PALESTINA 48 — Menteri Keamanan Nasional Israel dari fraksi sayap kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, kembali memicu gelombang kecaman internasional usai menyerukan pembunuhan puluhan warga Palestina setiap malam serta pendudukan dan pemukiman kembali seluruh wilayah Jalur Gaza. Pernyataan kontroversial tersebut disampaikannya dalam wawancara khusus dengan media Inggris, Financial Times.

Dalam wawancara tersebut, Ben-Gvir menegaskan bahwa militer Israel seharusnya membunuh 30 hingga 40 warga Palestina setiap malam di Gaza dan segera membangun kembali pemukiman Yahudi di wilayah kantong tersebut.

“Penargetan ini tidak boleh hanya ditujukan kepada mereka yang memberi ancaman langsung. Ada orang-orang di Gaza yang sama sekali tidak layak untuk hidup; mereka bahkan bukan manusia,” ujar Ben-Gvir menggunakan diksi dehumanisasi yang ekstrem.

“Dorong Deportasi dan Tembak Mati”: Visi Radikal Ben-Gvir untuk Gaza

Ben-Gvir terang-terangan menyerukan penguasaan total atas wilayah Palestina dan mendorong eksodus massal warga Gaza.

  • Penguasaan dan Pemukiman Liar: Ia membayangkan seluruh wilayah Gaza jatuh ke bawah kendali penuh Israel, tidak hanya membangun kembali bekas blok pemukiman Gush Katif, tetapi menyebarkannya ke seluruh penjuru Gaza.
  • Pengusiran dan Eksekusi: Ben-Gvir secara terbuka mendukung skenario deportasi warga sipil (encouraging migration). “Semakin banyak yang keluar, semakin baik. Adapun bagi kelompok perlawanan, tidak ada istilah migrasi, kita harus menghabisi mereka satu per satu,” tuturnya.

Ia juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait pengurangan skala operasi militer belakangan ini. Langkah penurunan intensitas tersebut diambil Netanyahu di tengah tekanan intensif para pejabat Amerika Serikat yang tengah menggolongkan rencana perdamaian usulan Presiden Donald Trump.

Rekam Jejak Eskalasi dan Retorika Kebencian

Pernyataan Ben-Gvir ini memperpanjang deretan retorika provokatif dari menteri yang membawahi kepolisian dan sistem perbatasan Israel tersebut. Sebelumnya, Ben-Gvir kerap memamerkan keberhasilannya memperketat dan memperburuk kondisi penahanan warga Palestina di penjara-penjara Israel, fasilitas yang kerap mendapat sorotan lembaga HAM atas dugaan penyiksaan dan penyalahgunaan wewenang.

Di bawah kepemimpinannya, partai Otzma Yehudit (“Kekuatan Yahudi”) terus menggedor pengesahan undang-undang hukuman mati yang diskriminatif. RUU tersebut mengusulkan penerapan hukuman mati bagi warga Palestina yang terbukti membunuh warga Israel, namun mengecualikan hukuman serupa bagi warga Israel yang melakukan tindakan sejenis terhadap warga Palestina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here