Rombongan pertama warga Palestina akhirnya memasuki Jalur Gaza melalui Gerbang Rafah, Senin malam (2/2/2026), dalam operasional perdana lintas darat yang kembali dibuka setelah ditutup lebih dari satu setengah tahun. Pembukaan ini berlangsung di bawah pembatasan dan prosedur keamanan ketat Israel.

Satu unit bus yang tiba di Gaza hanya mengangkut 12 penumpang, terdiri dari tiga anak-anak dan selebihnya perempuan. Koresponden Al Jazeera melaporkan, para penumpang tiba di area Kompleks Medis Nasser yang disiapkan sebagai titik penerimaan warga yang kembali dari luar Gaza. Perjalanan mereka memakan waktu sekitar 20 jam, termasuk pemeriksaan fisik langsung dan interogasi panjang oleh militer Israel.

Para penumpang mengungkapkan bahwa mereka sempat ditahan di sejumlah pos militer di dalam Gaza, khususnya di Jalan Salahuddin yang kini berubah menjadi jalur militer Israel, dengan jarak pemeriksaan mencapai lebih dari 20 kilometer.

Sumber Palestina dan Israel menyebut, rencana awal hari pertama pembukaan Rafah adalah mengizinkan 50 pasien Gaza keluar untuk berobat, dengan imbalan 50 warga Palestina yang tertahan di Mesir kembali ke Gaza. Namun, Israel hanya menyetujui keluarnya lima pasien, menurut pejabat medis Palestina.

Respons Internasional

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menyambut pembukaan sebagian Gerbang Rafah untuk pergerakan orang. Namun, ia menegaskan langkah ini belum cukup, dan menilai Rafah harus berfungsi sebagai koridor kemanusiaan penuh untuk menyalurkan bantuan penyelamat nyawa.

Qatar juga menyatakan pembukaan Rafah sebagai langkah ke arah yang benar dalam merespons kondisi kemanusiaan dan kesehatan warga sipil Gaza. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Qatar menekankan pentingnya pelaksanaan penuh kesepakatan gencatan senjata serta pembukaan seluruh perlintasan guna memastikan bantuan mengalir berkelanjutan tanpa hambatan.

Qatar kembali menegaskan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina, berdasarkan hukum internasional dan solusi dua negara, dengan berdirinya negara Palestina merdeka di perbatasan 1967, dan Al-Quds Timur sebagai ibu kota.

Ketua Komite Nasional Pengelolaan Gaza, Ali Shaath, menilai pembukaan Rafah sebagai langkah penting yang membuka secercah harapan, khususnya bagi kasus-kasus kemanusiaan. Ia menyebut operasional dua arah gerbang ini krusial untuk mengatur mobilitas warga serta meringankan beban kemanusiaan, terutama bagi pasien, korban luka, pelajar, dan reunifikasi keluarga.

Masih Terbatas

Operasional penuh Gerbang Rafah dua arah resmi dimulai Senin ini, untuk pertama kalinya sejak Mei 2024, setelah sehari sebelumnya dilakukan uji coba terbatas. Pembukaan ini merupakan bagian dari tahap kedua kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Pada hari yang sama, kelompok pertama pasien dan korban luka Palestina diberangkatkan ke Mesir untuk menjalani perawatan medis. Kantor Berita Jerman (DPA) melaporkan, lima pasien dengan 10 pendamping berhasil melintas, meski prosesnya mengalami penundaan signifikan akibat prosedur pemeriksaan ketat.

Dari sisi Mesir, puluhan warga Palestina sejak Senin pagi telah berkumpul di Rafah, berharap bisa kembali ke Gaza seiring diberlakukannya mekanisme baru. Diperkirakan sekitar 80 ribu warga Palestina masih berada di Mesir dan menunggu izin untuk pulang ke Jalur Gaza.

Situasi Lapangan Masih Memanas

Di tengah pembukaan perlintasan, kekerasan di lapangan masih terjadi. Sumber di Rumah Sakit Al-Awda melaporkan sejumlah warga terluka akibat serangan drone Israel di Kamp Nuseirat, Gaza tengah.

Sebelumnya, sumber medis di Rumah Sakit Nasser mengonfirmasi dua warga Palestina syahid, salah satunya anak-anak, akibat tembakan pasukan Israel di luar zona operasi mereka di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis. Beberapa warga lainnya dilaporkan terluka setelah tembakan diarahkan ke tenda-tenda pengungsi.

Sementara itu, Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza melaporkan seorang warga Palestina syahid akibat tembakan pasukan Israel di Jabalia al-Balad. Koresponden Al Jazeera menyebut drone Israel melepaskan tembakan langsung ke arah warga di Jalan Al-Nuzha.

Militer Israel, di sisi lain, mengklaim telah membunuh empat warga Palestina di dekat “garis kuning” Gaza utara dengan alasan ancaman keamanan.

Dalam perkembangan terpisah, Hamas menyatakan telah menyelesaikan prosedur administratif untuk menyerahkan pengelolaan lembaga pemerintahan kepada Komite Nasional Pengelolaan Gaza, serta menyerukan semua pihak untuk mempermudah kerja komite tersebut guna memulai proses pemulihan pascaperang selama dua tahun.

Sumber: Al Jazeera, DPA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here