GAZA — Runtuhnya sebuah bangunan pemukiman di kawasan As-Sina’ah, pusat Kota Gaza, pada Kamis dini hari bukan sekadar insiden tunggal. Peristiwa tragis ini memotret realitas kelam yang kini dihadapi ribuan keluarga Palestina, terpaksa bertahan di dalam bangunan retak dan rawan roboh akibat ketiadaan pilihan.
Di tengah kehancuran pasca-serangan, warga dihadapkan pada dilema yang hampir mustahil: tetap bertahan di bawah atap yang bisa runtuh sewaktu-waktu, atau menggelambara di jalanan tanpa tempat berlindung.
Di kawasan As-Sina’ah, gedung bertingkat enam ambruk rata dengan tanah saat penghuninya tertidur pulas. Data Pertahanan Sipil Gaza mencatat ada sekitar 100 warga di dalam bangunan tersebut, dengan hampir separuhnya (sekitar 50 orang) adalah anak-anak.
Sejak fajar, proses pencarian berlangsung dramatis di tengah bongkahan beton. Petugas Pertahanan Sipil, dibantu alat berat milik Komite Mesir serta relawan lokal, terus merangsek masuk berbekal alat seadanya demi merespons jeritan dari balik reruntuhan.
Jurnalis Al Jazeera, Ashraf Abu Amrah, melaporkan bahwa rintihan anak-anak dan perempuan sempat terdengar jelas dari balik puing pada jam-jam awal pasca-kejadian. Hingga sore hari, tim evakuasi telah mengeluarkan sedikitnya 20 jenazah korban meninggal, delapan di antaranya anak-anak dan enam perempuan.
Namun, upaya penyelamatan itu sendiri berada di ujung tanduk. Peralatan yang digunakan sangat terbatas dan berukuran kecil, jauh dari kata memadai untuk menyingkirkan tonan lempengan semen. Krisis bahan bakar, kelangkaan suku cadang, dan ketiadaan oli pelumas mengancam bakal menghentikan paksa sisa-sisa alat berat yang masih beroperasi.
Pertahanan Sipil Gaza menegaskan bahwa ancaman ini tidak berhenti pada satu gedung saja. Sedikitnya 2.000 rumah di seluruh Jalur Gaza kini berstatus sangat rawan runtuh. Pihaknya mendesak intervensi internasional agar mendesak pembukaan akses perbatasan guna memasukkan alat-alat berat serta perlengkapan teknis untuk merobohkan atau menopang bangunan berbahaya sebelum memakan lebih banyak korban jiwa.
Ancaman ini makin menggentit seiring mendekatnya musim dingin. Angin kencang dan badai hujan dipastikan memperlemah struktur bangunan yang sudah rapuh, menempatkan ribuan nyawa dalam ancaman maut setiap detiknya.
Maut Masih Mengintai di Luar Reruntuhan
Bencana bangunan runtuh ini terjadi berbarengan dengan gempuran yang belum benar-benar reda di sejumlah wilayah Gaza. Di Kamp Pengungsian Al-Bureij, seorang bocah yang sedang mengantre air bersih di gerbang kamp syahid seketika setelah drone militer melancarkan serangan udara ke arah kerumunan warga. Rumah Sakit Al-Awda di Nuseirat mengonfirmasi bocah tersebut gugur dan enam warga lainnya luka-luka.
Sementara itu, Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa menerima satu jenazah warga yang tewas ditembak kapal perang Israel di lepas pantai Provinsi Tengah. Di tempat lain, Kompleks Medis As-Syifa melaporkan seorang warga meninggal dunia akibat luka berat pasca-serangan udara di Kota Gaza sehari sebelumnya.
Pengakuan Para Korban Selamat: Ketakutan di Setiap Sudut
Seorang pria paruh baya yang berjalan menggunakan dua tongkat menceritakan detik-detik saat dinding rumahnya mulai meretak dan berjatuhan di tengah malam. Sadar bahaya mengintai, ia berteriak histeris membangunkan para tetangga untuk segera lari keluar. Hanya dalam hitungan menit setelah seluruh warga berhasil keluar ke jalan, bangunan itu roboh total.
“Kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa, hanya wadah air dan beberapa lembar selimut,” tuturnya. Kini, sekitar 15 hingga 18 anggota keluarganya terpaksa tidur beralaskan seadanya di atas trotoar jalanan.
Kesaksian serupa datang dari seorang lansia berkursi roda. Ia merasakan seluruh struktur rumahnya bergetar dan miring sebelum akhirnya roboh. Kendati seluruh keluarganya selamat, seluruh barang dagangan dan peralatan rumah tangga mereka tertimbun tanpa sisa.
Warga lainnya mengakui bahwa mereka sebenarnya sudah tahu bahwa tiang penyangga rumah tersebut sudah retak parah dan tidak layak huni. Namun, mereka terpaksa menempatinya karena tidak ada pilihan lain. Di rumah lain yang dindingnya terbelah, seorang ibu mengaku selalu dicekat ketakutan setiap malam, khawatir atap rumah runtuh menimpa anak-anaknya saat tertidur.
Seorang pemuda yang bertahan di sisa ruangan rumahnya yang miring merangkum keputusasaan warga Gaza dengan kalimat lugas: “Kami tahu rumah ini bergetar tiap kali ada gerakan. Tapi tidak ada pilihan lain. Bagi kami, pilihan tempat tinggal yang tersisa cuma ruangan rusak ini, atau kuburan.”
Desakan Penegakan Hukum Internasional
Dari Amman, Yordania, Juru Bicara Kantor Tinggi HAM PBB (OHCHR) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Mai El-Sheikh, mengungkapkan bahwa pelanggaran kemanusiaan terus terdokumentasi secara masif. Berbagai serangan yang memakan korban anak-anak masih terus terjadi secara berulang.
Mai El-Sheikh menegaskan, berulangnya tragedi kemanusiaan ini tak lepas dari nihilnya akuntabilitas dan pertanggungjawaban hukum di tingkat internasional. Ia menyerukan langkah konkrit dari negara-negara dunia untuk menekan agar pelanggaran atas hak hidup warga sipil bisa segera dihentikan.
Ia menambahkan bahwa instrumen hukum internasional sebenarnya menyediakan mekanisme yang jelas untuk menyeret para pelanggar ke meja hijau. Namun, tanpa adanya kehendak politik yang kuat dari komunitas internasional untuk memanfaatkan tekanan hukum tersebut, warga sipil di Gaza akan terus menjadi korban dari rumah-rumah maut yang mengintai nyawa mereka setiap hari.










