GAZA — Momen kedatangan Jabr Al-Majdalawi di Jalur Gaza sama sekali jauh dari suasana haru atau sukacita. Bukannya disambut senyum lega usai dihirupnya udara bebas, sebuah jeritan histeris justru pecah dari mulutnya, merekam kepedihan mendalam yang mewakili nasib ribuan tahanan Palestina yang masih disiksa secara brutal di balik jeruji besi Israel.

Jeritan yang pecah usai menderita satu tahun sembilan bulan di dalam tahanan tersebut kembali menghentak publik. Kesaksiannya menambah daftar panjang laporan para mantan tahanan mengenai siksaan di luar batas kemanusiaan, di tengah menguatnya desakan lembaga hak asasi manusia untuk mengusut kondisi para Tahanan dan menjamin perlindungan mereka.

Pembebasan Lewat Kerem Shalom

Otoritas Penjajah Israel membebaskan 60 tahanan asal Jalur Gaza melalui pintu perbatasan Kerem Shalom usai mendekam berbulan-bulan tanpa kejelasan hukum. Pembebasan tersebut disaksikan langsung oleh pihak keluarga dan tim Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Begitu menjejakkan kaki di tanah Gaza, Jabr Al-Majdalawi langsung tersungkur menangis. Suaranya bergetar saat melepaskan jeritan keputusasaan di hadapan kerumunan warga.

Al-Majdalawi menuturkan bahwa selama 21 bulan mendekam di tahanan, enam bulan di antaranya ia habiskan di kamp penahanan infam Sde Teiman. Selama periode kelam itu, ia diisolasi total dari dunia luar tanpa akses komunikasi apa pun.

Ia bahkan baru mengetahui keputusan pembebasannya pada detik-detik terakhir ketika diserahterimakan kepada tim ICRC.

“Kata-kata tak akan pernah sanggup melukiskan apa yang kami jalani di dalam sana. Kami menderita luar biasa, dan para tahanan yang masih tertinggal kini berada dalam bahaya maut. Apa yang terjadi pada mereka benar-benar di luar nalar,” ujar Al-Majdalawi dengan nada bergetar.

Pola Penyiksaan yang Berulang

Kesaksian Al-Majdalawi bukanlah kasus terisolasi. Sepanjang beberapa bulan terakhir, berbagai lembaga HAM Palestina maupun internasional telah mendokumentasikan puluhan pengakuan senada dari para tahanan yang baru dibebaskan.

Mereka melaporkan pola penganiayaan yang seragam, pemukulan brutal, penyiksaan fisik dan mental, pembiaran kelaparan, perampasan akses medis, hingga pengisolasian jangka panjang, khususnya bagi warga Gaza yang ditangkap sejak Oktober 2023.

Konsistensi dari tiap pengakuan ini mempertegas adanya sistem penyiksaan yang terstruktur, yang memicu desakan keras dari organisasi kemanusiaan global agar dilakukan investigasi independen atas kejahatan di penjara-penjara Israel.

Ribuan Jiwa Masih Terperangkap

Data terbaru dari lembaga urusan tahanan mencatat masih ada ribuan warga Palestina yang mendekam di penjara Israel, termasuk ratusan warga Gaza yang lokasi penahanannya sengaja dirahasiakan (enforced disappearance).

Lembaga-lembaga rights group terus mendesak agar keberadaan para tahanan dibuka secara transparan, izin kunjungan Palang Merah dibuka kembali, dan perlakuan terhadap para tahanan disesuaikan dengan mandat Konvensi Jenewa serta hukum internasional.

Jeritan Jabr Al-Majdalawi tidak memancarkan euforia kebebasan, melainkan pesan darurat dari dalam neraka penahanan. Hanya beberapa menit setelah tiba di Gaza, suaranya mungkin melemah karena trauma mendalam, namun kesaksiannya berhasil mengembalikan sorotan dunia pada tragedi yang tengah menimpa para tahanan Palestina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here