GAZA — Bagi Jamal al-Durra, tragedi tidak berhenti pada hari ketika putranya, Muhammad, syahid ditembak tentara Israel pada awal Intifada Al-Aqsa 26 tahun lalu.
Peluru yang merenggut Muhammad juga meninggalkan luka panjang pada tubuh Jamal. Bertahun-tahun kemudian, genosida di Jalur Gaza kembali membawa kehilangan ke dalam keluarganya. Anak-anaknya menjadi korban, rumahnya hancur, kerabatnya syahid, dan keluarganya harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari serangan.
Nama Muhammad al-Durra sudah lama melekat dalam ingatan dunia. Pada 30 September 2000, kamera televisi merekam seorang bocah Palestina yang berlindung dalam pelukan ayahnya di balik penghalang beton ketika keduanya berada di bawah tembakan.
Beberapa saat kemudian, Muhammad syahid.
Gambar itu menyebar ke berbagai penjuru dunia dan menjadi salah satu rekaman paling kuat dalam sejarah pemberitaan penjajahan Palestina. Sosok bocah yang berlindung di balik tubuh ayahnya kemudian menjadi simbol Intifada Al-Aqsa dan penderitaan anak-anak Palestina.
Intifada Al-Aqsa sendiri meletus pada 28 September 2000 setelah Ariel Sharon, yang ketika itu merupakan pemimpin oposisi Israel, memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa. Aksi tersebut memicu kemarahan warga Palestina di Al-Quds yang kemudian meluas ke berbagai wilayah Palestina yang diduduki.
Namun, bagi Jamal, kisah itu bukan sekadar rekaman sejarah. Luka itu masih ada. Dan perang Gaza kembali membukanya.
Harga yang Dibayar Keluarga
Dalam genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023, keluarga Jamal kembali kehilangan anggota keluarganya.
Ahmed, 33 tahun, putra Jamal sekaligus saudara Muhammad, syahid dalam perang tersebut. Putra Jamal lainnya, Mahmoud, ditangkap tentara Israel setelah mengalami luka tembak. Ia kemudian mengalami penyiksaan hingga akhirnya harus kehilangan satu kakinya.
Kehilangan juga menimpa saudara-saudara Jamal. Dua saudaranya syahid, masing-masing bersama istrinya dan bersama putrinya. Lebih dari 80 anggota keluarga dan tetangganya juga disebut menjadi korban dalam berbagai serangan.
Jamal dan keluarganya sendiri berulang kali harus mengungsi.
Rumah keluarga mereka di Kamp Al-Bureij, Gaza tengah, yang terdiri atas lima lantai, hancur akibat serangan udara Israel. Rumah keluarga besarnya juga rusak. Bangunan-bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan parah, mengubah lingkungan yang selama bertahun-tahun menjadi tempat hidup keluarga itu menjadi hamparan reruntuhan.
Kini, karena tidak memiliki tempat tinggal lain yang aman, Jamal tinggal bersama anak-anaknya yang masih tersisa di sebagian bangunan yang rusak tersebut.
Risikonya tidak kecil. Bangunan di sekitar mereka mengalami keretakan dan sewaktu-waktu bagian yang tersisa dapat runtuh.
Kehidupan sehari-hari pun dibayangi persoalan lain: air, listrik, makanan, dan bahan bakar yang sulit diperoleh.
Bagi keluarga itu, perang bukan hanya soal ancaman serangan. Kehancuran telah masuk ke dalam rumah, memutus sumber kehidupan, dan membuat tempat tinggal yang tersisa pun tidak sepenuhnya aman.
“Mereka Mengenal Saya, Lalu Menyiksa Saya”
Putra Jamal, Mahmoud, kini berusia 17 tahun. Ia masih menjalani dampak luka yang dialaminya pada Oktober 2025.
Saat itu, Mahmoud mencari kayu bakar untuk memasak karena keluarga kesulitan mendapatkan gas. Ia ditembak di bagian kaki. Dalam kondisi terluka, ia kemudian ditangkap tentara Israel.
Menurut kesaksiannya kepada Al Jazeera, Mahmoud mengalami pemukulan dan perlakuan kasar selama ditahan. Ia mengatakan para tentara menyiramkan air dan minuman bersoda ke lukanya. Ia juga mengaku mendapat ancaman pembunuhan terhadap dirinya dan kedua orang tuanya.
Mahmoud mengatakan para tentara mengetahui identitasnya sebagai saudara Muhammad al-Durra.
“Mereka mengenal saya,” katanya. Menurut Mahmoud, pengetahuan itu membuat perlakuan terhadap dirinya terasa seperti bentuk kebencian dan pembalasan, terlebih setelah rumah keluarganya dihancurkan dan sejumlah kerabatnya syahid.
Sekitar sembilan jam setelah ditahan dan mengalami perlakuan tersebut, Mahmoud diserahkan kepada tim Palang Merah. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa.
Dokter berusaha menyelamatkan kakinya. Namun upaya tersebut gagal dan kaki Mahmoud akhirnya harus diamputasi.
Kini, remaja itu menjalani hari-harinya di dalam rumah yang sebagian telah hancur. Ia tidak lagi leluasa membantu keluarganya seperti sebelumnya. Ia juga tidak bisa bermain sepak bola, olahraga yang dulu menjadi bagian dari kesehariannya.
Mahmoud kini menunggu kesempatan untuk mendapatkan perawatan di luar Jalur Gaza.
Luka yang Tak Pernah Hilang
Dua puluh enam tahun setelah Muhammad syahid, ingatan tentang hari itu masih melekat pada Jamal.
Luka akibat insiden tersebut masih membekas di tubuhnya. Begitu pula ingatannya tentang saat-saat terakhir bersama Muhammad di persimpangan Al-Syuhada.
Perang Gaza membuat ingatan itu kembali muncul hampir setiap hari.
Setiap kali Jamal melihat anak-anak Palestina terbunuh atau terluka, ia teringat kepada putranya.
Muhammad, kata Jamal, memiliki cita-cita yang jauh lebih besar daripada usianya. Ia ingin menjadi insinyur. Ia juga pernah membayangkan dirinya sebagai pengacara yang membela hak-hak masyarakat atau polisi yang melindungi tanah airnya.
Namun semua cita-cita itu berhenti ketika Muhammad masih menjadi seorang anak.
Kini, Jamal melihat anak-anak Gaza lainnya menghadapi nasib serupa. Ada yang syahid, terluka, kehilangan rumah, atau terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Pemandangan tubuh anak-anak yang menjadi korban perang, kata dia, selalu membawanya kembali kepada satu hari ketika ia kehilangan Muhammad.
Enam Kali Mengungsi
Perang juga membuat keluarga al-Durra menjalani perjalanan pengungsian berulang kali.
Menurut Jamal, keluarganya telah mengungsi enam kali.
Pada pekan-pekan pertama perang, mereka meninggalkan rumah dan berlindung di sekolah-sekolah yang dikelola Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di dalam kamp. Ketika operasi darat meluas, keluarga itu kembali terpaksa pergi dan menuju Al-Zawaida di Gaza tengah.
Ketika operasi militer semakin meluas dan ancaman kembali datang, mereka bergerak menuju Rafah.
Mereka sempat tinggal di sana sebelum kembali dipaksa pergi akibat meluasnya operasi militer Israel di Rafah.
Dari Rafah, keluarga itu kembali ke Kamp Nuseirat. Setelah itu mereka berpindah lagi ke Kamp Al-Bureij.
Perpindahan tersebut bukan pilihan. Setiap kali kawasan tempat mereka berlindung berubah menjadi wilayah berbahaya, mereka harus kembali mengemas apa yang tersisa dan pergi.
Kini perjalanan itu berakhir di tempat yang paling mereka kenal: rumah sendiri yang telah menjadi reruntuhan.
Di sana, Jamal tinggal bersama anak-anaknya yang tersisa.
Harapannya sederhana. Ia ingin perang berhenti dan kehidupan kembali stabil. Ia ingin anak-anak, cucu-cucu, dan seluruh anak Gaza dapat tumbuh tanpa suara bom, tanpa ketakutan harus kembali mengungsi.
Sebab bagi Jamal, keluarga al-Durra sebenarnya tidak pernah benar-benar meninggalkan tragedi 2000.
Dua puluh enam tahun setelah Muhammad syahid, perang kembali membawa kehilangan baru.
Kali ini, yang tersisa bukan hanya sebuah kenangan tentang seorang anak yang pernah berlindung dalam pelukan ayahnya, tetapi sebuah keluarga yang terus hidup dengan luka yang diwariskan dari satu perang ke perang berikutnya.
Sumber: Al Jazeera










