GAZA — Memasuki September, benak Fatima Nasser tak lagi diisi oleh bayangan membeli seragam baru atau memilih tas sekolah berwarna cerah untuk buah hatinya. Bagi ibu lima anak yang kini menjejali sisa-sisa bangunan masjid hancur di selatan Gaza ini, fokus hidupnya telah terperosok ke tingkat paling mendasar: mencari setetes air bersih dan sesuap makanan.

Di tengah impitan perang yang tak kunjung usai, sekolah bukan lagi agenda rutin tahunan, melainkan mimpi luhur yang terpaksa digantung di langit-langit tenda.

Pendidikan yang Tercekik di Bawah Tenda

Fatima (30-an) menggambarkan kondisi keluarganya dalam satu kata: hancur. Suaminya kehilangan pekerjaan sejak gelombang agresi meluas pada 7 Oktober 2023, menambah panjang barisan pengangguran yang hidup tanpa penghasilan tetap.

Ketika kalender menunjukkan mulainya tahun ajaran baru pada pekan pertama September, Fatima hanya bisa menatap nanar deretan kebutuhan anak-anaknya. Dari pakaian, tas, hingga buku tulis dan alat tulis dasar.

“Bagaimana anak-anak saya bisa kembali belajar, sementara untuk membeli selembar kertas pun kami tidak punya uang?” bisiknya getir.

Tenda lapuk yang menaungi mereka jauh dari kata kondusif untuk belajar. Fatima sempat mencoba mengajar anak-anaknya sendiri, tetapi riuh campur aduk di kamp pengungsian, ketiadaan buku cetak, hingga ketidakmampuan membeli ponsel pintar menggagalkan niatnya.

Padahal, platform digital yang dirilis Kementerian Pendidikan menjadi satu-satunya jalur alternatif setelah gedung-gedung sekolah hancur atau beralih fungsi menjadi penampungan darurat.

“Dulu hidup kami bahagia dan tenang. Suami saya bekerja dan memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sekarang, tak ada satu pun sisa dari kehidupan masa lalu kami,” kenangnya.

Melambungnya Harga Alat Tulis

Krisis ini berimbas langsung ke lapak-lapak pedagang kecil. Di atas trotoar dekat Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Yasmeen Abu Shawish menata alat tulis di toko sederhananya. Sarjana muda yang terpaksa berdagang demi menyambung hidup ini menyaksikan sendiri betapa loyonya daya beli para orang tua.

Yasmeen mengungkapkan bahwa krisis pendidikan di Gaza tidak hanya soal bangunan fisik yang hancur, tetapi juga hancurnya rantai pasok alat tulis akibat melambungnya harga pasar.

Ia memberi gambaran: sebatang pensil yang sebelum perang dijual seharga setengah syikal (sekitar Rp2.100), kini melonjak menjadi 2 syikal (sekitar Rp8.500). Buku tulis isi 40 lembar yang dulunya 1 syikal meroket ke angka 3 syikal, sementara buku isi 60 lembar tembus hingga 7 syikal (sekitar Rp30.000). Padahal, nilai 1 dolar AS setara dengan sekitar 3 syikal.

“Masyarakat bahkan kesulitan membeli makanan dan air. Sepinya pembeli alat tulis jelang tahun ajaran baru menunjukkan bahwa bagi sebagian besar keluarga di sini, menyekolahkan anak bukan lagi prioritas yang bisa dijangkau, melainkan beban keuangan yang mustahil ditanggung,” kata Yasmeen.

Sekolah Darurat dan Kardus Bantuan sebagai Buku Tulis

Di tengah kegelapan itu, beberapa pihak menolak menyerah. Di kawasan pengungsian Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, seorang guru bernama Ahlam Abdel Ati mendirikan “TK dan Sekolah Model Ahlam Gaza”.

Sekolah darurat beratap kain tenda dan berbekal dana pribadi ini didirikan secara gratis demi menyelamatkan masa depan anak-anak pengungsi.

Kementerian Pendidikan di Gaza mencatat angka yang mengerikan: sebanyak 80 persen bangunan sekolah kini lumpuh total dan tidak dapat digunakan. Sementara itu, 55 persen ruang kelas yang tersisa hanyalah tenda-tenda plastik dan terpal, menyebabkan sekitar 110 ribu siswa terancam putus sekolah.

Meski sekolah tendanya sudah tiga kali hancur diterjang serangan, Ahlam terus membangunnya kembali. Tanpa papan tulis resmi, ia menggantungkan selembar kayu bekas di depan tenda sebagai media mengajar.

“Pendidikan di Gaza bukan sekadar pilihan, ini adalah upaya bertahan hidup,” tegas Ahlam.

Ketabahan para murid membuat Ahlam terus bertahan. Banyak anak datang tanpa membawa buku karena orang tua mereka tak mampu membeli. Sebagai gantinya, anak-anak tersebut mencatat materi pelajaran di atas lembaran kardus bekas pembungkus paket bantuan kemanusiaan.

Beberapa anak saling berbagi satu batang pensil, atau satu keluarga hanya mampu membeli satu buku tulis untuk dipakai bersama seluruh mata pelajaran.

Ponsel Pintar yang Tak Terjangkau

Di sekolah daruratnya, Ahlam kerap menggunakan ponsel miliknya sebagai pengganti buku teks. Ponsel pintar kini bergeser fungsi menjadi “sekolah portabel”.

Namun, solusi digital ini menghadapi jalan buntu. Harga ponsel bekas meroket tajam, ditambah sinyal internet yang tidak stabil dan sering terputus di area pengungsian.

Anak-anak Gaza kini terkepung dari segala arah: sekolah hancur, alat tulis melambung tinggi, dan kondisi ekonomi keluarga yang lumpuh total. Banyak anak yang seharusnya berada di kelas justru harus menghabiskan hari-hari mereka mengantre air bersih atau mencari bantuan makanan demi menyambung hidup keluarga.

Year ajaran baru di Gaza tak lagi dibuka dengan dentang bel sekolah atau buku-buku baru, melainkan oleh deru perang dan garis pembatas konflik yang kian mencengkeram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here