Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, merilis sebuah video bertajuk “Takbir Gaza yang Bertahan” bertepatan dengan momentum Idulfitri. Video itu membuka tirai dengan gema takbir yang terdengar berat, seolah keluar dari rongga bumi yang terluka.
Di baliknya, tampak sejumlah pejuang Al-Qassam berada di dalam jaringan terowongan, diselingi potongan gambar pertempuran melawan pasukan penjajah Israel dalam perang yang terus berlangsung di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, pasca Operasi Thufan Al-Aqsa.
Narasi dalam video itu mengalir seperti seruan, setengah doa, setengah deklarasi. Di antaranya, kalimat-kalimat yang mengikat antara iman dan perlawanan:
“Allahu Akbar, ketika kebenaran bersuara melalui para lelaki beriman. Allahu Akbar, ketika malam para penindas mulai runtuh, dan kebatilan mereka melemah. Allahu Akbar, ketika Gaza menyalakan Al-Aqsa dengan darah (jujur, cinta, dan kesetiaan. Cukuplah Allah baginya, Allah penolongnya, Allah pelindungnya) dan mereka tak punya pelindung.”
Seruan itu kemudian beranjak ke nada yang lebih tegas, nyaris seperti janji yang diucapkan berulang dalam sejarah konflik panjang ini: kabar tentang datangnya “barisan kemenangan yang nyata”, hari tumbangnya para perampas, dan janji untuk bertemu di halaman Al-Quds, “sebagai para pembebas yang bertakbir.”
Video ditutup dengan ucapan yang sederhana, namun sarat makna dalam konteks perang: “Selamat Idulfitri, semoga pembebasan Al-Quds semakin dekat.”
Di ruang digital, respons publik tidak tunggal, namun benang merahnya jelas. Sejumlah warganet melihat video itu sebagai pesan ganda, ucapan selamat hari raya sekaligus penegasan bahwa Al-Qassam masih berdiri, masih berbicara, dan masih mampu mengirimkan sinyal ke publiknya, meski terus diburu dalam operasi militer Israel selama bertahun-tahun.
Ada pula yang membaca video ini sebagai upaya menjaga denyut moral di tengah kehancuran. Di saat warga Gaza merayakan Idulfitri di antara reruntuhan, rekaman itu menjadi semacam jembatan, menghubungkan medan tempur dengan ruang batin kolektif rakyat Palestina.
Menariknya, sejumlah pengamat media sosial menyoroti satu hal yang konsisten: meski Gaza terus digempur dalam tiga tahun terakhir, narasi yang diangkat Al-Qassam tidak bergeser jauh. Al-Quds tetap menjadi pusat gravitasi. Bahkan ketika pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa terus terjadi selama Ramadhan dan Idulfitri oleh pihak penjajah, isu itu tetap diselipkan dalam pesan-pesan mereka.
Dalam konteks ini, video tersebut tampak bukan sekadar dokumentasi atau propaganda biasa. Ia bekerja sebagai pernyataan keberadaan, bahwa di tengah perang informasi dan serangan fisik, Al-Qassam masih mempertahankan satu hal: kemampuan untuk mengatur pesan, memilih momentum, dan menjangkau emosi publiknya.
Sumber: Al Jazeera










