Di Gaza, sebuah paspor atau surat rujukan medis bukan lagi jaminan untuk selamat. Ribuan orang terjepit di antara daftar tunggu yang lamban dan blokade yang mencekik. Bagi mereka, Rafah bukan sekadar pintu perbatasan, melainkan garis tipis yang memisahkan napas dan pusara.

BILAL al-Mabhuh tak pernah menyangka bahwa “kabar baik” dari dokter justru akan menjadi siksaan yang perlahan mematikan. Sesaat setelah ledakan menghantam wajahnya, tim medis memberi harapan: penglihatannya bisa kembali jika ia segera dioperasi di luar Gaza. Namun, harapan itu membentur dinding tebal di perbatasan Rafah. Di sana, izin keluar diberikan layaknya tetesan obat tetes mata, sangat sedikit dan teramat lambat.

Beberapa hari lalu, vonis pahit itu akhirnya jatuh. “Mata kananmu sudah mati total,” kata dokter. Setahun berlalu tanpa penanganan layak. Kini, Bilal hanya punya satu tumpuan: mata kirinya. Itu pun jika ia bisa keluar dari Gaza dalam hitungan hari. Jika tidak, gelap akan menjadi teman setianya seumur hidup.

Kisah Bilal bermula pada Maret 2025. Saat itu, ia bersama tim teknis hendak menjinakkan amunisi di kamp Jabalia. Sial, peluru kendali kedua menyalak sebelum tugasnya tuntas. Ledakan itu merobek wajah dan menghancurkan gendang telinganya. “Saya sekarang butuh bantuan untuk segalanya. Berjalan, berpakaian, bahkan minum air. Saya ini pria muda yang seharusnya membangun masa depan anak-anak, tapi sekarang saya cuma angka di daftar tunggu yang tak kunjung dipanggil,” tuturnya kepada Al Jazeera.

Statistik di Ujung Tanduk

Nestapa Bilal adalah fragmen kecil dari kolase penderitaan yang lebih besar. Ada 21 ribu pasien di Gaza yang menggenggam surat rujukan medis, menanti celah untuk menyeberang.

Zaher al-Wahidi, Kepala Unit Informasi Kementerian Kesehatan Gaza, memaparkan data yang mengerikan. Dari puluhan ribu itu, 197 orang berada dalam kondisi kritis yang butuh evakuasi detik ini juga. “Satu hari penundaan bisa berarti hari terakhir bagi mereka,” ujar Zaher. Selain itu, ada 2.144 kasus darurat yang kondisinya kian merosot setiap kali pintu Rafah tetap terkunci.

Hingga laporan ini disusun, daftar tunggu itu telah berubah menjadi daftar kematian bagi 1.562 pasien. Sebanyak 550 di antaranya adalah penderita kanker yang meregang nyawa tanpa obat-obatan. Padahal, ada kesepakatan bahwa 150 pasien boleh keluar setiap hari. Realitasnya? Sejak Februari lalu, hanya 665 pasien yang berhasil lewat—hanya 20 persen dari kuota yang dijanjikan.

Ilmu yang Terpasung

Rafah tidak hanya menelan nyawa, tapi juga membunuh masa depan. Barisan orang-orang berpendidikan kini harus menonton impian mereka membusuk.

Ambil contoh Dr. Muayyad Ismail, pakar fisika medis radiasi. Sebelum perang, ia adalah orang pertama yang mengoperasikan pemindai atom di Pusat Palestina-Jerman untuk menangani tumor tiroid. Ia punya satu obsesi: memodernisasi diagnosis kanker di Gaza. Namun, studinya terhenti di gerbang perbatasan.

Empat kesempatan beasiswa doktoral di luar negeri hangus begitu saja. Saat peluang kelima datang dari sebuah universitas di Kanada, Muayyad terjebak dalam perlombaan gila melawan waktu. “Saya sudah dapat tujuh peringatan dari universitas. Kursi saya terancam hilang,” katanya. Ia kini berada di persimpangan jalan: terus memeluk mimpi yang kian jauh, atau menyerah pada keadaan yang tak bisa ia kendalikan.

Keluarga yang Terbelah

Perang dan blokade perbatasan juga merobek serat-serat paling halus dalam masyarakat: keluarga. Gaza kini dihuni oleh “manusia-manusia separuh”—mereka yang fisiknya di dalam, tapi hatinya di luar perbatasan.

Assem al-Nabih, seorang jurnalis, adalah potret dari perpisahan paksa ini. Istrinya dan kedua anaknya berada di luar Gaza. Kerinduan Assem memuncak pada putrinya, Furat, yang kini berusia lima tahun. Setengah dari umur bocah itu dihabiskan tanpa sentuhan ayahnya. “Dulu saya meninggalkannya saat dia baru belajar bicara. Sekarang dia sudah bicara dua bahasa dan tumbuh besar tanpa mata saya menyaksikannya,” ujar Assem.

Melalui layar ponsel, Assem hanya bisa menjadi penonton pasif. Ia melewatkan wisuda doktoral istrinya dan momen-momen tumbuh kembang anak-anaknya. Padahal, Assem sempat punya peluang untuk keluar di awal perang, namun ia memilih bertahan di utara Gaza sebagai jurnalis.

Efek domino dari penutupan perbatasan ini bahkan merambah ke ruang pengadilan. Angka perceraian meningkat karena jarak yang tak kunjung terlipat. Ada suami yang bersikeras tinggal di Gaza demi tanah air, sementara sang istri terjebak di luar negeri atau ingin menyelamatkan diri. Jarak fisik akhirnya menjelma menjadi jurang emosional yang tak tersembuhkan.

Hak yang Menjadi Keistimewaan

Sejak 7 Oktober 2023, Rafah lebih sering tertutup rapat. Meski sempat dibuka pasca-gencatan senjata pada Februari 2026, arus pergerakan manusia di sana tak pernah kembali normal.

Sebelum perang, rata-rata 800 orang melintas setiap hari. Kini, angka itu merosot tajam menjadi hanya sekitar 20 orang per hari. Perjalanan keluar Gaza bukan lagi sebuah hak dasar, melainkan “privilese” yang hanya diberikan kepada mereka yang sudah sekarat, mereka yang punya beasiswa langka, atau mereka yang beruntung memiliki paspor asing.

Di Rafah, waktu tidak berjalan maju; ia hanya berputar di tempat, menggilas harapan-harapan yang perlahan habis masa berlakunya.


Sumber: Diolah dari laporan Al Jazeera dan otoritas kesehatan Gaza.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here