JAKARTA — Lautan manusia kembali memadati kawasan Patung Kuda dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Ahad (26/7/2026 M – 11 Safar 1448 H). Ribuan warga dari Jakarta dan sekitarnya berhimpun dalam Aksi Bela Palestina untuk menegaskan dukungan terhadap perjuangan rakyat Gaza serta mendesak penghentian kekerasan di tanah Palestina yang tak kunjung usai.
Sejak pagi hari, massa dari berbagai kalangan merapatkan barisan dengan mengenakan atribut bercorak bendera Palestina. Bendera Merah Putih dan bendera Palestina berkibar berdampingan di tengah kerumunan sebagai simbol kuat solidaritas masyarakat Indonesia. Berbagai poster bernada teguran dan ajakan moral diangkat tinggi-tinggi, di antaranya bertuliskan “Gugat Penjahat Kemanusiaan” dan “Forgive Us Gaza”.
Akibat tingginya antusiasme massa yang memadati lokasi, arus lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Selatan dari arah Gambir menuju Patung Kuda maupun arah sebaliknya terpaksa ditutup sementara oleh petugas. Sebuah panggung orasi berdiri di tengah area aksi sebagai pusat penyampaian seruan kemanusiaan.

Aksi yang diinisiasi oleh Majelis Ormas Islam (MOI) bersama jajaran organisasi kemasyarakatan Islam ini mengusung tajuk besar “Gaza for Israel Jika Kita Tetap Diam”. Pesan utama yang diusung adalah mengingatkan publik agar tidak bersikap pasif terhadap genosida dan penderitaan yang masih berlangsung di Gaza.
“Kita ingin membuktikan bahwa Indonesia tidak pernah diam. Walau banyak negara yang diam, Indonesia tidak pernah diam,” seru salah satu orator dari atas panggung utama yang disambut gemuruh takbir peserta aksi.
Panggilan Konsistensi dan Perjuangan Moral
Aktivis kemanusiaan Muhammad Husein Gaza yang hadir di panggung orasi menekankan bahwa aksi publik ini merupakan bentuk desakan nyata kepada dunia internasional sekaligus pemerintah Indonesia agar mengambil langkah konkret mengatasi tragedi kemanusiaan di Palestina. Menurutnya, aksi solidaritas tidak boleh padam selama kejahatan kemanusiaan masih terjadi.
“Genosida ternyata belum berhenti. Pembantaian masih terjadi, maka aksi kita akan terus berjalan. Kalian yang hadir hari ini adalah sisa-sisa kehormatan yang masih berjuang berdiri tegak, di saat mayoritas dunia mulai lelah dan bosan,” ujar Husein di hadapan ribuan massa.
Husein mengajak masyarakat untuk meluapkan kepedulian bukan sekadar dengan tangisan di ruang publik, melainkan lewat keteguhan doa di sepertiga malam serta aksi nyata di kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa tolok ukur keberhasilan perjuangan membela Palestina tidak cuma diukur dari jumlah peserta aksi maupun besaran donasi, tetapi dari konsistensi ibadah dan kepedulian yang terus dirawat.
“Maka tidak akan pernah kita bebaskan Masjidil Aqsha kalau kita gagal membebaskan masjid-masjid di sekitar kita dari kekosongan. Bukti keseriusan kita memperjuangkan Baitul Maqdis adalah ketika kaki kita melangkah setiap salat lima waktu memenuhi masjid-masjid di sekitar kita,” tegas Husein.

Pelajaran Keteguhan dari Warga Gaza
Senada dengan Husein, orator utama Habib Hanif Alatas mengajak umat Islam mengambil pelajaran berharga dari ketabahan warga Gaza yang bertahan di bawah himpitan agresi militer. Keteguhan dan kesabaran rakyat Palestina, menurutnya, harus menjadi teladan moral sekaligus pemicu semangat bagi masyarakat Indonesia untuk terus mengalirkan dukungan moral, bantuan kemanoiaan, serta doa tanpa henti.
Melalui deretan orasi tokoh dan kehadiran ribuan massa di jantung ibu kota, Aksi Bela Palestina ini kembali menegaskan posisi masyarakat Indonesia: berdiri kokoh menyuarakan keadilan bagi kemerdekaan dan kedamaian di tanah Palestina.










