Bagi tentara teroris Israel yang merangsek ke Kamp Shu’afat, Al-Quds Timur, kondisi Mahdi Abu Talib yang mengidap Down Syndrome bukan alasan untuk berbelas kasih. Bocah itu justru diseret, dijadikan tameng, dan meninggalkan trauma yang lebih dalam ketimbang keterbatasan fisiknya.
Mahdi Abu Talib seharusnya hanya perlu mencemaskan tugas sekolahnya sore itu. Namun, di bawah bayang-bayang tembok beton yang membelah Yerusalem, nyawa bocah pengidap Down Syndrome ini justru berada di ujung laras senapan. Bukan sebagai korban salah sasaran, tapi sebagai perisai hidup.
Peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu di Kamp Shu’afat ini menambah daftar panjang kekerasan sistematis di wilayah pendudukan. Sang kakak, Muhammad Abu Talib, masih ingat betul bagaimana ia berlari menjemput Mahdi yang baru pulang sekolah. Di tengah penggerebekan mendadak (rutinitas yang kini dianggap lumrah di Shu’afat) tentara Israel justru mengincar Mahdi.
“Dia berkebutuhan khusus! Down Syndrome!” Muhammad berteriak parau, berusaha memecah kebisingan sepatu lars dan teriakan komando. Namun, peringatan itu menguap begitu saja.
Popor Senapan dan Jerit “Kemari!”
Sebuah video amatir merekam momen memilukan itu. Muhammad sempat berhasil merengkuh adiknya, mendekapnya erat di hadapan barisan serdadu. Namun, simpati adalah barang langka di sana. Salah satu tentara menghantam kepala Muhammad dengan popor senjata hingga darah segar mengucur. Mahdi direnggut paksa, diseret di atas aspal, lalu dilempar ke dalam kendaraan militer.
Di dalam kepungan tujuh serdadu yang menodongkan senjata ke arahnya, Muhammad hanya bisa mendengar jeritan adiknya. “Kemari… kemari!” Mahdi memanggil-manggil kakaknya, memohon penyelamatan yang tak kunjung datang karena Muhammad sendiri tengah limbung bersimbah darah.
Beberapa menit kemudian, Mahdi dilepaskan. Sang perwira dengan enteng berdalih tak tahu kalau bocah itu “kasus khusus”. Sebuah pembenaran yang terasa hambar jika melihat rekaman kekerasan yang terjadi sebelumnya.
Luka yang Tak Tampak
Bagi militer Israel, insiden ini mungkin hanya catatan kaki dalam laporan harian mereka. Namun bagi keluarga Abu Talib, ini adalah bencana psikologis. Sejak hari itu, Mahdi yang biasanya ceria kini berubah menjadi “tahanan” di rumahnya sendiri.
“Dia takut keluar rumah. Dia tidak mau lagi pergi ke sekolah,” ujar Muhammad getir. Efek samping dari trauma itu mulai muncul: gangguan tidur hingga enuresis (mengompol). Rasa aman yang dulu ia dapatkan di samping kakaknya saat berkeliling kamp, kini sirna berganti kecemasan akut.
Ghetto di Jantung Kota Suci
Kamp Shu’afat sendiri adalah paradoks besar di Yerusalem. Didirikan pada 1965 untuk menampung pengungsi, kamp ini kini dihuni sekitar 130.000 jiwa. Ironisnya, meski sebagian besar warga memiliki “Kartu Identitas Biru” (KTP Yerusalem/Israel), mereka dipisahkan dari pusat kota oleh tembok pemisah yang angkuh dan pos pemeriksaan militer yang mencekik.
Kondisi makin parah sejak pertengahan Juni 2025 lalu. Di tengah ketegangan antara Israel dan Iran, militer memperketat isolasi dengan memasang gerbang besi permanen di akses utama menuju desa tetangga, Anata. Sejak saat itu, mobilitas ribuan warga sepenuhnya bergantung pada mood serdadu yang berjaga di pos pemeriksaan.
Bagi warga Shu’afat, kekerasan terhadap Mahdi adalah simbol dari kenyataan pahit: di bawah pendudukan, bahkan mereka yang paling lemah pun tidak punya tempat untuk berlindung, apalagi mendapatkan keadilan.
Sumber: Diterjemahkan dan disusun ulang dari laporan korespondensi Al Jazeera










