GAZA — Duka mendalam kembali menghampiri Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, Dr. Munir Al-Bursh. Putranya, Baseer Munir Al-Bursh, syahid akibat serangan udara yang dilancarkan militer Israel di Kamp Pengungsian Jabalia, Gaza utara.

Menurut keterangan sumber medis dan warga lokal, sebuah drone milik pasukan pendudukan Israel melancarkan tembakan yang menewaskan Baseer seketika serta melukai beberapa warga lainnya. Saksi mata menyebutkan bahwa titik serangan berada tepat di dekat markas Pertahanan Sipil sebelah barat Kamp Jabalia.

Sejumlah rekaman video yang beredar luas memperlihatkan momen memilukan saat Dr. Al-Bursh membungkuk di atas jenazah putranya di Kompleks Medis Al-Shifa. Kedua tangannya memeluk erat kepala sang putra dalam perpisahan terakhir yang menyayat hati.

Dengan suara bergetar namun penuh keteguhan, Dr. Al-Bursh membisikkan kalimat perpisahan kepada almarhum putranya:

“Semoga Allah merahmatimu. Engkau telah menunaikan tugasmu. Demi Allah, engkau tak pernah tidur maupun berdiam diri, engkau telah berjihad di jalan-Nya. Namun engkau telah mendahuluiku ke surga, wahai anakku.”

Dalam rekaman terpisah, Dr. Al-Bursh menceritakan percakapan terakhir bersama putranya beberapa saat sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi. Baseer sempat meminta sang ayah untuk tidak keluar bersama agar mereka tidak menjadi sasaran serangan secara bersamaan. Tak lama setelah Baseer melangkahkan kaki keluar dari tenda, rudal menghantamnya.

“Kami ikhlas menyerahkannya kepada Allah SWT, sebagai pengorbanan demi Allah dan tanah air,” ujar Al-Bursh tegar.

Duka Berulang Seorang Ayah

Gugurnya Baseer membuka kembali luka lama yang dirasakan Dr. Al-Bursh. Sekitar tiga tahun lalu, ia juga harus kehilangan putri kecilnya, Jinan, yang gugur dalam serangan udara Israel di tempat yang sama.

Pada Desember 2023, Jinan yang baru berusia 13 tahun tewas seketika, sementara Dr. Al-Bursh dan beberapa anggota keluarga lainnya mengalami luka-luka ketika kediaman mereka di Kamp Jabalia dihantam bom. Kala itu, Dr. Al-Bursh terbaring terluka tak berdaya saat melepas kepergian putri kecilnya yang beberapa jam sebelumnya sempat tertidur pulas di pangkuannya.

Keteguhan di Garis Depan Pelayanan Kesehatan

Kehilangan dua buah hati tidak menyurutkan langkah Dr. Al-Bursh dalam memimpin krisis kesehatan di Jalur Gaza. Sejak hari pertama perang meletus, ia tidak sekadar mengendalikan krisis dari balik meja kerja. Ia memilih bertahan di rumah-rumah sakit Gaza utara dan memimpin langsung distribusi pasokan medis yang amat terbatas.

Pada fase krusial November 2023, Dr. Al-Bursh mengendalikan operasional medis dari dalam Kompleks Medis Al-Shifa di tengah kepungan ketat dan penggerebekan pasukan militer. Saat itu, ia secara tegas menolak perintah evakuasi dan menolak meninggalkan para pasien serta korban luka tanpa perawatan.

Ia juga berulang kali berpindah tugas antara Rumah Sakit Kamal Adwan dan pusat-pusat medis di Jabalia guna memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, meski mayoritas fasilitas medis rusak parah atau gulung tikar akibat krisis bahan bakar. Dr. Al-Bursh menjadi salah satu tokoh kunci yang menyuarakan kondisi riil fasilitas kesehatan Gaza ke dunia internasional, mendokumentasikan pelanggaran terhadap fasilitas medis, serta menyerukan bantuan darurat sebelum sistem kesehatan benar-benar lumpuh total.

(Sumber: Al Jazeera + Anadolu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here