GAZA — Pantai Jalur Gaza yang dulunya menjadi satu-satunya oase pelarian bagi hampir dua juta warga Palestina, kini berubah menjadi muara limbah yang membahayakan jiwa. Setiap hari, ribuan meter kubik air limbah rumah tangga mengalir deras langsung ke laut tanpa tersaring sedikit pun.
Di tengah krisis air bersih yang kian mencekik dan terik cuaca yang membakar, ribuan pengungsi di sepanjang pesisir kini justru terkepung bau busuk serta ancaman wabah penyakit yang mengintai dari luar tenda mereka.
Laporan koresponden Al Jazeera, Hani al-Shaer, mengungkap betapa kritisnya kondisi di lapangan. Juru Bicaranya Pemerintah Kota Khan Younis di Gaza selatan, Saeb Laqan, membeberkan bahwa pihaknya terpaksa membuang lebih dari 6.000 meter kubik air limbah mentah ke laut setiap harinya.
“Ini adalah tragedi kemanusiaan berskala besar. Jika tidak segera ditangani, kita sedang mengarah pada skenario yang jauh lebih mengerikan, yaitu ledakan wabah penyakit dan infeksi massal yang tak terkendali,” ujar Laqan.
Peringatan senada ditiupkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga dunia ini menyoroti bahwa agresi militer Israel telah memicu kerusakan lingkungan hidup yang masif sekaligus memicu kelangkaan air bersih pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan di seluruh penjuru wilayah terisolasi tersebut.
Tercemar Bertubi-tubi: Air, Pasir, hingga Udara
Pejabat Pengawas dari Kementerian Kesehatan Gaza, Said al-Aklouk, menjelaskan bahwa pembuangan limbah pekat tanpa proses pengolahan telah memicu pencemaran sistemik. Kerusakannya terjadi beruntun dan saling mengunci: air laut tercemar, pasir pantai terkontaminasi, dan udara di sekitarnya beracun.
Dampak buruk pencemaran ini langsung menghantam kehidupan sehari-hari para pengungsi. Ayoub al-Shanbari, warga terusir dari Beit Hanoun yang kini menempati tenda di pesisir Khan Younis, mengeluhkan buangan limbah yang tak pernah berhenti selama 24 jam.
Kondisi ini merampas satu-satunya kesempatan warga untuk menyegarkan diri dari panasnya udara di dalam tenda.
Kesaksian para pengungsi mengungkapkan fakta yang lebih memprihatinkan. Banyak keluarga terpaksa mendirikan tenda persis di samping saluran pembuangan limbah karena tidak ada lagi ruang kosong yang tersisa.
Akibatnya, mereka tak bisa tidur tenang, tersiksa gangguan pernapasan, bahkan beberapa ibu hamil dilaporkan mengalami keguguran akibat terus-menerus menghirup bau busuk yang menyengat serta hidup di lingkungan yang tercemar parah.
Laut Gaza sejatinya merupakan tempat pelarian terakhir bagi warga yang tak tahan menghadapi gelombang panas di dalam tenda. Namun, lumpuhnya fasilitas pengolahan limbah akibat krisis bahan bakar dan hancurnya infrastruktur vital membuat air laut itu sendiri kini menjadi racun.
Sebelumnya, Federasi Kotamadya Jalur Gaza telah melepas peringatan keras mengenai ambruknya sistem sanitasi dan pasokan air bersih. Tanpa adanya pasokan bahan bakar dan pelumas untuk menjalankan generator, sumur air, serta mesin pompa, pesisir Gaza kini kian terancam berubah total dari tempat bernaung menjadi pusat wabah yang mematikan.










