Dia pernah menjadi wajah keteguhan di layar kaca, berdiri tegak di tengah reruntuhan rumah sakit. Kini, dr. Hossam Abu Safiya hanyalah bayangan yang meredup di balik jeruji besi, menjadi sasaran amuk sistematis yang melampaui batas nalar kemanusiaan.

AHMAD Qadas sempat tertegun lama. Di hadapannya, di dalam sel yang pengap, duduk seorang pria dengan tubuh yang nyaris habis, suara yang hanya berupa desisan, dan sorot mata yang kosong. Butuh waktu bagi Qadas, seorang mantan tahanan yang baru saja bebas, untuk menyadari bahwa sosok yang hancur itu adalah dr. Hossam Abu Safiya.

Mana Hossam yang dulu? Dokter berkharisma yang suaranya mengisi ruang-ruang redaksi televisi internasional, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan yang kehadirannya memancarkan wibawa seorang negarawan?

Perubahan drastis itu bukan sekadar efek penuaan, melainkan hasil dari apa yang disebut Qadas sebagai “pembunuhan identitas”. Israel tak hanya menahan fisiknya sejak Desember 2024, tapi nampaknya sedang berusaha menghapus sosok dr. Hossam dari peta kemanusiaan.

Menu Harian: Kekerasan dan Gas Air Mata

Qadas mengisahkan dengan getir bagaimana sang dokter menghabiskan waktunya dalam kondisi linglung. Siksaan yang tak kunjung putus membuatnya sering bergumam sendiri, doa-doa yang tak lagi jelas pelafalannya.

Yang paling menyiksa bagi tahanan lain bukan hanya melihat kondisi sang dokter, tapi mendengar suaranya. “Kami mendengar teriakan dr. Hossam saat dia dipukuli, tapi kami tak bisa berbuat apa-apa,” ujar Qadas. Menolong berarti mengundang petaka lebih besar: serbuan pasukan sipir yang akan melemparkan bom gas ke dalam sel hingga mereka semua sesak napas.

Kondisi fisik Abu Safiya kini mengenaskan. Bajunya compang-camping, tubuhnya menyusut drastis hingga tulang-belulangnya menonjol. “Dia bisa mati kapan saja jika tetap di sana,” Qadas memperingatkan.

Dosis Siksaan yang Berlebih

Kesaksian serupa datang dari Hamzah Abu Amira. Menurutnya, dr. Hossam mendapatkan “perlakuan khusus”, dalam artian yang paling gelap. Jika tahanan lain disiksa, dosis untuk Abu Safiya berkali-kali lipat lebih kejam.

Hamzah yang bertemu sang dokter pada Oktober 2025 menceritakan bagaimana sistem pencernaan dr. Hossam telah rusak. “Dia terus-menerus muntah. Setiap suap makanan yang masuk akan dimuntahkannya kembali,” tuturnya. Ironis, seorang dokter yang terbiasa menyembuhkan, kini dibiarkan sekarat tanpa akses medis satu pun.

Ada satu pekan yang paling diingat Hamzah: tujuh hari berturut-turut dr. Hossam dibiarkan dalam keadaan tangan terikat ke belakang dan kaki terbelenggu. Makan, minum, hingga urusan buang hajat menjadi penderitaan yang tak terlukiskan.

Lebih sadis lagi, para sipir kerap memaksa dr. Hossam untuk menghina dirinya sendiri. Di bawah tekanan pukulan, sang dokter dipaksa meneriakkan kata-kata yang merendahkan martabatnya sendiri sebagai manusia.

Serangan Anjing dan Teror Tidur

Kesaksian ketiga dari Rami Abu Amira menambah daftar panjang horor tersebut. Sekitar satu setengah bulan sebelum pembebasannya, Rami melihat dr. Hossam kembali dari ruang interogasi dalam kondisi babak belur.

“Mereka menelanjanginya, lalu membiarkan anjing-anjing pelacak menyerangnya,” kata Rami. Bekas cakaran dan gigitan anjing menghiasi sekujur tubuhnya. Tak cukup sampai di situ, pasukan penjara sengaja mengincar waktu tidurnya. Bom suara dan gas air mata sering dilemparkan tepat di samping tempat dr. Hossam merebahkan diri hanya untuk menghancurkan ketahanan mentalnya.

Simbol yang Coba Dipatahkan

Mengapa dr. Hossam Abu Safiya? Di Gaza, dia adalah legenda hidup. Dia tetap bekerja meski putranya, Ibrahim, gugur dalam serangan. Dia tetap melayani meski kakinya cedera. Saat ditangkap, dia berjalan menuju tank Israel dengan kepala tegak, sebuah pemandangan yang viral dan menginspirasi banyak orang. Bagi kawan-kawannya di RS Kamal Adwan, dia adalah “Bapak para Pasien”.

Kini, dr. Hossam hanyalah satu dari 737 tenaga medis (dokter, perawat, paramedis) yang diseret Israel ke dalam sel gelap sejak perang pecah. Namun, bagi Israel, dr. Hossam nampaknya adalah piala yang ingin mereka patahkan semangatnya.

Kisah dr. Hossam Abu Safiya bukan hanya tentang seorang dokter yang disiksa. Ini adalah tentang bagaimana sebuah sistem mencoba memadamkan cahaya kemanusiaan di tengah kegelapan perang. Tanpa intervensi internasional, “Bapak para Pasien” itu mungkin hanya akan pulang dalam peti mati.


Sumber: Diolah dari kesaksian para penyintas dan laporan lapangan Al Jazeera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here