GAZA – Nur Abu Sam’an lahir tiga jam sebelum dentum pertama genosida pada Oktober 2023. Ia tak sempat mengenal tenang. Di hari keduanya menghirup udara dunia, rudal Israel menghantam sekitar tempat tinggalnya. Bukan hanya ledakan yang datang, tapi kabut gas beracun yang menyesakkan paru-paru mungilnya.

Samar Hammad, sang ibu, mengisahkan detik-detik saat wajah bayinya mendadak membiru, mata mendelik ke belakang, dan tubuhnya lunglai. Di Rumah Sakit Anak Al-Nasr, vonis dokter jatuh seperti palu hakim, gas beracun telah merusak sistem saraf Nur. Ia divonis lumpuh total.

“Dia mati, tapi mesin-mesin ini yang membuatnya seolah hidup,” ujar dokter saat itu.

Namun, Nur adalah “keajaiban yang tragis”. Ia menjadi satu-satunya bayi yang selamat dari unit perawatan intensif (ICU) Al-Nasr sebelum militer Israel merangsek masuk. Rekan-rekan senasibnya (bayi-bayi prematur di inkubator yang tak sempat dievakuasi) ditemukan berminggu-minggu kemudian dalam kondisi membusuk di atas tempat tidur rumah sakit setelah mesin penyambung nyawa diputus paksa.

Cacat yang Dipicu Awan Beracun

Kisah Nur adalah satu dari ribuan anomali medis yang kini menghantui Gaza. Di sudut lain, Warda al-Jarru menggendong Misk, bayi enam bulan yang lahir tanpa persendian normal. Tangan dan kakinya melengkung kaku, sebuah anomali fisik yang menurut para medis berkaitan erat dengan paparan gas kimia selama masa kehamilan.

Misk seharusnya lahir berdua. Namun, kembarannya tewas di dalam rahim akibat stres perang dan polusi zat kimia dari ledakan yang terus-menerus dihirup sang ibu. Di Gaza yang fasilitas medisnya telah lumat, tak ada harapan bagi Misk.

“Bahkan mengganti popoknya saja membuat dia menjerit kesakitan karena tulang pinggulnya yang tidak sempurna,” ujar Warda dengan tatapan kosong.

Topeng Siksaan Muhammad

Di sebuah sekolah pengungsian yang sesak, Ramiz Abu Hajila sedang bertarung dengan Muhammad, putranya yang baru berusia dua tahun. Muhammad harus mengenakan topeng kompresi silikon selama 20 jam sehari untuk menekan jaringan parut akibat luka bakar derajat tiga yang menutupi 18 persen tubuhnya.

Juli 2025, sekolah tempat mereka berlindung dibom. Empat belas anggota keluarga Ramiz tewas seketika. Muhammad selamat, namun wajah dan dadanya melepuh. Kini, topeng itu adalah penyelamat sekaligus penyiksanya.

Karet ketat yang menutup mulutnya menghambat perkembangan bicara Muhammad. Ia tumbuh menjadi balita yang gagap, yang hanya bisa menangis saat melihat botol susunya karena tahu ia harus berjuang membuka mulut di balik tekanan masker.

“Setiap pagi dia bangun, kami memberinya makan, lalu bersiap untuk jam-jam penyiksaan berikutnya,” kata Ramiz. Di tengah sanitasi kamp pengungsian yang buruk, ancaman infeksi pada luka bakar Muhammad menjadi hantu harian.

[Tabel: Inventaris Cedera Anak-Anak Gaza (Sampel Kasus 2026)]

Nama AnakUsiaDiagnosis / KondisiPenyebab Utama
Nur2,5 ThnKelumpuhan Saraf & Atrofi OtotInhalasi Gas Beracun (Okt 2023).
Misk6 BulanDeformitas Tulang & Tanpa SendiPaparan Zat Kimia masa kehamilan.
Muhammad2 ThnLuka Bakar Derajat 3 (18%)Serangan Udara di Sekolah Pengungsi.

Masa Depan yang Tergadai

Otoritas kesehatan di Gaza mengakui bahwa mereka kewalahan. Kasus seperti Nur dan Misk memerlukan bedah saraf dan ortopedi tingkat lanjut yang mustahil dilakukan di bawah blokade. Bagi anak-anak ini, rumah sakit bukan lagi tempat penyembuhan, melainkan halte antara hidup dan mati.

“Nur bukan hanya lumpuh, dia kehilangan masa kanak-kanaknya,” ujar Utsman, ayah Nur. Dengan kemampuan gerak yang hanya meningkat dari 1 persen ke 20 persen setelah terapi fisik bertahun-tahun, masa depannya kini bergantung pada izin evakuasi medis keluar Gaza yang jarang sekali terbit.

Ini bukan lagi soal perang melawan milisi; ini adalah penghancuran cetak biru manusia. Anak-anak yang selamat dari ledakan kini harus membawa “bom waktu” di dalam tubuh mereka dalam bentuk cacat permanen, kerusakan otak, dan trauma yang tak tersentuh oleh obat-obatan apa pun yang tersisa di Gaza.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here