Rentetan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza kembali terjadi. Pada Kamis, tiga warga Palestina terluka akibat tembakan pasukan pendudukan Israel di wilayah utara Gaza. Salah satunya seorang anak berusia lima tahun yang kini berada dalam kondisi kritis.

Peristiwa itu terjadi di kota Beit Lahia, kawasan utara Gaza yang (menurut kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025) tidak termasuk wilayah yang berada di bawah kontrol sementara militer Israel.

Sumber medis di Gaza mengatakan anak tersebut mengalami luka serius setelah terkena tembakan langsung. Dua warga lainnya juga terluka setelah peluru mengenai kaki mereka. Keduanya dilaporkan mengalami luka sedang.

Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran lapangan yang terus terjadi sejak gencatan senjata diumumkan.

Artileri dan Helikopter Tempur

Di saat yang hampir bersamaan, artileri Israel kembali menggempur sejumlah kawasan di Gaza. Pada dini hari, tembakan artileri diarahkan ke wilayah timur Gaza City.

Serangan itu menyasar beberapa lingkungan padat penduduk, termasuk Al-Zeitoun, Shuja’iyya, dan Al-Tuffah. Di udara, helikopter tempur dilaporkan melepaskan tembakan secara intensif.

Serangan tidak berhenti di sana.

Artileri dan serangan udara juga menghantam wilayah tengah Gaza, termasuk daerah Juhor ad-Dik dan Kamp Pengungsi Bureij. Pesawat tempur Israel bahkan melancarkan serangan di dalam apa yang dikenal sebagai “garis kuning” di timur Khan Younis, zona yang sebelumnya ditetapkan sebagai batas dalam kesepakatan gencatan senjata.

Di selatan, tembakan artileri juga menghantam kawasan Al-Mawasi di barat laut Rafah.

Sehari sebelumnya, Rabu, serangan udara Israel juga menghantam sebuah kamp yang menampung warga terlantar di Gaza.

Korban Terus Bertambah

Di tengah serangkaian serangan tersebut, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza merilis pembaruan data korban.

Dalam pernyataan statistik yang dikeluarkan Kamis, kementerian itu menyebut jumlah korban syahid akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023 telah mencapai 72.136 orang. Sementara jumlah korban luka tercatat 171.839 orang.

Kementerian juga mencatat bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, pelanggaran Israel telah menyebabkan sedikitnya 651 orang syahid dan 1.741 lainnya terluka.

Data resmi juga menunjukkan bahwa tim penyelamat telah mengevakuasi sedikitnya 756 jenazah dari bawah reruntuhan sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku.

Gaza yang Hancur

Perang yang berlangsung hampir dua tahun itu meninggalkan kerusakan yang luas di Gaza. Serangan militer Israel—yang berlangsung dengan dukungan Amerika Serikat—disebut telah menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.

Dua Tahanan Gaza Dibebaskan

Di tengah situasi yang masih tegang, otoritas Israel pada Kamis juga membebaskan dua tahanan asal Gaza.

Keduanya dipindahkan oleh tim Komite Internasional Palang Merah melalui Perlintasan Kerem Shalom menuju Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di wilayah tengah Gaza untuk menjalani perawatan.

Namun pembebasan dua orang ini nyaris tak mengubah gambaran besar. Lebih dari 9.300 warga Palestina masih berada di penjara Israel.

Berbagai laporan organisasi hak asasi manusia dan kesaksian mantan tahanan menyebut para tahanan menghadapi penyiksaan, pengabaian medis, serta kekurangan makanan selama masa penahanan.

Menurut Komite Internasional Palang Merah, kondisi tersebut jauh dari standar kemanusiaan minimum. Organisasi itu menyatakan masih berupaya melanjutkan kembali kunjungan kemanusiaan ke para tahanan Palestina di penjara Israel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here