Musim dingin kembali menyapa Gaza tanpa ampun. Hujan deras mengguyur tenda-tenda pengungsi di kawasan Mawasi, Khan Younis, menenggelamkan tempat berlindung yang rapuh. Tim pertahanan sipil dilaporkan menyelamatkan sejumlah keluarga setelah air merendam seluruh isi tenda mereka, mengubah malam menjadi kepanikan yang basah dan dingin.

Dari Kamp Nuseirat di tengah Jalur Gaza, warga masih bergulat dengan genangan air yang tak kunjung surut. Banyak keluarga tak sempat menyantap sahur secara layak karena harus menguras air dari dalam tenda. Permintaan bantuan membludak, jauh melampaui kemampuan tim penyelamat di lapangan.

Di saat hujan mengguncang dari langit, serangan militer Israel terus berlanjut di darat. Sumber dari Rumah Sakit Al-Ma’madani menyebut dua orang terluka akibat tembakan pasukan Israel di luar area penyebaran mereka di lingkungan Shuja’iyya, Gaza City. Serangan udara dilaporkan terjadi di wilayah timur Khan Younis, sementara artileri Israel menghantam bagian barat Rafah di selatan serta timur Kamp Al-Bureij di wilayah tengah.

Peringatan PBB: Situasi Masih Katastropik

Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menegaskan bahwa situasi di Gaza tetap berada pada level bencana. Bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk dinilai jauh dari cukup dibandingkan kebutuhan riil di lapangan.

Türk juga mengungkap kekhawatiran serius akan kemungkinan terjadinya pembersihan etnis di Gaza dan Tepi Barat. Ia menyoroti warga Palestina yang terus menjadi korban tembakan, kelaparan, dan penyakit. Menurutnya, solusi berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui dua negara yang hidup berdampingan dengan martabat dan hak setara, sesuai resolusi PBB dan hukum internasional.

Ancaman Pendudukan Kembali

Sementara itu, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menegaskan pemerintahannya belum melepaskan tujuan menghancurkan Hamas. Ia menyatakan memberi ruang bagi Presiden AS Donald Trump untuk menuntaskan hal tersebut “dengan caranya”. Namun jika upaya itu gagal, Smotrich mengklaim Israel akan memperoleh legitimasi internasional dan dukungan Amerika untuk melanjutkan operasi militer.

Ia bahkan mengancam akan segera mengeluarkan ultimatum kepada Hamas untuk menyerahkan senjata dan infrastruktur militernya. Jika tidak dipenuhi, Israel disebut akan kembali menduduki wilayah-wilayah baru di Gaza, berkoordinasi dengan pihak Amerika Serikat, dan pada akhirnya membangun permukiman Yahudi di sana.

Di Gaza, musim dingin tak hanya membawa hujan. Ia datang bersama dentuman artileri dan ketidakpastian masa depan. Di antara tenda yang terendam dan langit yang masih berasap, warga sipil kembali menjadi pihak yang menanggung beban paling berat, berjuang melawan dingin, lapar, dan ancaman yang tak pernah benar-benar reda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here