Saat malam menyelimuti Gaza, suhu ekstrem menguji ketahanan ratusan ribu warga yang tinggal di tenda-tenda darurat. Malam ini disebut sebagai yang terdingin tahun ini, dan menjadi ujian berat bagi tubuh dan jiwa mereka.
“Sepanjang malam, aku menempelkan tangan ke dinding plastik agar udara tidak langsung mengenai anak-anak. Rasanya dingin seperti menggigit jari-jari kami. Tenda ini tidak melindungi kami, kami hanya berusaha meyakinkan diri bahwa kami masih hidup,” kata Abu Khalil Siyam, 52 tahun, yang duduk meringkuk di tenda keluarganya.
Di tenda sempit di kamp Sanabel, Khan Younis, satu keluarga tujuh orang hanya memiliki dua selimut yang basah dan berat. “Aku membungkus bayi dengan pakaian, menutupi yang lain dengan satu selimut. Aku mengawasi dada mereka, apakah masih bergerak atau tidak. Aku tidak tidur sama sekali, ketakutan lebih besar dari lelah,” ungkap Um Yazan Sarour, 29 tahun.
Ketiadaan alas tidur membuat tanah dingin menembus tulang, memperparah sakit sendi terutama bagi lansia. Abu Ali Alwan, 63 tahun, yang mengungsi berbulan-bulan, mengatakan, “Aku meletakkan karton di punggung, tapi tidak cukup. Rasanya dingin menembus hingga ke tulang. Di rumahku dulu aku mengeluh dingin, tapi tidak pernah tahu tanah bisa begitu kejam.”
Tak ada listrik, bahan bakar, atau kayu bakar, warga terpaksa menyalakan api dari karton atau plastik meski berisiko. “Kami tahu asap beracun, tapi anak-anak menggigil. Kami memilih yang paling ringan dari dua keburukan: dingin atau asap,” ujar Medhat Al-Khatib, 24 tahun.
Malam-malam di Gaza kini penuh dengan kantuk terputus-putus, menunggu fajar sebagai keselamatan sementara. Saat pagi datang, wajah pucat, mata merah, dan tubuh lelah menjadi saksi nyata penderitaan warga di bawah blokade dan dinginnya musim dingin.
Sumber: Palestinian Information Center










