AL-QUDS — 30 kali suara terompet shofar menggema dalam satu hari di area Bab al-Rahma dan beberapa sudut Masjid Al-Aqsa. Aksi peniupan terompet tanduk domba ini bukan ritual keagamaan biasa, melainkan cermin dari eskalasi terencana Israel untuk merebut dan mengubah identitas kawasan timur Al-Aqsa tersebut.
Pengamatan lapangan dan laporan media setempat mengonfirmasi bahwa aksi peniupan shofar beruntun itu terjadi pada hari kedua perayaan Tahun Baru Yahudi (Rosh Hashanah), yang sekaligus menandai dimulainya musim penggerudukan massal ke Al-Aqsa.
Laporan Channel 7 Israel mengungkapkan bahwa Rabi Aryeh Lipo, pimpinan sekolah tinggi keagamaan di pemukiman Shavei Shomron, memimpin ibadah kelompok di dalam kompleks Al-Aqsa dan meniup terompet tersebut puluhan kali.
Berdasarkan keterangan Pemerintah Kota Al-Quds (Governorat Jerusalem), aparat kepolisian Israel di lokasi justru membiarkan aksi provokatif tersebut berlangsung hingga ritual selesai, sebelum akhirnya berpura-pura memberikan surat panggilan pemeriksaan formal kepada sang rabi.
Incaran Strategis Berbalut Sejarah
Bab al-Rahma (Golden Gate) merupakan salah satu pintu paling bersejarah dari 15 pintu Masjid Al-Aqsa. Berada di sepanjang tembok sisi timur, struktur setinggi 11,5 meter ini terdiri dari dua gerbang: Bab al-Rahma di sisi selatan dan Bab al-Taubah di sisi utara.
Situs ini menyimpan rekam jejak peradaban Islam yang amat tebal:
- Warisan Umayyah: Dibangun pada era Khalifah Abdul Malik bin Marwan, interior gerbang ini dahulunya dilapisi emas dan difungsikan sebagai ruang shalat.
- Jejak Ulama Besar: Imam Al-Ghazali pernah berkhalwat di salah satu sudut atas Bab al-Rahma saat menetap di Yerusalem, tempat ia melahirkan karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin.
- Situs Pemakaman Bersejarah: Nama pintu ini bertaut langsung dengan Pemakaman Bab al-Rahma seluas 42 dunam (4,2 hektar) yang membentang di luar tembok Al-Aqsa. Kompleks makam berusia 1.400 tahun ini menampung jasad para sahabat Nabi Muhammad SAW—seperti Shaddad bin Aus dan Ubadah bin al-Samit—serta para syuhada korban pembantaian Israel.
Secara historis, Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi sempat menutup gerbang luar Bab al-Rahma dari arah pemakaman demi alasan benteng pertahanan militer usai membebaskan Yerusalem dari Tentara Salib. Namun, aula seluas 200 meter persegi di bagian dalam kompleks Al-Aqsa tetap dibuka sebagai aula shalat.
Memasuki era modern, Israel terus berupaya memutus akses umat Islam ke area ini. Pada 2003, otoritas pendudukan membubarkan Komite Warisan Islam yang bermarkas di sana dan menyegel Mushalla Bab al-Rahma.
Penutupan sepihak ini baru berhasil didobrak pada Februari 2019 lewat aksi perlawanan rakyat Yerusalem (Hibat Bab al-Rahma), di mana ribuan jamaah membongkar gembok militer Israel dan merebut kembali hak ibadah mereka.
Pola Lama: Strategi Menciptakan Status Quo Baru
Aksi peniupan shofar, sujud massal, hingga pengibaran bendera Israel di area timur Al-Aqsa belakangan ini bukan lagi sekadar aksi provokasi insidental.
Pemerintah Kota Al-Quds membeberkan adanya gerakan terstruktur dari kelompok-kelompok radikal Temple Mount untuk mengubah Bab al-Rahma menjadi tempat ibadah Yahudi yang permanen, mirip dengan skenario pencaplokan Tembok Buraq (Wailing Wall) di masa lalu.
Dokumentasi propaganda di media sosial menunjukkan pembentukan kelompok khusus bernama “Pintu Rahma, Terbukalah untuk Kami”, yang dipelopori oleh Ori Ohayon, seorang mantan perwira militer Israel. Kelompok ini secara rutin menggalang ibadah Selichot dan ritual peniupan shofar di sepanjang tembok pemakaman Muslim.
Pemerintah Kota Yerusalem menilai pola yang dipakai militer dan pemukim Israel sangat transparan namun berbahaya:
- Menjalankan ritual keagamaan secara bertahap dan provokatif.
- Mengulanginya secara berkala dengan pengawalan ketat aparat keamanan.
- Membangun rutinitas hingga tempat tersebut dianggap sebagai “hak yang didapat” (acquired right).
- Menuntut pengakuan resmi atas hak ibadah Yahudi di situs suci umat Islam.
Pakar urusan Al-Quds, Ali Ibrahim, menguraikan bahwa eskalasi di Mushalla dan Pemakaman Bab al-Rahma merupakan langkah kumulatif. Sasaran akhirnya adalah mengosongkan area timur dari jamaah dan kelompok pembela Al-Aqsa (murabitun), menyegel kembali Mushalla Bab al-Rahma, lalu menguasai titik-titik strategis Al-Aqsa secara bertahap.
Ancaman ini makin nyata mengingat otoritas pendudukan kerap memanfaatkan momen hari besar keagamaan Yahudi sebagai momentum politik untuk memaksakan pembagian ruang dan waktu di Masjid Al-Aqsa, sebuah langkah berbahaya yang berpotensi memicu ledakan konflik yang lebih besar.










