Ramallah — Lembaga Physicians for Human Rights (PHR), mengeluarkan peringatan keras terkait kondisi kesehatan dr. Hussam Abu Safiya. Dokter asal Palestina tersebut saat ini dipindahkan ke ruang interogasi bawah tanah di Penjara Al-Ramla, sebuah fasilitas yang dikenal memiliki rekam jejak kelam bagi para tahanan. PHR menegaskan bahwa nyawa sang dokter kini berada dalam ancaman maut yang nyata.
Kondisi fisik dr. Abu Safiya terungkap setelah kuasa hukumnya berhasil melakukan kunjungan darurat baru-baru ini. Pengacara tersebut menyaksikan langsung rentetan luka lebam baru yang sangat serius di area krusial tubuh korban, mulai dari kepala, sekitar mata, telinga, hingga leher. Saat ditemui, dr. Abu Safiya berada dalam kondisi sangat ringkih, bahkan mengalami sesak napas akut dan kesulitan besar untuk sekadar berbicara secara runtut.
Kepada pengacaranya, dr. Abu Safiya memberikan kesaksian memilukan bahwa dirinya dikeroyok oleh empat hingga lima orang sipir di dalam sel isolasi. Mereka memukulinya secara membabi buta di sekujur tubuh tanpa ampun.
Disekap dalam Kondisi Tangan dan Kaki Diborgol
Nasser Odeh, pengacara dr. Abu Safiya, mengonfirmasi bahwa kunjungan hukum yang dilakukannya pada akhir Mei lalu telah menyingkap tabir perlakuan sadis yang dialami kliennya di balik jeruji besi.
Selain menjadi korban kekerasan fisik, dr. Abu Safiya dipaksa bertahan hidup dalam kondisi yang jauh dari kemanusiaan:
- Tangan dan kakinya terus diborgol sepanjang hari tanpa dilepas.
- Sengaja dideprivasi dari akses air minum yang layak konsumsi.
- Hanya diberikan jatah makanan yang sangat minim.
- Akses terhadap perawatan medis berkala diputus total, padahal ia mengidap penyakit bawaan yang fatal.
Odeh menceritakan bahwa pertemuan singkat tersebut berlangsung di bawah pengawasan ketat. Mereka ditempatkan di ruang khusus yang dipasangi kamera pengintai, dipisahkan oleh sekat kaca tebal, dan komunikasi hanya bisa dilakukan melalui interkom kabel.
Selama interaksi berjalan, sejumlah sipir bersenjata berdiri tepat di samping pengacara dan dr. Abu Safiya. Intimidasi melekat ini membuat dr. Abu Safiya tidak memiliki kebebasan untuk menceritakan seluruh siksaan yang dialaminya karena didera ketakutan akan adanya aksi balas dendam atau hukuman yang lebih berat setelah pengacaranya pulang.
Penyiksaan Sistematis: Kehilangan 25 Kilogram Bobot Tubuh
Pihak keluarga dr. Abu Safiya kini melayangkan tuntutan keras dan meminta pertanggungjawaban penuh dari otoritas keamanan serta manajemen penjara Israel atas keselamatan nyawa sang dokter. Pihak keluarga menilai kebijakan penempatan dr. Abu Safiya di sel isolasi bawah tanah merupakan bentuk eskalasi hukuman yang sengaja dirancang untuk membunuhnya secara perlahan.
Penyusutan Fisik dr. Abu Safiya akibat Kelalaian Medis:
[Bobot Mula-Mula] -> [Kelaparan & Kudis (Scabies) di Sel] -> [Kehilangan 25 Kg Berat Badan]
Laporan dari berbagai lembaga hak asasi manusia independen mengonfirmasi bahwa dr. Abu Safiya mengidap penyakit jantung kronis dan hipertensi (tekanan darah tinggi). Akibat buruknya sanitasi di dalam sel penahanan, ia juga tertular penyakit kulit kudis (scabies) yang parah. Akibat kombinasi kelaparan terstruktur dan pengabaian medis, sang dokter dilaporkan telah kehilangan bobot tubuh hingga 25 kilogram.
Merespons krisis kemanusiaan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Komite Internasional Palang Merah (ICRC), serta aliansi dokter medis internasional mendesak Israel untuk segera menghentikan penyiksaan, menjamin keselamatan fisik dr. Abu Safiya, dan memberikan hak layanan medis darurat sebelum terlambat.










