WASHINGTON — Pergeseran peta politik internal Partai Demokrat di Washington kini melangkah jauh melebihi dugaan. Gelombang kritik atas agresi Israel tidak lagi didominasi oleh kubu progresif semata. Ketakutan akan kehilangan basis pemilih kini mulai memaksa para anggota DPR AS (House of Representatives) dari kubu moderat untuk secara terbuka berbalik arah menolak kebijakan Tel Aviv.
Laporan eksklusif portal berita Axios memotret peta pergeseran tebal ini lewat pemungutan suara terbaru di Capitol Hill terkait pemotongan bantuan luar negeri. Sebanyak 103 politisi Demokrat secara mengejutkan memilih mendukung amandemen rancangan undang-undang anggaran yang memblokir kucuran dana segar untuk Israel.
Langkah politis yang tak biasa ini dipandang sebagai bentuk kemarahan kolektif yang tak lagi mampu ditampung, menyasar agresi militer di Gaza dan Lebanon serta manuver politik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Pesan Menohok Menggunakan Uang Pajak
Usulan amandemen undang-undang tersebut sejatinya digagas oleh politisi Republikan, Thomas Massie, dan tidak memuat klausul pengecualian untuk dana diplomasi non-militer. Kendati demikian, jajaran anggota DPR dari Partai Demokrat memilih membuang formalitas birokrasi demi melayangkan sinyal peringatan keras kepada rezim Israel.
“Sikap publik Amerika terhadap Israel telah berubah drastis sepanjang tahun lalu. Kami dipaksa mencerminkan kegelisahan para konstituen,” ungkap seorang legislator Demokrat dari daerah pemilihan krusial (swing district) kepada Axios.
“Masyarakat kini memandang bantuan itu sebagai pemborosan uang pajak yang dipakai untuk membiayai kehancuran di Gaza.”
Kemenangan para kandidat penyokong isu Palestina yang sukses menumbangkan figur-figur usungan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) pada Pemilu Sela lalu kian mempertegas badai politik ini.
Juru bicara kelompok Justice Democrats, Usamah Andrabi, menegaskan bahwa jatuhnya pilar-pilar kekuasaan AIPAC memaksa jajaran elit elit partai untuk berhenti menutup mata. Suara riil masyarakat di tingkat akar rumput kini tak lagi bisa dikesampingkan begitu saja.
Di Antara Teror Politik Kiri dan Keretakan Kepemimpinan
Namun, sudut pandang berbeda dilayangkan oleh loyalis pro-Israel di internal partai. Mereka menilai fenomena balik arah ini bukan didasari oleh keyakinan ideologis, melainkan murni dorongan pragmatisme politik akibat ketakutan tersingkir pada pemilu mendatang.
Anggota DPR dari Demokrat, Josh Gottheimer, tak menampik bahwa tensi ini sudah bergeser menjadi arena tekanan politik. Menurutnya, banyak politisi terpaksa mengambil keputusan karena khawatir akan diamuk oleh kubu sayap kiri (progressive wing) yang kian vokal di daerah pemilihan mereka.
Hasil voting ini sekaligus menelanjangi jurang keretakan di tingkat kepemimpinan puncak Partai Demokrat. Ketua Fraksi Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, berdiri berseberangan dengan 103 rekannya tersebut setelah memimpin 98 anggota Demokrat lainnya untuk menolak amandemen Massie.
Beberapa internal Demokrat menilai Jeffries terlalu lambat dalam membaca dinamika pergeseran sosial yang melanda pemilih muda AS hari ini. Meski demikian, kubu pendukung Jeffries mengklaim bahwa campur tangan sang pimpinan berhasil menahan gelombang penolakan yang lebih masif.
“Tanpa intervensi dan lobi intensif dari Jeffries, angka legislator Demokrat yang membelot menolak bantuan Israel diprediksi bisa melonjak hingga 150 orang,” ungkap salah satu politisi yang terlibat dalam pembahasan anggaran tersebut.
Laporan Axios memungkas bahwa dukungan tanpa syarat untuk Israel yang selama puluhan tahun menjadi doktrin kaku di Capitol Hill kini telah kadaluarsa. Bagi politisi Demokrat hari ini, terus membela tindakan militer Israel di tengah kehancuran Gaza justru menjadi beban politik yang sangat mematikan bagi karir kekuasaan mereka.










