Universitas-universitas di Palestina kian berada di bawah tekanan seiring meningkatnya tindakan represif pasukan pendudukan Israel. Eskalasi itu terlihat dari penggerebekan berulang ke area kampus, penggunaan peluru tajam, granat kejut, dan gas air mata, yang menyebabkan sejumlah mahasiswa terluka serta mengganggu proses belajar-mengajar.
Selama bertahun-tahun, institusi pendidikan tinggi Palestina menghadapi berbagai pembatasan, mulai dari penutupan kampus, pos pemeriksaan, hingga penggerebekan mendadak. Pihak universitas menegaskan, langkah-langkah tersebut berdampak langsung pada hak mahasiswa untuk mengakses pendidikan dan menjaga keberlanjutan kegiatan akademik.
Penggerebekan kampus kini bukan lagi insiden terpisah. Di sejumlah universitas, area kampus berubah menjadi lokasi pemeriksaan dan interogasi di tempat. Padahal, kampus secara hukum dan akademik memiliki status perlindungan yang diakui secara internasional.
Reporter Al Jazeera melaporkan, pasukan Israel baru-baru ini menggerebek Universitas Birzeit dengan menggunakan peluru tajam dan gas air mata. Akibatnya, 11 mahasiswa dilaporkan terluka di dalam area kampus. “Penggerebekan dilakukan tanpa peringatan dan mengubah kampus menjadi arena bentrokan, padahal seharusnya universitas menjadi ruang aman untuk pendidikan,” ujarnya.
Seorang mahasiswa, Lian Nabhan, menggambarkan situasi mencekam saat penggerebekan terjadi. “Pasukan pendudukan masuk dalam kondisi siaga penuh dan melemparkan granat kejut serta gas ke dalam kampus. Kami tidak bisa keluar karena kampus dikepung sepenuhnya,” katanya.
Penggerebekan Berulang
Peristiwa di Birzeit bukan kasus tunggal. Menurut laporan Al Jazeera, Universitas Al-Quds juga kerap mengalami penggerebekan dan penembakan di sekitar kampus. Situasi ini diikuti meningkatnya jumlah mahasiswa dan tenaga pendidikan yang tewas, terluka, atau ditangkap, meski area kampus memiliki perlindungan akademik yang diakui secara global.
Di Hebron, seorang mahasiswa Universitas Politeknik Palestina, Tareq Amer, dilaporkan telah ditangkap tiga kali selama masa studinya, seluruhnya terjadi setelah 7 Oktober 2023. Reporter Al Jazeera menyebut, pasukan Israel mengubah area kampus Politeknik Palestina dan Universitas Hebron menjadi pusat pemeriksaan lapangan, disertai ancaman penghentian aktivitas mahasiswa. Dampaknya, proses akademik terganggu dan kelulusan mahasiswa tertunda.
Dekan Bidang Kemahasiswaan Universitas Birzeit, Ghassan Barghouti, menilai penargetan kampus merupakan bagian dari kebijakan Israel yang lebih luas terhadap sektor-sektor vital Palestina. “Penggerebekan terakhir ini merupakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dilakukan secara terbuka pada jam perkuliahan, dengan pasukan bersenjata lengkap memasuki area kampus,” ujarnya.
Barghouti menambahkan, kebijakan tersebut mencakup penangkapan, pelukaan, penggerebekan, hingga pembatasan masuknya tenaga ahli dan peralatan pendidikan. “Tujuannya jelas, melumpuhkan proses akademik dan melemahkan pendidikan tinggi Palestina,” katanya.
Sumber: Al Jazeera










