NEW YORK — “Kita harus melawan pembusukan legitimasi Israel, dan Anda sekalian berada di garis depan. Ini bukan cuma soal membela kebijakan Tel Aviv, ini soal hak kita untuk eksis di tanah ini.”

Pesan itu datang dari Benjamin Netanyahu pada 2015. Ditujukan khusus untuk sebuah rapat senyap yang diinisiasi mendiang Sheldon Adelson, raja judi Las Vegas sekaligus penyokong dana raksasa sayap kanan Israel. Agendanya tunggal: mencari cara mematahkan leher gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) yang mulai menggeliat di kampus-kampus elite Amerika Serikat dan Eropa.

Saat itu, gerakan BDS sudah berumur satu dekade. Awalnya, Tel Aviv memandang sebelah mata gerakan ini, menganggapnya tak lebih dari angan-angan kosong segelintir aktivis Palestina yang frustrasi. Namun, dalam waktu relatif singkat, jaringan boikot global ini justru bermutasi menjadi apa yang disebut intelijen Israel sebagai “ancaman strategis nomor satu” di luar negeri.

Hulu ledak perlawanan balik dari Tel Aviv pun diluncurkan. Hasilnya adalah sebuah proyek intelijen partikelir dan mesin propaganda paling agresif yang pernah beroperasi di tanah Amerika, Canary Mission.

Teror Digital yang “Mudik” ke Meja FBI

Canary Mission adalah situs web tanpa nama, beroperasi di wilayah abu-abu hukum, namun memiliki taring yang mematikan. Modus operandinya sederhana tapi brutal: mengumpulkan data pribadi mahasiswa, aktivis, hingga profesor yang menyuarakan pembelaan terhadap Palestina atau mendukung boikot Israel.

Situs ini bertindak sebagai algojo digital. Mereka memajang foto target, nomor telepon, alamat rumah, tempat kerja orang tua, hingga sekolah adik atau anak-anak mereka. Tujuannya jelas: menciptakan “neraka jahanam” di dunia nyata bagi siapa saja yang berani mengusik Israel, membuat mereka kehilangan beasiswa, dipecat dari pekerjaan, atau dikucilkan dari industri profesional dengan label permanen: “Anti-Semit”.

Namun, kejutan terbesar yang baru-baru ini mengocok perut ruang redaksi media global (terutama sejak Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih awal tahun lalu) adalah fakta bahwa Canary Mission bukan lagi sekadar situs perundungan siber (cyberbullying).

Situs ini telah bertransformasi menjadi dokumen rujukan resmi bagi aparat penegak hukum Amerika Serikat.

Laporan investigasi mengungkap bahwa Biro Investigasi Firaun (FBI) dan Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) menggunakan basis data Canary Mission untuk melacak, menginterogasi, hingga mendeportasi mahasiswa dan aktivis keturunan Palestina dari “tanah kebebasan” tersebut.

Lebih dari 5.000 profil aktivis yang dikumpulkan secara telaten oleh Canary Mission kini menjelma menjadi menu siap saji bagi intelijen Amerika. Pasca-peristiwa 7 Oktober 2023, perburuan ini diintensifkan secara ugal-ugalan dengan restu penuh dari Gedung Putih dan lobi-lobi Zionis di Washington.

Dirigen di Balik Layar

Sejak mengudara pada 2015, Canary Mission dibungkus kerahasiaan tingkat tinggi. Tidak ada nama editor, tidak ada alamat kantor, dan tidak ada laporan keuangan resmi. Namun, sepandai-pandai menyimpan bangkai, bau busuknya tercium juga oleh radar jurnalisme investigatif.

Jejak digital dan aliran dana menunjuk pada satu nama: Adam Milstein.

Jaringan Pengaruh Adam Milstein & Pendanaan Zionis
Hasbara Fellowships — Melatih mahasiswa AS menjadi corong propaganda Israel di kampus.
Israeli American Council (IAC) — Menjadi jangkar penghubung komunitas ekspatriat Israel-AS untuk menekan kebijakan lokal.
StandWithUs — Lembaga nirlaba agresif penyerang gerakan boikot di media sosial.
Gila Milstein Family Foundation — Mesin pencuci uang donor untuk operasional intelijen sipil.

Milstein, taipan real estat keturunan Israel-Amerika yang dikenal dekat dengan Trump dan mendiang Sheldon Adelson (kini dilanjutkan jandanya, Miriam Adelson), ditengarai sebagai dirigen utama proyek ini. Melalui yayasan keluarganya, Milstein mengalirkan dana ke berbagai organisasi sayap kanan yang bertugas melatih mahasiswa menjadi serdadu propaganda (Hasbara).

Aroma pendanaan ini juga mampir ke kantong-kantong miliarder lain. Menurut dokumen yang bocor ke publik, Michael Leven, mantan petinggi kasino Las Vegas Sands milik Adelson, kedapatan menggelontorkan US$ 50 ribu ke Canary Mission. Sementara itu, sebuah yayasan kaya di Pennsylvania milik keluarga Peisach menyuntikkan US$ 100 ribu pada tahun 2023.

Uang-uang ini bekerja lewat skema pengecualian pajak (tax exemption) di AS di bawah kedok “kegiatan amal”. Ironisnya, uang amal itu dipakai untuk membiayai operasi pengintaian warga negara Amerika sendiri.

Intimidasi Berbaju Burung Kenari

Pada 2018, sebuah pemandangan ganjil terjadi di pelataran Universitas George Washington—kampus elite yang posisinya hanya selemparan batu dari Gedung Putih. Dua pria mengenakan kostum badut berwarna kuning terang berbentuk burung kenari berdiri di tengah kerumunan mahasiswa.

Ketika pemungutan suara senat mahasiswa mengenai resolusi boikot Israel sedang berlangsung, si “burung kenari” berteriak di depan muka seorang mahasiswi Yahudi yang mendukung Palestina: “Tidak ada rahasia di sini. Kami akan tahu pilihanmu, dan kami akan bertindak!”

Itu bukan gertakan sambal. Di belakang badut-badut itu berdiri jaringan raksasa. Investigasi menunjukkan bahwa operasional harian Canary Mission digerakkan dari sebuah organisasi nirlaba misterius di Israel bernama Megamot Shalom, yang didirikan oleh alumni jaringan Yeshiva ortodoks radikal.

Mereka bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Israel untuk menyaring mahasiswa-mahasiswa Barat, memberi mereka beasiswa, lalu memulangkan mereka ke AS sebagai agen penekan.

Dari Layar Ponsel ke Sel Karantina

Bagi para aktivis yang masuk dalam radar, teror itu nyata. Ceritanya selalu mirip: diawali dengan pesan ancaman pembunuhan di kotak masuk Instagram, disusul panggilan telepon dari bagian personalia (HRD) tempat mereka bekerja yang menyatakan kontrak mereka diputus sepihak.

Lara Alqasem, seorang mahasiswi warga negara AS keturunan Palestina, merasakan langsung dinginnya jeruji besi akibat situs ini. Pada 2018, saat ia mendarat di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, untuk menempuh studi magister di Hebrew University, ia langsung diseret ke ruang interogasi.

Polisi perbatasan tidak menggunakan dokumen intelijen resmi untuk menahannya, melainkan membuka lembar cetak (print-out) profil Lara yang diambil dari situs Canary Mission, lengkap dengan tangkapan layar cuitan lamanya di universitas asal.

“Strategi ini sangat efektif,” kata Jacob Baime, mantan Direktur Eksekutif Israel Allies Coalition di kampus-kampus Amerika, dengan nada jemawa dalam sebuah konferensi internal. “Tujuan kami adalah membuat mereka ketakutan, memaksa mereka menghabiskan waktu dan uang untuk membela diri dan membersihkan nama mereka. Dengan begitu, mereka tidak punya waktu lagi untuk menyerang Israel.”

Perang Urat Saraf Jangka Panjang

Kini, pertarungan memasuki babak baru yang lebih sistematis lewat apa yang disebut “Project Esther”. Cetak biru yang disusun oleh Heritage Foundation (lembaga pemikir berpengaruh di Washington) ini bertujuan merancang perangkat hukum nasional untuk mengkriminalisasi gerakan boikot, mencabut hak akademik mahasiswa pro-Palestina, dan mengusir mereka dari ruang publik.

Bagi mahasiswa dan warga Palestina di AS, lanskap pasca-pemilu Amerika saat ini adalah medan yang penuh ranjau. Di bawah bayang-bayang rezim yang condong pada deportasi massal, lembaga seperti ICE tak lagi melihat aktivis Palestina sebagai warga negara yang sedang menyuarakan hak berpendapat, melainkan sebagai “imigran penyusup” yang harus dibersihkan demi menjaga kesucian relasi Washington-Tel Aviv.

Namun, sejarah mencatat: makin keras tekanan hidrolik kekuasaan menekan, makin solid perlawanan di akar rumput bersemi. Canary Mission mungkin berhasil menghancurkan beberapa karier masa depan mahasiswa, tapi mereka gagal membunuh gagasan pembelaan kemanusiaan yang telanjur menjalar di lorong-lorong kampus Ivy League.

Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here