Zikir dan zagarit (pekik kegembiraan khas Arab) kembali menyelinap di sela-sela reruntuhan beton yang lumat. Di Gaza, pernikahan kini bukan lagi soal pamer kemewahan, melainkan sebentuk perlawanan paling sunyi: keberanian untuk tetap hidup saat maut mengepung dari segala penjuru.

Pemandangan itu terasa ganjil, bahkan hampir mustahil. Di gang-gang sempit yang masih menyisakan bau debu mesiu dan beton hancur, suara zagarit mendadak pecah. Sayup-sayup, lagu pernikahan terdengar dari balik dinding rumah yang tak lagi utuh. Di sebuah wilayah di mana duka adalah nafas harian, warga Gaza sedang melakukan hal yang paling dibenci oleh perang: mereka merayakan hidup.

Pernikahan-pernikahan ini kembali muncul dengan malu-malu. Ibarat tunas kecil yang memaksa tumbuh dari aspal yang retak, ia menjadi tanda vital bahwa denyut nadi Jalur Gaza belum berhenti, meski sekujur tubuhnya penuh lubang peluru dan trauma. Namun, jangan bayangkan pesta ini seperti dulu. Tradisi telah digusur paksa oleh realitas.

Pesta di Tepi Jurang

Lupakan gedung pertemuan megah atau iring-iringan mobil mewah. Sebagian besar aula pernikahan di Gaza telah rata dengan tanah atau beralih fungsi menjadi penampungan pengungsi. Sebagai gantinya, ruang tamu yang sempit atau halaman rumah yang berdebu disulap jadi pelaminan darurat.

Amjad, pemuda 27 tahun asal Rafah yang kini terdampar di kamp pengungsian Nuseirat, adalah satu dari sekian banyak pengantin yang “menyerah” pada keadaan. Rencana pernikahannya tertunda berkali-kali karena bom dan kepungan militer.

“Ini bukan pernikahan impian kami,” ujar Amjad kepada koresponden Palinfo. “Saya dan istri punya rencana besar dulu. Tapi akhirnya kami sadar: yang penting hidup baru ini dimulai. Di sini, kegembiraan bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan mental agar tidak gila.”

Nasib serupa dialami Mumin. Tanpa panggung, tanpa dekorasi mahal. Hanya barisan kursi plastik, sebuah pengeras suara usang, dan lagu-lagu rakyat yang diputar berulang. Di halaman rumahnya yang rusak, momen itu terasa luar biasa justru karena ia terjadi di tengah himpitan yang mencekik. “Kami tak punya banyak hal, tapi kami punya kehendak untuk hidup,” katanya singkat.

Solidaritas di Balik Maharnya yang Terpangkas

Bagi Sajida, pengantin wanita berusia 24 tahun, gaun putih megah dan pesta besar kini tinggal kenangan di dalam angan. Namun, ada yang jauh lebih berharga. “Tetangga semua turun tangan. Mereka ikut menghias tempat seadanya, membantu masak, mencoba membuat hari ini terasa spesial,” tuturnya. Di tengah krisis, ruh gotong royong warga Gaza justru menebal.

Mahar yang biasanya menjadi beban ekonomi pun kini dibicarakan dengan nada yang jauh lebih manusiawi. Abu Jihad, ayah Sajida, mengakui bahwa standar biaya pernikahan telah runtuh. “Semua orang paham situasi ini. Mahar diturunkan, emas ditiadakan. Ada kesepahaman dan saling pengertian antar-keluarga yang tidak pernah ada sebelumnya,” ungkapnya.

Um Ahmad, ibunda Amjad, menatap pernikahan putranya dengan perspektif yang lebih dalam. Baginya, suara zagarit yang ia pekikkan adalah sebuah pesan politik dan eksistensial. “Kami tidak merayakan ini karena kami merasa sudah bahagia seutuhnya. Kami merayakannya untuk bilang bahwa hidup terus berjalan. Anak-anak kami berhak bahagia, meski kebahagiaan itu pincang,” ucapnya getir.

Katarsis di Tengah Trauma

Kembalinya pesta pernikahan di Gaza dipandang para pakar sebagai mekanisme pertahanan diri alami. Psikolog Samah Jabr menyebut penderitaan psikologis di Gaza sudah mencapai level yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah modern. Masyarakat hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan kehilangan yang konstan.

Dr. Abdullah al-Jamal menambahkan, dengan hancurnya infrastruktur kesehatan mental, masyarakat mencari “keseimbangan” melalui ritual sosial. Pernikahan, sesederhana apa pun, menjadi katarsis—sebuah cara melepaskan beban emosional dan membangun kembali ikatan sosial yang koyak oleh perang. Laporan WHO mengonfirmasi bahwa kebutuhan kesehatan jiwa di Gaza akan berlangsung selama puluhan tahun, dan momen-momen sosial seperti inilah yang menjadi “obat darurat” bagi mereka.

Pada akhirnya, pernikahan di Gaza tidak diukur dari jumlah tamu atau hidangan yang tersaji di meja. Ia diukur dari sejauh mana manusia mampu mencuri sedikit waktu untuk tersenyum di hadapan maut. Ini adalah perlawanan yang tenang. Sebuah pesan tantangan di wajah realitas yang berat.

Mungkin pesta ini kurang di detailnya, pudar di hiasannya, namun ia utuh dalam makna kemanusiaan yang paling dalam. Di setiap senyum pengantin yang kehilangan rumah, dan di setiap pekik zagarit seorang ibu yang matanya masih sembap karena air mata, tersimpan narasi besar: bahwa manusia Palestina di Gaza tak akan pernah menyerah pada kegelapan.


Sumber: Diterjemahkan dan disusun kembali dari laporan Palestinian Information Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here