HEBRON — Pasukan militer Israel kembali menggembok Masjid Ibrahimi di Kota Hebron, Tepi Barat bagian selatan. Penutupan total terhadap akses jamaah Muslim ini dilakukan berdalih demi mengamankan perayaan hari besar keagamaan para pemukim Yahudi.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina melontarkan kecaman keras atas tindakan sepihak tersebut. Melalui pernyataan resminya, mereka mendesak lembaga-lembaga internasional dan organisasi hak asasi manusia untuk segera turun tangan menghentikan “pelanggaran sistematis terhadap tempat suci Islam, sekaligus menjamin hak ibadah umat Muslim.”

Direktur Masjid Ibrahimi, Muataz Abu Sneineh, menegaskan bahwa penutupan ini merupakan bagian dari skenario eskalasi yang sengaja dipelihara Israel. “Tujuannya jelas, untuk menguasai bagian-bagian Masjid Ibrahimi yang tersisa,” ujarnya.

Abu Sneineh mengingatkan bahwa seluruh lorong, ruang shalat, hingga halaman Kompleks Masjid Ibrahimi merupakan situs suci umat Islam. Tindakan melarang jamaah masuk dianggap sebagai bentuk perampasan terang-terangan atas kebebasan beragama yang dijamin oleh hukum internasional.

Aktivitas Belajar-Mengajar Ikut Lumpuh

Dampak dari penutupan ini tak cuma dirasakan oleh jamaah shalat. Pasukan Penjajah Israel juga memperketat penjagaan militer di sekitar kompleks masjid, mengunci pos-pos pemeriksaan, serta mematikan gerbang elektronik.

Akibatnya, ratusan murid dan guru tertahan dan gagal mencapai sekolah mereka di SD Laki-laki Al-Ibrahimiyya dan SD Perempuan Al-Fayhaa.

Laporan kantor berita Palestina, WAFA, menyebutkan bahwa kebijakan represif ini melumpuhkan total kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Al-Ibrahimiyya, sementara aktivitas di Sekolah Al-Fayhaa terganggu berat.

Di saat bersamaan, militer Israel menyebar personel dalam jumlah besar di lorong-lorong menuju Masjid Ibrahimi guna mengawal rombongan pemukim Yahudi yang mendatangi situs-situs bersejarah di Hebron. Akses menuju pasar-pasar di kawasan Kota Tua (Old City) turut ditutup rapat.

Tekanan serupa dialami warga di pemukiman Jabari, Salaymeh, Ghaith, dan Wadi Al-Hussein. Pos-pos militer yang membatasi wilayah mereka dengan permukiman ilegal Kiryat Arba diperketat, praktis mengisolasi aktivitas harian warga lokal.

Saat ini, Kompleks Masjid Ibrahimi berada di bawah kendali penuh militer Israel. Di kawasan Kota Tua Hebron itu, sekitar 400 pemukim Yahudi tinggal dengan pengawalan ketat tak kurang dari 1.500 prajurit militer.

Diskriminasi yang Kian Menjadi

Praktek pembagian penggunaan Masjid Ibrahimi berakar dari peristiwa berdarah tahun 1994. Kala itu, seorang pemukim Yahudi membantai 29 jamaah Muslim yang sedang menunaikan shalat Subuh. Pascatragedi tersebut, Israel secara sepihak membagi area masjid: 63 persen untuk umat Yahudi dan 37 persen untuk umat Islam.

Lewat aturan main yang dibuat sendiri oleh Israel, masjid ini ditutup total bagi umat Islam selama 10 hari dalam setahun saat hari besar Yahudi. Sebaliknya, area masjid juga diklaim ditutup bagi warga Yahudi selama 10 hari saat peringatan hari besar Islam.

Namun, kesepakatan timpang itu makin tak diindahkan. Sejak perang berkecamuk di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, otoritas Israel nyaris tak pernah lagi membuka area masjid secara utuh bagi umat Muslim, bahkan pada hari-hari besar Islam sekalipun.

Momen perayaan keagamaan Yahudi kerap dijadikan alat untuk memperketat pembatasan gerak warga Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds. Rangkaian perayaan Tahun Baru Ibrani yang dimulai pada pertengahan September, disusul Hari Yom Kippur, hingga Hari Sukkot (Hari Tabernakel), terus dimanfaatkan untuk mengikis hak-hak dasar warga Palestina—mulai dari kebebasan beribadah hingga mobilitas harian mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here