Delapan belas bulan telah berlalu sejak Dr. Hossam Abu Safiya menukar jas putihnya dengan baju tahanan. Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan ini kini terpuruk dalam sel Israel, menghadapi kelaparan sistematis dan isolasi medis, tepat di jantung sistem hukum yang melabelinya sebagai “kombatan ilegal”.
Bagi keluarga Abu Safiya, setiap dering telepon kini terasa seperti lonceng kematian. Elias, putra sang dokter, bicara dengan nada getir kepada Al Jazeera tentang ayahnya yang kini berusia 52 tahun. “Kami hidup dalam kecemasan abadi. Setiap ada kabar yang datang, kami merasa itu adalah kabar terakhir tentang ayah,” ujarnya.
Dr. Hossam bukan sekadar dokter biasa. Di mata dunia, ia adalah martir yang hidup. Pada fajar 27 Desember 2024, terekam sebuah fragmen yang mustahil dilupakan: sang dokter, dengan jubah putih yang kontras di tengah rongsokan beton, berjalan tenang menghampiri moncong tank Israel yang mengepung RS Kamal Adwan. Ia menyerahkan diri secara sukarela, sebuah upaya terakhir untuk mencegah militer merangsek masuk dan membantai pasien di dalamnya.
Namun, pengabdian itu dibalas dengan jeruji.
Labirin “Kombatan Tidak Sah”
Sejak hari itu, Dr. Hossam raib dalam labirin hukum Israel. Ia sempat dilarikan ke pusat penahanan Sde Teiman yang tersohor angker di Gurun Negev, sebelum akhirnya dipindahkan ke Penjara Ofer. Status hukumnya? Mengambang.
Nasser Oudeh, pengacara Dr. Hossam, bersama organisasi Physicians for Human Rights, mengonfirmasi bahwa sang dokter—bersama 375 tenaga medis lainnya—ditahan di bawah payung UU “Kombatan Tidak Sah” (Unlawful Combatants Law). Ini adalah instrumen hukum yang memungkinkan Israel menyekap seseorang tanpa dakwaan, tanpa sidang, dan tanpa batas waktu yang jelas.
“Ayah saya tidak punya catatan kriminal, baik di Kejaksaan maupun Mahkamah Agung Israel,” tegas Elias. “Kejahatannya hanya satu: mencoba menyelamatkan nyawa anak-anak.”
Kelaparan dan “Teror Psikologis”
Kondisi Dr. Hossam dilaporkan memburuk drastis. Elias menyebut ayahnya menjadi sasaran kelaparan sistematis. Setelah 90 hari tanpa akses apa pun, barulah ia diizinkan bertemu pengacara—itu pun setelah desakan internasional yang luar biasa.
Dunia sempat terhenyak pada Februari 2025, saat media Israel menyiarkan rekaman Dr. Hossam dalam kondisi terborgol di dalam penjara. Klip pendek itu memicu gelombang kecaman global. Bagi banyak pihak, video tersebut bukan sekadar laporan berita, melainkan “teror psikologis” yang dirancang untuk mempermalukan sang dokter dan meruntuhkan moral warga Palestina di Gaza Utara.
Benteng Terakhir yang Runtuh
Kisah Dr. Hossam adalah puncak dari tragedi panjang RS Kamal Adwan. Sebelum penangkapannya, rumah sakit ini adalah napas terakhir bagi warga Gaza Utara.
Tragedi pribadi pun menghantamnya bertubi-tubi. Pada 26 Oktober 2024, putranya sendiri, Ibrahim, gugur dalam pemboman di sekitar rumah sakit. Dr. Hossam juga sempat terluka dalam serangan berulang ke fasilitas medis tersebut. Namun, ia menolak mundur. Ia tetap bertahan mendampingi anak-anak yang meregang nyawa, hingga militer Israel benar-benar membakar sebagian rumah sakit dan menyeretnya keluar.
Kini, masa penahanan Dr. Hossam baru saja diperpanjang enam bulan lagi pada Oktober 2025. Tanpa ada dakwaan yang jelas, ia tetap menjadi penghuni sel yang gelap, sementara Gaza Utara kehilangan salah satu pelindung medis terbaiknya.










