RAMALLAH — Deru mesin buldoser kembali memecah kesunyian di utara kota tua Jericho. Hari itu, sejumlah alat berat milik kelompok pemukim ilegal Yahudi mulai menggaruk tanah-tanah subur di dekat Desa Al-Auja, Tepi Barat yang diduduki. Rekaman video amatir yang viral di ceruk media sosial Palestina memperlihatkan aktivitas pembukaan lahan secara masif. Ini bukan proyek infrastruktur biasa, melainkan pembangunan awal dari sebuah pos pemukiman baru (outpost).

Bagi publik Palestina dan aktivis hak asasi manusia, gerak maju buldoser-buldoser ini adalah lonceng kematian bagi eksistensi warga lokal. Langkah sepihak tersebut langsung memicu gelombang kecaman, memperparah ketegangan di wilayah Lembah Yordan (Jordan Valley) yang terus dikuliti dari hari ke hari.

Modus Gembala di Atas Konservasi

Pengawas Umum Organisasi Hak Asasi Manusia “Al-Baydar”, Hassan Mlehat, mengonfirmasi bahwa sekelompok besar pemukim radikal datang dengan peralatan lengkap untuk memaksakan fakta kolonial baru di lapangan. Menurut catatan Al-Baydar, wilayah Al-Auja kini sudah dikepung oleh sedikitnya tujuh pos pemukiman pastoral atau penggembalaan (pastoral outposts).

Modus ini dikenal cerdik sekaligus culas: kelompok pemukim membawa hewan ternak ke lahan-lahan komunal Palestina, mengklaimnya secara sepihak, lalu menggunakan senjata untuk mengusir peternak lokal.

“Pos-pos pastoral ini adalah perkakas utama Israel hari ini untuk mencaplok tanah secara perlahan. Mereka mempersempit ruang gerak warga, memutus urat nadi ekonomi mereka di Lembah Yordan, sampai akhirnya warga lokal pergi dengan sendirinya,” kata Mlehat kepada Kantor Berita Wafa.

Ironinya, kawasan Al-Auja secara historis bukan tanah kosong tak bertuan. Nama desa ini melekat pada mata air legendaris, Naba’ al-Auja, yang mengalir di tengah kawasan yang status hukumnya merupakan cagar alam (nature reserve). Hulu air inilah yang selama berabad-abad menarik komunitas badui Palestina untuk menetap dan menggantungkan hidup di sana.

Kini, status cagar alam itu hanya berlaku sebagai tameng hukum bagi otoritas pendudukan untuk melarang aktivitas warga Palestina, sementara mata memejam erat ketika kelompok pemukim Yahudi merangsek masuk membawa buldoser.

Perang Geografis Membakar Amarah

Langkah agresif di Jericho ini dibaca sebagai bagian dari desain besar integrasi wilayah Tepi Barat ke dalam yurisdiksi penuh Tel Aviv. Aksi pencaplokan ini bertujuan membuat kantong-kantong pemukiman yang saling terhubung, sekaligus memutus kontinuitas geografis wilayah Palestina.

Faksi perlawanan Islam Hamas segera bereaksi keras atas situasi di Al-Auja. Melalui pernyataan tertulis di kanal resmi Telegram, tokoh senior Hamas, Mahmoud Mardawi, menyebut pembangunan pos liar ini sebagai eskalasi berbahaya yang menantang segala bentuk kecaman diplomatik dunia internasional.

“Israel sedang menggunakan hukum rimba: memaksakan realitas baru lewat moncong senjata dan kekuatan buldoser. Tapi perlu dicatat, rekayasa geografis ini tidak akan pernah mengubah identitas asli tanah Palestina,” tegas Mardawi.

Ia juga menyerukan mobilisasi massa agar warga Palestina mempertebal kehadiran fisik mereka di titik-titik yang menjadi target penggusuran. Baginya, bertahan di atas tanah sengketa adalah satu-satunya benteng tersisa yang bisa merusak kalkulasi politik pendudukan.

Melawan Konsensus Dunia

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam beberapa tahun terakhir, laju pemukiman ilegal Israel bergerak dalam gigi akselerasi tertinggi. Hampir tidak ada jeda bagi pengosongan lahan, baik di perbukitan maupun di area lembah hijau.

Padahal, secara legal-formal, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama mayoritas komunitas internasional telah berulang kali menegaskan bahwa seluruh komplek pemukiman Yahudi di atas tanah hasil caplokan Perang 1967 adalah ilegal dan menabrak Hukum Humaniter Internasional, khususnya Konvensi Jenewa Keempat.

Namun di bawah bayang-bayang politik global yang impoten, hukum internasional di Tepi Barat tak lebih dari sekadar tumpukan kertas di atas meja-meja sidang New York. Di lapangan, yang berlaku tetaplah hukum besi: siapa yang memegang kemudi buldoser, dialah yang mendikte peta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here