JAKARTA -Pemimpin AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir, melontarkan kritik tajam terhadap lambannya sikap dunia Islam dalam merespons genosida di Gaza. Dia menilai sikap tersebut sebagai imbas dari penyakit mental pengecut dan terlalu mencintai dunia. Penyakit itu disebut Wahn.

“Inilah yang terjadi. Tiga tahun Gaza, yang terjadi adalah wahan mengintai umat yang menonton dari luar,” kata sosok yang akrab disapa UBN tersebut dalam Acara “3 TAHUN GAZA: Batas antara Manusia & Monyet” di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Dia dengan tegas membedakan antara kelemahan manusiawi yang bersifat takdir dengan rasa takut berlebihan yang secara sadar dipilih oleh umat.

“Kesimpulannya saya mau bilang, dha’af (lemah) boleh. Karena manusia diciptakan lemah. Memang takdirnya lemah. Tetapi wahn adalah pilihan, hati yang lemah. Itu yang enggak boleh. Apalagi istikanah (kabur), itu yang enggak boleh,” ujarnya.

Sikap pasrah umat yang sekadar berpangku tangan dan berharap pada belas kasihan lembaga internasional dinilainya mewarisi mentalitas buruk kaum Bani Israil di era Nabi Musa.

“Begitukah kita? Mengandalkan PBB, lalu kita duduk di sini? Sampai kapan? Mengandalkan ICJ, kita duduk di sini? Sampai kapan? Mengandalkan ICC, kita duduk di sini? Sampai kapan? Mengandalkan Dewan Keamanan untuk berlaku adil, sampai kapan? Itu cara berpikir wahan,” ujarnya.

UBN membedah sejarah kelam kaum penakut yang menolak perintah Allah SWT masuk ke Tanah Suci Baitul Maqdis dengan dalih adanya musuh yang kuat, sehingga berujung pada hukuman tersesat di padang gurun selama empat dasawarsa.

“Mereka hidup terlunta-lunta, saya menyebutnya. 40 tahun di padang pasir. Dan sekarang, siapa yang sedang terlunta-lunta keluar dari Baitul Maqdis diusir, kalaupun tinggal tak berdaya. Muslimin atau Zionis? Muslimin terlunta-lunta. Dan sekarang sudah masuk ke 40 tahun yang kedua,” tuturnya.

Strategi perjuangan ini, menurutnya, tidak bisa lagi bertumpu pada cara-cara konvensional yang kaku dan mudah dipatahkan musuh, melainkan membutuhkan keberanian berkorban untuk menembus titik-titik konflik.

“Makanya hari ini ada dua aksi yang saya akan luncurkan. Yang pertama pemberangkatan tim yang akan berjuang menembus Rafah dan menembus Tepi Barat dengan bantuan-bantuan kemanusiaannya. Dan tim relawan jurnalis yang siap menjadi syahid di sana,” ia menambahkan.

Persiapan perlawanan tersebut diformulasikan ke dalam lima pintu strategi utama, yakni keilmuan, tarbiah, dakwah dan media, advokasi hukum, hingga menggalang kekuatan militer dan politik.

“Tiga I’dad Ma’rifi, kemudian yang kedua Siyasi, dan yang ketiga Askari. Beliau melihatnya di Indonesia cocok untuk yang pertama, I’dad Ma’rifi. Mempersiapkan pengetahuan, mempersiapkan politik dan diplomasi, yang ketiga mempersiapkan militer,” paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here