Di sebuah sudut kamp pengungsian yang porak-poranda, sekelompok seniman muda Gaza menolak mati. Lewat pameran bertajuk “Sisa-sisa Keselamatan”, mereka membuktikan bahwa meski rumah boleh lumat jadi debu, imajinasi adalah benteng yang tak bisa diruntuhkan.
Di Gaza, warna abu-abu adalah menu harian. Ia datang dari beton yang hancur, debu mesiu, dan langit yang pekat oleh jelaga serangan udara. Namun, di tengah kepungan rona kematian itu, sebuah studio di kamp pengungsian Al-Bureij mendadak menjadi anomali. Di sana, merah, biru, dan kuning kembali berdenyut.
Studio itu milik Ghanem al-Den, seorang perupa senior. Bangunannya selamat secara ajaib dari gempuran militer Israel yang telah meratakan sebagian besar pusat kebudayaan di kantong wilayah itu. Di sinilah, 64 seniman muda menggelar pameran bertajuk “Ma Tarakathu al-Najah”—Sisa-sisa Keselamatan.
“Pameran ini hadir untuk mengumumkan bahwa seni masih bernafas,” ujar Al-Den kepada koresponden Al Jazeera. “Kuas sanggup melawan maut. Gaza, meski babak belur, belum jatuh.”
Lahir di Bawah Dentuman
Pameran ini bukan hasil kerja di ruang yang tenang. Ia adalah buah dari bengkel kerja bertajuk “Qitha’ Mish Bil Qa'” (Gaza Takkan Terpuruk) yang berlangsung selama berbulan-bulan di bawah ancaman bom. Dimulai dari inisiatif kecil 15 orang, kini 150 lukisan tergantung di dinding-dinding yang retak akibat getaran ledakan.
Bagi para seniman muda ini, peralatan lukis adalah barang langka yang harganya selangit. Sirin Samra (23), salah satu peserta, bercerita bagaimana ia harus berbagi cat dan kuas dengan rekannya karena blokade di perbatasan. Namun, keterbatasan itu justru melahirkan kedalaman.
Sirin melukis untuk bertahan dari depresi. Tunangannya, Abdul Rahman al-Muzayyin, tewas terkena serpihan peluru kendali tahun lalu. Salah satu karyanya yang paling menyayat berjudul “Beban Menanti”. Lukisan itu menggambarkan kekosongan yang ditinggalkan kekasihnya, sebuah penantian yang hanya akan berujung di pintu surga.
“Seni adalah nafas untuk membuang energi negatif,” kata Sirin. Ia kini mencoba tegak kembali, menuntaskan mimpi mendiang tunangannya untuk menghafal Al-Qur’an sambil terus melukis duka perempuan-perempuan Gaza.
Arang, Darah, dan Wajah Tanpa Nama
Di sudut lain, Nafez al-Azar (24) sibuk menjelaskan makna garis-garis di kanvasnya kepada pengunjung. Perang telah merenggut rumah dan studionya di Khan Younis, mengubur 300 karya seninya di bawah puing. Baginya, melukis kembali adalah cara untuk memungut kepingan diri yang berserakan.
Kesan brutal juga tertangkap dari karya Bisan al-Amisi (20). Lukisannya yang diberi judul “Serpihan” didominasi warna hitam arang dan merah darah. “Perang ini gila,” tuturnya. “Kami hanya melihat darah dan hanya mendengar suara ledakan. Lukisan ini adalah cara saya mengeluarkan bau busuk perang itu dari kepala.”
Ada pula Hussam Abu Makhada (22), seorang perawat yang setiap hari berhadapan dengan luka fisik di rumah sakit. Karyanya, “Hilang Nyawa”, hanya menggunakan arang untuk menggambarkan wajah tanpa fitur—sebuah penghormatan bagi rekan sejawat dan warga yang tewas saat mengantre bantuan makanan.
Mimpi Kecil di Balik Kursi Plastik
Namun, di tengah narasi duka yang pekat, ada sebongkah harapan yang dibawa oleh Tulin Abu Jabbar. Bocah tujuh tahun ini adalah peserta termuda. Di antara lukisan-lukisan bernada berat, karyanya yang berjudul “Aku dalam Warna” tampil mencolok: hanya sebuah bunga dan seekor kupu-kupu.
“Aku suka hidup yang manis,” ujar Tulin polos. Pesan pendeknya seolah menampar kenyataan pahit di sekelilingnya.
Ahmed al-Assar, koordinator pameran, menegaskan bahwa koleksi lukisan ini bukan sekadar pajangan. “Ini adalah sertifikat kelahiran kembali bagi setiap orang yang selamat dari ladang pembantaian. Setiap goresan warna adalah teriakan bahwa hidup masih mungkin dilakukan di sini.”
Gaza mungkin sedang digambar ulang oleh mesin perang menjadi tumpukan puing. Namun, lewat tangan-tangan seperti Sirin, Nafez, dan Tulin, Gaza sedang melukis dirinya sendiri sebagai bangsa yang menolak untuk dihapus dari peta kemanusiaan.
Sumber: Diterjemahkan dan disusun ulang dari laporan korespondensi Al Jazeera










