Sudah lebih dari 200 hari gencatan senjata dikumandangkan di Jalur Gaza. Namun, di balik narasi “tenang” yang kerap dipoles media internasional, denyut kematian belum benar-benar berhenti. Ada gap menganga antara realitas lapangan dengan laporan-laporan di layar kaca New York hingga London.
Perang mungkin sudah tidak lagi memekakkan telinga lewat dentuman artileri besar setiap detiknya, tapi Gaza tidak sedang baik-baik saja. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak kesepakatan gencatan senjata diteken, sedikitnya 830 nyawa melayang dan 2.300 orang lainnya terluka. Angka-angka ini adalah bukti sahih betapa rapuhnya kata “damai” di bawah bayang-bayang pendudukan.
Namun, jika Anda memantau headline media-media besar Barat, narasi yang muncul sering kali terasa hambar dan terfragmentasi. Mengapa jurnalisme global seolah gagal menangkap urgensi krisis kemanusiaan yang masih membara di sana?
Eufemisme yang Mematikan
Ada pola yang berulang dalam bahasa jurnalistik media Barat. Penggunaan istilah generik seperti “ketegangan” atau “bentrokan sesekali” kerap digunakan untuk merujuk pada pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan militer Israel. Penggunaan kata-kata ini seolah-olah menciptakan kesan adanya “keseimbangan” kekuatan antara pendudukan yang bersenjata lengkap dengan warga sipil yang terkepung.
Penulis dan aktivis Owen Jones, dalam ulasannya di The Guardian, sempat mengkritik terminologi semacam ini. Menurutnya, kata “eskalasi” atau “bentrokan” mengaburkan fakta tentang siapa yang memulai serangan dan siapa yang memiliki mesin perang paling mematikan.
Berita sebagai Potongan Puzzle yang Hilang
Salah satu kritik paling tajam datang dari pengamat media, Muhammad al-Akhras. Ia menyebut media Barat terjebak dalam “fragmentasi peristiwa”. Artinya, pembunuhan seorang warga sipil atau jurnalis di bulan April lalu—seperti yang dilaporkan BBC dan Reuters—sering kali disajikan sebagai insiden tunggal yang berdiri sendiri.
Jarang sekali laporan-laporan itu ditarik ke dalam konteks yang lebih luas: bahwa ada pelanggaran sistematis terhadap poin-poin gencatan senjata. Akibatnya, publik global kehilangan gambaran besar tentang penderitaan kumulatif yang dialami warga Gaza.
| Media | Fokus Utama Tautan | Gaya Bahasa |
| AP, CNN, NYT | Akses masuk jurnalis | Teknis & Kebebasan Pers |
| The Guardian, Washington Post | Pelanggaran Gencatan Senjata | Analitis & Politik |
| BBC, Reuters | Korban Sipil (April) | Faktual & Terfragmentasi |
Akses Terbelenggu, Narasi Terdistorsi
Bulan April lalu menjadi titik balik kemuakan para punggawa media internasional. Associated Press bersama CNN dan The New York Times secara kolektif menuntut agar Israel mengizinkan jurnalis asing masuk ke Gaza secara independen.
Hingga saat ini, sebagian besar liputan bergantung pada “sumber tidak langsung” atau jurnalis lokal yang bekerja di bawah todongan senjata dan ancaman maut. Tanpa mata dan telinga jurnalis internasional di lapangan, narasi yang berkembang di Barat cenderung bersandar pada rilis resmi militer—sebuah fenomena yang dikritik keras oleh akademisi Norman Finkelstein.
Antara Fokus Musiman dan Kelalaian Struktural
Analis politik Diana Buttu menggarisbawahi adanya “fokus musiman” dalam ruang redaksi Barat. Media cenderung hiruk-pikuk saat bom jatuh, namun segera memalingkan muka ketika situasi memasuki “ketenangan relatif”, meski dalam fase tenang itu, blokade barang, kelaparan, dan rusaknya infrastruktur terus membunuh warga secara perlahan.
Kini, pertanyaannya tetap sama: Apakah media Barat akan terus menyajikan penderitaan Gaza sebagai sekadar “catatan kaki” di sela-sela agenda global yang sesak? Ataukah mereka akan mulai berani membongkar struktur pendudukan yang sebenarnya membuat gencatan senjata ini hanya menjadi jeda singkat sebelum tragedi berikutnya?
Gaza bukan sekadar statistik yang menyusut dalam berita. Ia adalah ujian bagi integritas jurnalisme dunia: apakah mereka bertugas untuk merekam kebenaran, atau sekadar memoles kenyataan agar lebih mudah ditelan oleh selera politik global?
Sumber: Diterjemahkan dan disusun ulang dari laporan Pusat Informasi Palestina (Palinfo)










