BEIT LAHIA – 11 Oktober 2025 seharusnya menjadi titik balik ketika mesiu berhenti bicara. Namun, enam bulan berlalu, aroma kematian justru kian menyengat di utara Gaza. Rabu malam (22/4), sebuah drone militer Israel kembali memuntahkan rudal ke kerumunan warga di dekat sebuah masjid di proyek Beit Lahia. Lima nyawa melayang seketika, tiga di antaranya adalah anak-anak.
Serangan udara itu bukan insiden tunggal. Di saat yang sama, artileri berat Israel menghujani wilayah timur Beit Lahia. Serpihan mortir (shrapnel) menghujam atap-atap rumah warga di sepanjang jalan utama, mengubah ruang tamu yang dianggap aman menjadi jebakan maut.
Statistik yang Meludahi Perjanjian
Sejak genosida ini meletus pada 7 Oktober 2023, angka-angka yang dirilis otoritas kesehatan Gaza tak lagi mengejutkan, tapi tetap mengerikan, 72.562 jiwa syahid dan 172.320 orang luka-luka.
Namun, data pasca-gencatan senjata adalah yang paling “berbicara”. Sejak kesepakatan damai diteken pada Oktober tahun lalu, 786 orang justru tewas dan 2.217 lainnya terluka. Angka ini mencerminkan anomali besar: bagaimana bisa sebuah periode yang disebut “gencatan senjata” justru menelan hampir seribu nyawa dalam waktu singkat?
Pola Pelanggaran yang Terencana
Realita di lapangan menunjukkan pola yang konsisten. Israel tak lagi melakukan invasi skala besar, melainkan serangan presisi dan artileri sporadis yang menyasar kerumunan sipil.
- Di Jabalia: Seorang warga syahid diterjang rudal saat mencoba mengais sisa-sisa reruntuhan rumahnya di Jalan Gaza Lama.
- Di Al-Bureij: Empat warga roboh diterjang peluru tajam tentara Israel.
- Di Khan Younis: Sebuah drone kembali membidik kawasan Bundaran Bani Suhaila, menyisakan korban dengan kondisi kritis.
Kuburan di Balik Puing
Krisis kemanusiaan ini diperparah oleh taktik penghalangan evakuasi. Petugas medis di lapangan mengaku seringkali tak berdaya. “Banyak korban masih tertimbun reruntuhan atau tergeletak di jalanan, tapi kami tidak bisa mendekat karena drone terus berputar dan militer sengaja memblokade jalur evakuasi,” ujar seorang sumber medis kepada kami.
Hingga laporan ini disusun, sebanyak 761 jenazah baru berhasil dievakuasi dari bawah beton-beton hancur sejak Oktober lalu. Masih ada ribuan lainnya yang terjebak dalam kegelapan puing, tak terjangkau oleh ambulans yang dilarang melintas.
Pelanggaran-pelanggaran ini mengirimkan pesan yang sangat terang dari Tel Aviv ke dunia internasional: gencatan senjata hanyalah jeda untuk mengisi ulang amunisi, bukan untuk menghentikan pendudukan.










