GAZA — Di sebuah persimpangan jalan utama Kota Gaza, lantang suara Bilal Ma’roof memecah hiruk-pikuk warga. Dari atas gerobaknya yang ditarik seekor keledai, pemuda ini menawarkan jasa pengantaran menuju pesisir pantai dengan tarif 5 shekel (sekitar Rp26 ribu) per orang.
Laju gerobak keledai memang lambat dan terseok-seok melintasi jalanan yang hancur berantakan. Namun, gerobak keledai yang awalnya sekadar alternatif darurat kini bertransformasi menjadi sarana transportasi utama yang tak tergantikan.
Mirisnya, keledai kini menjadi moda yang kian langka dan melilit pemiliknya dengan ongkos perawatan yang melonjak tinggi.
Ketika para penumpang mengeluhkan waktu tempuh yang makin memakan waktu, para pemilik gerobak justru terimpit biaya pakan dan perawatan hewan. Belum lagi ancaman kematian ternak yang kian masif selama pemboman dan krisis pasokan berlangsung.
Dari Alat Tani Jadi Penyelamat Mobilisasi
Fungsi keledai di Gaza bergeser drastis selama tiga tahun terakhir. Jika sebelum perang hewan ini mayoritas dipakai untuk menggarap ladang atau mengangkut bahan bangunan, kini keledai bertumpu sebagai urat nadi transportasi warga.
Demolisi besar-besaran terhadap armada angkutan umum dan mobil pribadi oleh pasukan Israel, ditambah kehancuran infrastruktur jalan, memicu kehancuran sistem transportasi modern. Alhasil, warga bergantung pada gerobak keledai yang populasinya sendiri ikut menyusut akibat serangan udara, kelaparan, dan hilangnya pasokan obat-obatan veteriner.
Wafa Al-Durahli, seorang warga Gaza, harus bersabar menunggu lebih dari 10 menit di atas gerobak hingga kapasitas penumpang terpenuhi.
“Kami terpaksa naik gerobak karena mobil sudah tidak ada lagi. Tidak ada pilihan lain untuk bisa sampai ke kediaman kami di wilayah barat laut Kota Gaza yang jalannya sudah rata dengan tanah,” tuturnya.
Ia tak menampik bahwa gerobak bukanlah solusi ideal karena geraknya yang lambat, terutama saat harus mengurus kebutuhan pokok yang mendesak. Namun, lonjakan tarif hidup dan transportasi umum yang sirna memaksa warga menelan kenyataan pahit ini.
Lonjakan Harga Keledai hingga 23 Kali Lipat
Krisis transportasi ini kian diperparah oleh melonjaknya biaya operasional gerobak. Kelangkaan pasokan hewan baru dari luar Gaza serta banyaknya ternak yang mati membuat harga seekor keledai meroket tajam dari taraf wajar.
Sebelum perang, harga seekor keledai berkisar di angka 1.500 shekel (sekitar Rp7,8 juta). Kini, harganya menembus lebih dari 35.000 shekel (sekitar Rp183 juta), melonjak lebih dari 23 kali lipat.
“Harga hewan yang melonjak tinggi membuat impian membeli keledai baru hampir mustahil bagi kami yang menggantungkan hidup dari gerobak,” kata Mu’adh Abu Amira, seorang kusir gerobak di Gaza.
Tak cuma harga keledainya yang tak masuk akal, harga suku cadang gerobak pun ikut gila-gilaan. Untuk mengganti satu ban bekas saja, Abu Amira harus merogoh kocek hingga 3.000 shekel (sekitar Rp15,6 juta). Padahal sebelum perang, ban bekas serupa hanya berharga 250 shekel (sekitar Rp1,3 juta).
“Kusir gerobak kini harus memikirkan pakan untuk keluarganya sekaligus untuk hewannya. Belum lagi biaya obat dan servis gerobak. Kalau keledainya sakit atau mati, mata pencaharian kami ikut terputus,” tambahnya.
Kelangkaan Obat dan Pakan: 99 Persen Pasokan Lenyap
Dokter hewan drh. Muhammad Abu Warda mengungkapkan bahwa maraknya kematian hewan ternak dan unggas di Gaza dipicu oleh matinya pasokan medis dasar.
Ia membeberkan bahwa sekitar 99 persen obat-obatan veteriner utama (termasuk antibiotik, analgesik, dan vaksin) telah hilang dari pasaran sejak awal eskalasi. Kondisi ini makin parah karena dibarengi krisis pakan berat yang memicu malnutrisi pada hewan.
Guna bertahan, para pemilik hewan dan tenaga medis terpaksa mengandalkan sisa-sisa pasokan lama, meski tak jarang obat yang digunakan sudah kedaluwarsa atau kurang efektif.
Berdasarkan data sensus pertanian Palestina tahun 2021, populasi keledai di Gaza tercatat sebanyak 3.560 ekor. Meski belum ada data resmi berapa total keledai yang mati selama perang, fluktuasi harga pakan menjadi bukti nyata parahnya krisis.
Pakan gandum ukuran 50 kg yang dulunya seharga 60–65 shekel (Rp310 ribu), sempat membumbung tinggi hingga 2.000 shekel (sekitar Rp10,4 juta) sebelum akhirnya turun perlahan ke angka 170 shekel (Rp880 ribu).
Uniknya, di tengah krisis yang membendung Gaza, sejumlah laporan internasional menyebut puluhan keledai berhasil dievakuasi ke suaka aman di Eropa. Salah satu penerbangan pada November 2025 bahkan menerbangkan sekitar 50 ekor keledai dari Gaza untuk menyelamatkan mereka dari kepunahan lokal.
Bagi warga Gaza, keberadaan pakan, vaksin, dan obat-obatan veteriner kini bukan lagi sekadar urusan penyayang binatang. Pasokan medis tersebut menjadi kunci agar sarana transportasi yang tersisa tak ikut punah di tengah gemuruh perang.










