GAZA — Di bawah sengatan terik matahari yang membakar dan jilatan api tungku tradisional, Ummu Yaqub (seorang ibu pengungsi Palestina) terus menguleni dan memanggang roti di wilayah selatan Jalur Gaza. Potret ini menjadi cerminan telanjang dari perjuangan bertahan hidup jutaan warga Gaza yang dipaksa hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem akibat perang genosida dan blokade total.
Ummu Yaqub adalah satu dari ratusan ribu warga yang dipaksa mengungsi dari wilayah utara ke selatan Gaza. Untuk menyambung hidup anak-anaknya yang tersisa, ia melakoni pekerjaan harian sebagai pembuat roti tradisional. Karena kelangkaan gas yang parah, wanita paruh baya ini harus berjalan mengitari kamp pengungsian setiap hari untuk mengumpulkan sisa-sisa kardus, kertas, dan sampah plastik guna memantik api kompor daruratnya. Upah yang ia terima dari jasa memanggangkan roti milik warga lain sangatlah kecil.
Berdasarkan laporan visual yang disiarkan oleh kanal Al Jazeera Mubasher, Ummu Yaqub tetap nekat mengepulkan asap tungkunya meski kondisi kesehatannya telah mencapai titik nadir. Ia mengidap komplikasi penyakit kronis mulai dari diabetes, hipertensi (tekanan darah tinggi), gangguan jantung, hingga kerusakan fungsi ginjal.
Ia terpaksa mengabaikan peringatan keras dari tim dokter yang mewajibkannya menjauhi paparan asap dan hawa panas demi mencegah fatalitas kesehatan energinya.
“Asap ini menyiksa dada saya dan memicu sesak napas akut setiap hari. Namun, saya tidak punya pilihan lain. Di sini tidak ada lapangan pekerjaan, tidak ada pemasukan. Kondisi ini sangat meremukkan fisik saya. Saya hanya berharap ada lembaga kemanusiaan yang tergerak menyediakan roti siap konsumsi bagi warga, sehingga kami tidak perlu melewati siksaan harian ini,” ujar Ummu Yaqub.
Akumulasi Siksaan: Hantaman Gelombang Panas Ekstrem
Bagi Ummu Yaqub, kondisi musim panas tahun ini adalah potret “neraka di atas neraka”. Sengatan suhu udara akibat gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah pesisir Gaza berkelindan langsung dengan radiasi panas dari tungku pembakaran kardus di depannya. Semua itu harus ia hadapi sendirian karena ia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga setelah terpisah dari suaminya yang tertahan di wilayah utara Gaza. Dari upah harian yang tak seberapa itu, ia harus membiayai kebutuhan pangan anak-anaknya sekaligus membeli obat-obatan pribadi yang harganya meroket.
Tragedi yang menimpa keluarga Ummu Yaqub sangatlah besar. Lebih dari separuh anak-anaknya telah gugur syahid akibat serangan udara Israel, sementara rumah tinggalnya yang megah berlantai empat di utara Gaza telah diratakan dengan tanah oleh bom militer Israel.
“Kami mengungsi di bawah hujan bom dari utara ke selatan. Kami tetap mematangkan roti saat jet-jet tempur membombardir di atas kepala kami. Kami melihat para syuhada bergelimpangan dengan mata kepala kami sendiri,” kenangnya perih.
Ia bahkan mengingat kejadian mengerikan saat sedang membuatkan roti untuk seorang gadis muda di dekat tendanya, tiba-tiba sebuah peluru tajam militer Israel menembus bahu gadis tersebut. Rentetan peristiwa ini menghancurkan kondisi psikologisnya.
Ia menyebut bahwa ruang kegembiraan telah sirna dari perayaan Ramadan, Idul Fitri, hingga Idul Adha di Gaza; semua hari telah berubah menjadi ratapan dan rasa sakit.
Melonjak 10 Lipat: Monopoli Energi dan Angka Kerusakan Pasar
Penderitaan yang dialami Ummu Yaqub berakar langsung pada kelangkaan akut pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan gas yang masuk ke Jalur Gaza akibat blokade perimeter oleh militer Israel. Hal ini memicu lonjakan harga komoditas energi ke angka yang tidak masuk akal dalam sejarah pasar domestik.
Sebagai gambaran kasar, krisis listrik yang terjadi memaksa harga jual per kilowatt-jam (kWh) melonjak drastis hingga 10 kali lipat. Jika sebelum perang harga 1 kWh hanya berkisar di angka 2,5 shekel (sekitar 80 sen dolar AS), maka kini warga harus merogoh kocek antara 20 hingga 30 shekel (setara 7 hingga 10 dolar AS) per kWh.
Tarif abnormal ini berada jauh di luar batas daya beli rata-rata masyarakat Gaza yang telah kehilangan sumber pendapatan mereka sejak Oktober 2023.
Kondisi gas untuk memasak (cooking gas) bahkan jauh lebih memprihatinkan karena pasokannya diputus total dari pintu perbatasan. Realitas empiris ini memaksa mayoritas mutlak penduduk Gaza beralih menggunakan kayu bakar, ranting pohon, kertas, dan kardus bekas sebagai instrumen primer untuk mempertahankan kelangsungan dapur mereka.
Langkah darurat ini terus mereka lakukan demi melintasi badai krisis bahan bakar yang sengaja dirancang oleh otoritas penjajah untuk melumpuhkan ketahanan hidup bangsa Palestina.
(Sumber: Al Jazeera / Al Jazeera Mubasher)










