serupa datang dari Rafif al-Attar (11 tahun). Ia mengaku, gambar-gambar pertamanya dipenuhi potret perang: reruntuhan, tenda, dan kesulitan hidup. Tapi waktu mengubah arah kuasnya.
“Saya mulai menggambar bunga, alam, dan anak-anak yang bermain,” katanya.
Perubahan itu tak hanya tampak di atas kertas. Rafif, yang sebelumnya cenderung menarik diri, kini mulai terbuka dan berinteraksi dengan anak-anak lain. Ruang kecil itu, tanpa disadari, menjadi jembatan yang menghubungkan kembali rasa percaya diri mereka yang sempat runtuh.
Seni sebagai Terapi
Di balik ruang sederhana ini, ada sosok Mays Youssef, seorang seniman yang juga kehilangan rumah dan studionya akibat serangan. Dari kehilangan itu, ia justru membangun sesuatu yang baru.
Ia mulai mengadakan lokakarya seni bagi anak-anak pengungsi, banyak di antaranya pernah kehilangan anggota keluarga atau selamat dari reruntuhan bangunan.
Menurut Mays, seni menjadi medium yang memungkinkan anak-anak bercerita tanpa tekanan. “Beberapa dari mereka bahkan baru berani mengungkapkan pengalaman melalui gambar, setelah sebelumnya tak sanggup mengatakannya dengan kata-kata,” ujarnya.
Ia juga menggagas inisiatif “Pesan ke Langit”, sebuah program yang mengajak anak-anak menuangkan pengalaman mereka ke dalam lukisan. Karya-karya itu kemudian dipamerkan di sejumlah negara Eropa, seperti Belanda dan Italia, mempertemukan suara anak-anak Gaza dengan dunia luar, termasuk anak-anak seusia mereka.
Kini, Mays tengah menyiapkan sebuah buku yang akan merekam kisah-kisah itu. Baginya, anak-anak Gaza bukan sekadar angka dalam laporan korban. Mereka adalah cerita yang harus didengar.
Masa Kecil yang Tertahan
Meski intensitas serangan sempat mereda, bayang-bayang perang belum benar-benar pergi. Anak-anak Gaza masih hidup di tengah keterbatasan yang akut.
Akses pendidikan belum pulih sepenuhnya. Sebagian hanya belajar di tenda-tenda darurat dengan fasilitas minim. Lingkungan aman untuk bermain nyaris tak ada. Hak-hak dasar mereka, yang seharusnya sederhana, kini terasa jauh.
Sekitar 1,9 juta warga Gaza masih hidup sebagai pengungsi, dari total 2,4 juta penduduk. Mereka bertahan di tenda-tenda yang tak layak, di tengah kehancuran luas rumah dan infrastruktur.
Perang ini telah merenggut lebih dari 72 ribu nyawa dan melukai lebih dari 171 ribu lainnya. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil rusak. Di saat yang sama, pelanggaran gencatan senjata terus terjadi, menjaga ketakutan tetap hidup, bahwa semuanya bisa kembali runtuh kapan saja.










