KOTA GAZA – Di sepanjang garis pantai Jalur Gaza, tidak ada lagi deru mesin kapal yang membelah ombak. Bunyi itu telah lama digantikan oleh desing peluru senapan otomatis yang dilesakkan secara mimbres dari heri-hari zodiak perang Israel.
Di atas hamparan pasir yang gersang, perahu-perahu motor tidak lagi tampak bersiap untuk melaut; mereka berjejer kaku, gosong, dan koyak, laiknya barisan nisan yang merekam matinya sebuah ruang mata pencarian.
Jaring yang robek besar, lambung kapal yang pecah, serta hasakah (sampan dayung kecil) yang dibiarkan telantar menjadi pemandangan harian. Namun, luka paling dalam dari komunitas pesisir ini tidak terletak pada rongsokan kayu dan besi tersebut.
Luka itu menganga pada suara para nelayan yang parau karena kerinduan akan laut lepas, sebuah kerinduan yang kini dikubur hidup-hidup oleh kemiskinan ekstrem yang membentang sewarna cakrawala.
“Laut itu ada musimnya… tapi bagi kami, tidak ada lagi musim yang tersisa,” ujar Abed Jarbou, seorang nelayan kawakan dari kamp pengungsian Shati, melukiskan nasib getir profesinya yang kini berada di fase sakaratul maut, Sabtu, 30 Mei 2026.
“Dulu, sebelum perang, saya memimpin kapal besar yang sibuk. Anak-anak saya dan beberapa buruh bekerja di bawah saya. Sekarang, roda berputar drastis. Berdiri sendirian di tepi air, membawa pulang satu ekor ikan kecil saja sudah mukjizat. Itu pun tidak cukup untuk mengganjal perut keluarga.”
Saat ditemui, Jarbou sedang duduk beralaskan pasir, jemarinya yang legam mencoba menyatukan kembali anyaman jaringnya yang robek. Ia tidak menggunakan jarum rajut khusus, melainkan sebilah kait plastik bekas. Krisis suku cadang di Gaza telah mencapai tahap di mana barang sepele bisa berharga ribuan dolar di pasar gelap karena blokade total militer, itu pun jika barangnya tersedia.
Warisan Leluhur dan Bau Maut di Laut Lepas
Bagi masyarakat pesisir Gaza, melaut bukan sekadar pekerjaan mencari makan, melainkan identitas kultural yang diwariskan turun-temurun. Atif Abu Riyala, nelayan lain yang telah menghabiskan 13 tahun hidupnya di atas ombak, kini harus menelan pil pahit lantaran sudah dua tahun tidak bisa menyentuh laut dalam. Bagi Atif, laut kini tidak lagi berbau garam dan ikan, melainkan amis darah.
“Kemarin, rekan saya ditembak mati tepat di depan mata saya. Tuhan masih menyelamatkan nyawa saya dari maut,” kata Abu Riyala dengan suara tercekat.
“Dari lima kapal yang saya miliki, empat dihancurkan total oleh jet tempur. Tersisa satu, itu pun dalam kondisi bocor. Saya tidak bisa memperbaikinya karena militer melarang masuknya paku, mesin, dan cairan fiberglass ke Gaza.”
Abu Riyala dan ribuan nelayan lainnya kini dikepung dari dua arah: batas wilayah tangkap yang ditekankan hingga nol mil laut oleh heri-hari patroli Israel, dan kemiskinan struktural yang merontokkan daya hidup mereka di darat.
Peta Kerusakan Infrastruktur Perikanan Jalur Gaza
- Fase I: Pembersihan Sektor Utara & Kota Gaza
Penghancuran Total Armada Sipil
Tingkat kehancuran kapal nelayan di Gaza Utara mencapai angka 100 persen, sementara di dermaga Kota Gaza mencatatkan kerusakan sebesar 95 persen akibat bombardemen laut. - Fase II: Kelumpuhan Wilayah Sektor Selatan
Operasi Militer Sektor Selatan
Penyusutan armada tangkap sebesar 80 persen melanda kawasan pantai di Provinsi Tengah, Khan Younis, hingga wilayah perbatasan Rafah. - Fase III: Penghancuran Gudang Alur Logistik
Peruntuhan Fasilitas Darat
Mesin penghancur meruntuhkan ruang penyimpanan alat dan jaring; meratakan 100 persen bangunan nelayan di Rafah dan 80 persen di Khan Younis.
Angka Manusia di Balik Amis Umpan
Data yang dihimpun oleh Serikat Nelayan Gaza menunjukkan bahwa apa yang terjadi di sepanjang pesisir bukan sekadar ekses perang, melainkan upaya sistematis untuk menghapus profesi ini dari akar sejarahnya.
Ketua Serikat Nelayan Gaza, Nizar Ayyash, menegaskan bahwa komunitasnya kini telah bergeser status menjadi kelompok masyarakat rentan yang mengalami bencana absolut (disaster-stricken class).
Berikut adalah neraca kerugian manusia dan fasilitas penunjang yang dialami oleh sektor perikanan Gaza sepanjang perang:
Nestapa para nelayan ini kian sempurna setelah fasilitas sosial mereka di darat turut dijarah dan dihancurkan. Di Deir al-Balah, sebuah proyek swadaya bernama “Maturity of Fishermen’s Wives” (Dapur Istri Nelayan) (sebuah usaha mikro berbasis komunitas yang mengolah hasil laut untuk menopang dapur keluarga saat suami mereka tidak bisa melaut) dilaporkan dibobol dan seluruh peralatannya dijarah habis.
Dengan hancurnya seluruh ekosistem perikanan dari hulu ke hilir, para pelaut Gaza kini benar-benar kehilangan pegangan. Mereka dipaksa menjadi penonton di tepi pantai mereka sendiri, menatap hamparan laut luas yang kaya akan ikan, namun tahu bahwa satu langkah kaki melewati batas ombak bisa berarti sebutir peluru bersarang di kepala.










