GAZA — Kesaksian langsung dari warga di Jalur Gaza mengonfirmasi bahwa realitas di lapangan bertolak belakang secara drastis dari dokumen kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani 300 hari lalu, tepatnya pada 10 Oktober 2025.
Perjanjian tersebut sedianya dicapai melalui serangkaian negosiasi tak langsung antara gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dan pihak Israel, dengan fasilitasi dari Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Pengabaian pihak pendudukan Israel terhadap komitmen kesepakatan kian mengimpit urat nadi kehidupan warga Gaza. Melalui pemboman harian, penutupan pintu perbatasan, serta blokade yang tak kunjung melonggar, hari-hari warga Gaza justru diselimuti bahaya yang lebih mengancam ketimbang periode sebelumnya, meski “operasi militer skala besar” diklaim telah mereda.
Menurut data resmi dari Kantor Media Pemerintah di Gaza, Rangkaian pelanggaran yang dilakukan militer Israel mencakup:
- 4.019 kali pelanggaran atas poin-poin kesepakatan gencatan senjata.
- 159 kasus penangkapan warga sipil.
- Hanya 10.703 orang yang diizinkan keluar dari total 27.400 orang yang seharusnya dievakuasi sesuai ketentuan kesepakatan.
- Hanya 63 ribu truk bantuan yang diizinkan masuk ke Jalur Gaza dari kuota 180 ribu truk yang diperjanjikan.
Seorang warga lokal menggambarkan situasi di sekitarnya sebagai kondisi yang “sangat membahayakan”. Ia menegaskan bahwa pihak pendudukan tidak lagi mengindahkan batasan apa pun; mereka menggempur pemukiman dan jalanan umum seolah-olah kesepakatan gencatan senjata hanyalah “sensasi media yang tidak membumi dan sama sekali tidak diterapkan di lapangan.”
Seorang pemuda Gaza menimpali bahwa perang memang telah usai secara “retorika media”, namun pertempuran sesungguhnya terus melumat kehidupan mereka. Seluruh kawasan Gaza kini berada dalam bayang-bayang kerentanan tinggi; lokasi mana pun dapat menjadi sasaran tembak sewaktu-waktu. Ketakutan kronis ini terus menyelimuti setiap keluarga yang hidup di bawah ancaman militer harian.
Di tengah situasi ini, seorang warga mengungkapkan bahwa satu-satunya impian yang tersisa adalah memperoleh rasa aman. Namun, impian sederhana itu kian terasa mustahil di tengah gelombang serangan yang terus mengincar kendaraan dan pejalan kaki.
Menggambarkan kedalaman tragedi kemanusiaan ini, seorang pemuda menuturkan bahwa dirinya selalu menyiapkan mental dengan kemungkinan 100 persen tidak akan pernah kembali berumpuk dengan anak-anaknya setiap kali melangkah keluar rumah.
Menurutnya, rentetan pemboman dan penembakan yang tiada henti membuat warga Gaza merasa hidup selayaknya raga tanpa jiwa, meski mereka terpaksa tetap keluar rumah demi mengadu nasib mencari sesuap nasi bagi keluarga.
Keruntuhan Sektor Ekonomi
Penderitaan warga Gaza tak berhenti pada teror pemboman belaka, melainkan menjalar ke sektor ekonomi yang telah runtuh total. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi ke tingkat yang tak terjangkau, sementara komoditas mendasar menghilang dari pasaran akibat penutupan akses perbatasan oleh militer Israel.
Seorang ibu rumah tangga menceritakan bagaimana harga sayur-mayur dan daging melonjak tajam, sementara pasokan barang-barang tertentu terputus sama sekali. Fenomena ini membangkitkan kembali memori kelam tentang bencana kelaparan yang pernah melanda Gaza, sebuah mimpi buruk yang kini membayang di depan mata.
Nanyak keluarga kini terpaksa hidup menggelandang di jalanan tanpa atap perlindungan maupun jaminan keamanan, akibat ketiadaan bahan bangunan dan tersendatnya kucuran bantuan kemanusiaan.
Krisis Kesehatan dan Akses Air Bersih
Kondisi medis kian memprihatinkan setelah militer Israel memblokir masuknya pasokan dan peralatan medis ke Gaza, sekaligus menghentikan izin rujukan berobat ke luar negeri bagi pasien-pasien berisiko tinggi.
Seorang penderita kanker otak menyampaikan jeritan hatinya memohon perhatian dunia. Sementara itu, seorang ibu dari balita penderita penyakit jantung menuturkan kisah pilu tentang fungsi jantung anaknya yang merosot tajam dari 30 persen menjadi tersisa 15 persen akibat ketiadaan obat-obatan.
Balita tersebut telah tertahan dalam daftar tunggu rujukan berobat ke luar negeri selama tiga tahun tanpa kejelasan.
Seorang warga merangkum penderitaan ini dengan menegaskan bahwa krisis telah merambah seluruh pilar kehidupan. Namun, ujian terberat saat ini terletak pada krisis air bersih yang kian langka. Ia menggambarkan pencarian setetes air bersih sebagai perjuangan panjang yang menguras fisik dan emosi, seolah-olah syarat paling mendasar untuk bertahan hidup di Gaza telah direnggut seluruhnya.
Korban Jiwa dan Seruan Internasional
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, akumulasi korban jiwa sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan telah menyentuh angka 1.254 orang syahid, serta 4.121 orang lainnya mengalami luka-luka.
Sementara itu, Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa sedikitnya 300 anak-anak syahid di Jalur Gaza sepanjang 300 hari terakhir, sebuah rata-rata kelam yang mencatat gugurnya satu anak setiap harinya.
UNICEF mendesak seluruh pihak untuk melindungi anak-anak, menjamin akses mereka terhadap kebutuhan dan layanan dasar, serta mematuhi hukum kemanusiaan internasional dan hukum hak asasi manusia internasional secara mutlak.
Sejak pecahnya agresi militer Israel ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, total korban syahid kini telah melonjak hingga 73.381 orang, di samping puluhan ribu warga yang mengalami luka-luka dan cacat permanen.










