Di seluruh wilayah Jalur Gaza, dari titik distribusi makanan hingga pos pengisian air dan layanan kebutuhan dasar lainnya, antrean panjang menjadi pemandangan yang terus berulang. Ia bukan lagi sekadar cara untuk mendapatkan barang yang langka, melainkan telah berubah menjadi bagian dari rutinitas harian yang tak terhindarkan sejak pagi hingga hari berganti.

Sejak eskalasi serangan Israel dan pengetatan blokade, warga dari berbagai keluarga terpaksa menghabiskan berjam-jam dalam antrean panjang demi mendapatkan kebutuhan paling dasar untuk bertahan hidup.

Antrean untuk semua kebutuhan dasar

“Abu Al-Baraa”, seorang ayah lima anak yang mengungsi dari Kamp Jabalia ke Kamp Nuseirat di Gaza tengah, berdiri dalam antrean panjang untuk mengisi galon air bersih. Ia mengatakan, mereka sudah terbiasa menunggu sejak pagi tanpa kepastian kapan giliran akan tiba.

“Kami berdiri sejak pagi buta. Tidak ada yang tahu kapan air akan didapat. Antrean sudah menjadi bagian dari rutinitas hidup kami,” ujarnya.

Di antrean lain, seorang guru bahasa Arab bernama “Abu Mus’ab” terlihat menunggu lebih dari 200 meter di depan pusat distribusi bantuan pangan milik Program Pangan Dunia (WFP) di kawasan Nuseirat. Ia menegaskan bahwa hidup di Gaza kini hampir selalu berkaitan dengan antrean.

“Antrean dan menunggu adalah kunci untuk mendapatkan apa pun di Gaza selama perang dan sampai sekarang. Tanpa berdiri berjam-jam di antrean yang padat, kamu tidak bisa mendapatkan apa-apa,” katanya.

Tak jauh dari kerumunan itu, seorang lansia bernama “Abu Hamada” tampak duduk kelelahan. Ia mengaku tidak sanggup berdiri lama di antrean, sehingga harus mengandalkan anaknya untuk menggantikan posisinya hingga mendekati waktu pengambilan paket bantuan.

“Saya tetap datang, tapi tidak bisa berdiri lama. Anak saya yang antre, lalu ketika sudah dekat giliran, saya berdiri untuk menerima bantuan,” ujarnya.

Di antrean lain untuk mendapatkan roti, seorang pemuda berusia dua puluhan, “Muhammad”, menyampaikan kesederhanaan yang pahit dari situasi yang mereka hadapi.

“Kami berdiri berjam-jam untuk makan, dan berdiri berjam-jam untuk minum. Ini bukan sekadar menunggu, ini hidup kami sekarang,” katanya.

Dampak psikologis dan sosial yang semakin dalam

Fenomena antrean panjang ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga meninggalkan tekanan psikologis yang kuat. Ketidakpastian, kecemasan untuk mendapatkan kebutuhan dasar, serta tertundanya aktivitas sekolah dan pekerjaan, menjadi beban harian bagi warga.

Para ahli psikologi menilai situasi berulang seperti ini dapat memicu rasa frustrasi kolektif dan hilangnya rasa aman dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Sejumlah peneliti juga menekankan bahwa dampak antrean panjang dalam situasi penuh tekanan dan ketidakpastian tidak berhenti pada kelelahan fisik. Ia meninggalkan jejak psikologis yang lebih dalam.

Profesor psikologi dari Universitas California sekaligus pemimpin riset stres dan penantian, Kate Sweeny, menjelaskan bahwa menunggu dalam kondisi tidak pasti meningkatkan kadar stres dan kecemasan.

Menurutnya, otak manusia cenderung mencoba memprediksi hal yang tidak diketahui, dan ketika tidak ada kepastian, kondisi itu dipersepsikan sebagai ancaman. Situasi ini dikenal sebagai kecemasan antisipatif, ketika ketidakpastian waktu tunggu itu sendiri menjadi sumber tekanan pada sistem saraf.

Dalam perspektif lain, pakar psikologi antrean dan manajemen waktu tunggu, David Maister, menekankan bahwa yang paling membebani secara psikologis bukan sekadar lamanya menunggu, tetapi ketidakjelasan kapan penantian itu akan berakhir. Kondisi ini membuat seseorang merasa tidak berdaya dan kehilangan kontrol, yang pada akhirnya meningkatkan kecemasan dan frustrasi.

Sementara itu, dokter spesialis kecemasan dan gangguan stres pascatrauma, Jordan Asmundson, menilai paparan stres berkepanjangan saat seseorang harus menunggu untuk kebutuhan dasar dapat menyerupai respons kecemasan kronis. Dalam jangka panjang, otak dapat mengasosiasikan aktivitas menunggu dengan kondisi bahaya, yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kecemasan berkepanjangan di tengah masyarakat.

Cermin krisis kemanusiaan yang lebih luas

Rangkaian pandangan ilmiah tersebut memperkuat satu kesimpulan: antrean panjang di Gaza bukan sekadar persoalan logistik atau ketidaknyamanan harian. Ia telah menjadi tekanan psikologis yang terus menumpuk, mengikis rasa aman, dan membentuk pola hidup yang penuh ketidakpastian.

Pada akhirnya, antrean di Gaza tidak bisa dipandang sebagai fenomena biasa. Ia adalah cermin dari krisis kemanusiaan yang lebih luas, yang berkelindan antara kebijakan blokade, situasi politik, dan keterbatasan akses kebutuhan dasar. Setiap antrean menjadi semacam ujian bertahan hidup, dan setiap jam menunggu menjadi penanda betapa dalamnya krisis yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here