Serangan udara dan tembakan artileri kembali mengguncang Jalur Gaza. Pada Kamis dini hari, pasukan pendudukan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah wilayah yang disebut sebagai area penempatan pasukan mereka di berbagai penjuru Gaza.

Koresponden Al Jazeera melaporkan, artileri Israel menghantam wilayah timur Kota Khan Younis, selatan Gaza, tepat di kawasan yang menjadi titik konsentrasi pasukan pendudukan. Serangan serupa juga terjadi di Rafah, serta satu titik lain di timur Kota Gaza.

Pola serangan ini memperlihatkan intensitas operasi militer yang belum mereda, meski secara formal kedua pihak terikat dalam kesepakatan gencatan senjata. Di lapangan, dentuman meriam dan suara jet tempur justru menjadi penanda bahwa jeda konflik lebih menyerupai jeda taktis ketimbang penghentian permanen.

Sehari sebelumnya, sumber di Kompleks Medis Nasser mengumumkan dua warga Palestina syahid akibat tembakan pasukan pendudukan di dekat “garis kuning” di Bani Suheila, timur Khan Younis. Insiden ini menambah daftar korban yang terus bertambah bahkan di tengah status gencatan senjata.

Koresponden yang sama juga melaporkan bahwa militer Israel terus menghancurkan sisa-sisa rumah dan infrastruktur di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendalinya di berbagai bagian Gaza. Penghancuran ini berlangsung sistematis, menyasar bangunan yang masih berdiri setelah berbulan-bulan agresi.

Rangkaian operasi tersebut menjadi bagian dari pelanggaran berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Hingga Senin lalu, menurut data Kementerian Kesehatan di Gaza, sedikitnya 603 warga Palestina syahid dan 1.618 lainnya luka-luka sejak kesepakatan itu diberlakukan.

Fakta di lapangan menunjukkan jurang antara teks perjanjian dan realitas. Di atas kertas, gencatan senjata menjanjikan jeda kekerasan. Di Gaza, suara ledakan masih menjadi bahasa sehari-hari.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here