GAZA — Kesepakatan gencatan senjata yang digadang-gadang membawa kedamaian di Jalur Gaza kembali terancam buyar. Rentetan serangan udara dan tembakan artileri militer Israel kembali mengguncang Khan Younis serta Kota Gaza, memicu korban luka di kalangan warga sipil dan mengikis asa warga yang tengah mencoba menata kembali hidup mereka.
Di wilayah selatan, sebuah pesawat nirawak (drone) militer Israel melancarkan serangan udara yang menghantam kawasan Al-Mawasi, Khan Younis. Tim ambulans dan tanggap darurat Palestina mengonfirmasi sejumlah warga mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil tersebut.
Tidak berhenti di situ, armada tempur darat Israel melancarkan aksi penembakan peluru tajam dan meriam artileri di kawasan timur serta selatan Khan Younis. Sisa-sisa proyektil bahkan dilaporkan jatuh menyasar tenda-tenda pengungsian warga di area pemakaman Al-Namsawi, sebelah barat kota.
Suasana mencekam juga menyelimuti wilayah utara. Pasukan pendudukan memberondongkan tembakan ke arah timur Distrik Al-Zaytoun, tenggara Kota Gaza.
Aksi serbuan udara, tembakan artileri, pembongkaran paksa bangunan, hingga pembatasan ketat terhadap pasokan bantuan kemanusiaan serta barang kebutuhan pokok terus berlangsung, menambah daftar panjang pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya telah berlaku sejak 10 Oktober 2025 lalu.

Krisis BBM Ancam 13 Fasilitas Kesehatan
Di tengah ancaman tembakan yang tak kunjung padam, sektor kesehatan Gaza kini berada di ambang kehancuran total. Kementerian Kesehatan di Gaza melayangkan peringatan darurat mengenai ancaman bencana kemanusiaan dahsyat menyusul dihentikannya pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke 13 lembaga serta fasilitas kesehatan swasta dan independen.
Tanpa pasokan BBM untuk menggerakkan generator listrik, belasan fasilitas medis tersebut terancam berhenti beroperasi sepenuhnya. Kondisi ini berpotensi memutus akses perawatan medis darurat bagi puluhan ribu pasien dan korban luka yang bergantung pada layanan rumah sakit.
Jumlah Korban Jiwa Terus Membengkak
Kementerian Kesehatan merilis laporan harian yang mencatat tambahan dua warga Palestina gugur serta 25 lainnya luka-luka dalam kurun 24 jam terakhir akibat serangan militer.
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober 2025, catatan resmi menunjukkan bahwa pelanggaran yang dilakukan militer Israel telah merenggut sedikitnya 1.372 nyawa warga Palestina dan melukai 4.659 orang lainnya.
Secara kumulatif, sejak agresi militer meletus pada 7 Oktober 2023, total korban jiwa di Gaza kini menyentuh angka fantastis: 73.786 orang syahid dan 174.771 orang luka-luka, di mana mayoritas korban merupakan anak-anak dan perempuan.
PBB memperkirakan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di seluruh wilayah Jalur Gaza telah hancur total, dengan estimasi biaya rekonstruksi fisik mencapai tak kurang dari 70 miliar dolar AS. Di tengah puing-puing bangunan yang rata dengan tanah dan ancaman penutupan rumah sakit, warga Gaza kini dipaksa bertahan hidup di bawah bayang-bayang kehancuran yang kian kelam.










