RAMALLAH – Sore itu seharusnya menjadi waktu bermain yang biasa bagi Muhammad Sabir al-Sheikh (13). Dengan langkah riang, ia pamit meninggalkan rumahnya di kamp pengungsian Jalazone, utara Ramallah, Tepi Barat. Namun, keriangan itu seketika sirna. Muhammad tak pernah pulang ke rumahnya, melainkan terbaring tak berdaya di ruang perawatan intensif.
Muhammad menjadi sasaran bidik seorang penembak jitu (sniper) dari salah satu militer Israel. Sebutir peluru bersarang tepat di kepalanya, menghancurkan sebagian jaringan otaknya, dan merenggut paksa masa kecilnya. Sejak insiden pada 9 April 2026 itu, napasnya kini bergantung sepenuhnya pada peralatan medis.
Bermain di Antara Desing Peluru
Kisah pilu ini bermula saat pasukan Israel merangsek masuk ke kamp Jalazone. Ayah korban, Sabir al-Sheikh, menceritakan detik-detik mencekam saat tentara mulai melepaskan tembakan secara membabi buta.
“Tentara masuk ke kamp sambil menembak secara intensif. Salah satu peluru mengenai Muhammad saat dia sedang asyik bermain dengan teman-teman sebayanya di lingkungan rumah,” ujar Sabir kepada Al Jazeera.
Luka itu teramat dalam. Peluru yang menembus tengkoraknya menyebabkan kerusakan otak yang sangat parah. Meski sempat menunjukkan sedikit kemajuan medis, Muhammad masih berada dalam fase kritis antara hidup dan mati.
Perjuangan di Ruang Bedah
Kondisi Muhammad digambarkan sangat mengenaskan saat tiba di rumah sakit. Abd al-Wahab Kharousha, dokter yang menangani Muhammad di Istishari Hospital, mengungkapkan bahwa benturan peluru menyebabkan sebagian jaringan otak bocor keluar.
“Kondisinya masih sangat sulit. Saat sampai di IGD, terjadi pendarahan otak hebat yang harus segera kami tangani,” jelas Kharousha.
Tim medis telah melakukan operasi pembersihan pada area luka, namun Muhammad belum melewati masa kritis. Kini, ia masih mendekam di unit perawatan intensif saraf dengan pengawasan ketat setiap jamnya. Harapannya tipis, namun keluarga tetap memegang teguh doa agar Muhammad bisa kembali melihat dunia.
Gaza Berdarah, Tepi Barat Terluka
Nasib tragis Muhammad bukanlah angka tunggal. Ia adalah bagian dari fenomena mengerikan yang terjadi di tanah Palestina sejak pecahnya perang besar pada Oktober 2023 lalu.
Berdasarkan data dari Kantor Komunikasi Pemerintah Palestina di Ramallah, kekerasan yang dilakukan militer dan pemukim Israel di Tepi Barat serta Yerusalem telah menelan korban jiwa yang sangat besar.
Hingga 12 April 2026, tercatat sebanyak 1.149 warga Palestina tewas di wilayah tersebut. Mirisnya, 237 di antaranya adalah anak-anak—bocah-bocah seperti Muhammad yang mimpinya harus terhenti oleh peluru panas sebelum mereka sempat beranjak dewasa.
Muhammad mungkin belum “pergi” sepenuhnya, namun bagi keluarganya, keceriaan masa kecil yang dirampas peluru tajam itu adalah luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh.










