GAZA- Kelompok Palestina Hamas telah mengumumkan terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai kepala baru biro politik mereka. Terpilihnya Al-Hayya pada Senin (20/7/2026 M – 5 Safar 1448 H) menyusul syahidnya pemimpin sebelumnya, Yahya Sinwar, akibat serangan tentara Israel di Jalur Gaza pada tahun 2024.
Sinwar sebelumnya mengambil alih posisi tersebut setelah kepala biro politik Ismail Haniyeh dibunuh oleh Israel pada tahun yang sama. Al-Hayya sendiri pernah selamat dari upaya pembunuhan oleh Israel di Qatar tahun lalu.
Merujuk Aljazirah, penunjukannya dilakukan setelah pemungutan suara putaran kedua di Dewan Syura Umum gerakan tersebut yang mempertemukannya dengan mantan kepala politik Khaled Meshaal, menyusul kegagalan kedua kandidat meraih suara mayoritas yang disyaratkan (yaitu 50 persen ditambah satu suara) pada pemungutan suara sebelumnya.
Terpilihnya al-Hayya sejalan dengan kerangka kerja internal Hamas tahun 2021. Kerangka kerja ini mengharuskan posisi pimpinan puncak mencerminkan sektor-sektor geografis utamanya, yakni Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan diaspora.
Al-Hayya, yang sempat menjadi bagian dari dewan pemimpin sementara beranggotakan lima orang yang dibentuk pada akhir 2024 untuk menangani pemerintahan di masa perang, kini akan menjabat hingga sisa masa bakti kepengurusan saat ini berakhir pada tahun 2027.
Lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960, al-Hayya tumbuh dalam keluarga konservatif yang sangat terdampak oleh Perang Arab-Israel 1967 serta pendudukan Israel yang menyusul kemudian. Pengalamannya menyaksikan penggerebekan militer di rumah keluarganya di Gaza dan penangkapan kerabatnya semasa kecil turut membentuk kesadaran politik awalnya.
Pada Maret 1980, sebuah pertemuan penting dengan pendiri Hamas, Syekh Ahmed Yassin, membawanya terjun ke dalam kegiatan aktivisme yang terorganisasi.
Al-Hayya menempuh pendidikan Islam secara mendalam; ia meraih gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza pada tahun 1983, gelar master dari Universitas Yordania pada tahun 1986, serta gelar doktor di bidang ilmu hadis dari Sudan pada tahun 1997.
Ia kemudian menjabat sebagai dekan bidang kemahasiswaan di Universitas Islam Gaza dan bergabung dengan Asosiasi Ulama Palestina. Sebagai salah satu pendiri Hamas pada tahun 1987, al-Hayya berulang kali dipenjara oleh pasukan Israel selama pemberontakan Palestina yang dikenal sebagai Intifada Pertama pada akhir tahun 1980-an, serta mengalami penyiksaan berat selama masa penahanannya.
Pada 2006, ia terjun ke dunia politik secara resmi dengan memenangkan kursi di Dewan Legislatif Palestina dan memimpin blok parlemen Hamas. Selama dua dekade terakhir, al-Hayya memegang peran organisasi yang krusial, termasuk sebagai wakil pemimpin Hamas di Gaza dan kepala kantor hubungan Arab dan Islam organisasi tersebut.
Ia memainkan peran penting dalam urusan diplomatik gerakan itu, dengan memimpin delegasi dalam perundingan gencatan senjata setelah perang Israel di Gaza pada tahun 2012 dan 2014.
Menyusul pecahnya perang genosida Israel pada Oktober 2023, al-Hayya bertindak sebagai kepala negosiator Hamas dalam pembicaraan tidak langsung mengenai gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir.
Beroperasi terutama dari Qatar (yang mulai menampung biro politik Hamas pada tahun 2012 atas permintaan yang menurut pejabat Qatar berasal dari Amerika Serikat) memungkinkannya untuk menghindari blokade Gaza dan mengoordinasikan upaya diplomatik di seluruh kawasan.
Ia juga terlibat dalam manuver politik penting, termasuk memimpin delegasi ke Lebanon pada November 2023 untuk bertemu dengan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, serta selamat dari serangan pesawat nirawak (drone) di Beirut pada Januari 2024 yang menewaskan wakil kepala politik Hamas, Saleh al-Arouri.
Perjalanan politik al-Hayya diwarnai oleh upaya pembunuhan berulang kali oleh Israel dan kehilangan pribadi yang mendalam. Pada Mei 2007, serangan udara Israel terhadap rumah keluarganya menewaskan tujuh kerabat, termasuk dua saudara laki-lakinya. Pada tahun 2008, putranya, Hamza, seorang anggota Brigade Al-Qassam (sayap militer Hamas), syahid dalam serangan pesawat nirawak.
Selama perang tahun 2014, serangan Israel menewaskan putra sulungnya, Osama, beserta istri dan tiga anak mereka. Pada September 2025, al-Hayya selamat dari serangan Israel terhadap sebuah kompleks perumahan di ibu kota Qatar, Doha, yang menewaskan putranya, Humam, kepala kantornya Jihad Labad, tiga pengawal, dan seorang petugas keamanan Qatar.
Awal tahun ini, putra lainnya, Azzam, meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan udara Israel pada bulan Mei di kawasan Daraj, Kota Gaza.
Meskipun kehilangan sejumlah anggota keluarga dalam berbagai konflik yang terjadi secara berturut-turut, al-Hayya tetap menjadi tokoh sentral di biro politik Hamas. Hal ini pada akhirnya mengantarkannya terpilih sebagai pemimpin tertinggi gerakan tersebut, hampir tiga tahun setelah dimulainya perang terbaru Israel yang telah menewaskan lebih dari 73.000 orang.
Menurut analis politik Palestina Abdullah Aqrabawi, keputusan untuk menggelar pemungutan suara secara formal di tengah berlangsungnya operasi militer mencerminkan “karakter institusional yang mengakar kuat” dalam tubuh Hamas. “Alih-alih menempuh cara penunjukan langsung yang cepat atau keputusan berdasarkan konsensus semata… kelompok ini memilih proses pemungutan suara,” ujar Aqrabawi.
Ia menambahkan bahwa pemilihan yang melibatkan persaingan antar-kandidat tersebut menunjukkan adanya perdebatan internal yang sehat mengenai arah strategis gerakan itu.










