GAZA / KEREM SHALOM — Perjalanan pulang ke tanah air bagi warga Palestina yang kembali ke Jalur Gaza melalui Perlintasan Kerem Shalom berubah menjadi lintasan penuh trauma. Berbagai kesaksian memperlihatkan ketatnya pemeriksaan fisik, penyitaan barang secara paksa, serta tindakan intimidatif yang diterapkan otoritas militer Israel di pintu-pintu batas wilayah.

Laporan mendalam Al Jazeera Mubasher menguraikan penderitaan para korban luka dan pasien yang terpaksa melintasi rute tersebut. Seorang wanita lansia yang telah menjalani tujuh kali operasi pada kakinya, kehilangan satu matanya, serta kehilangan tiga orang anaknya, menceritakan betapa beratnya proses kepulangan yang harus ia tempuh.

Saksi lain menceritakan bahwa rombongan mereka sempat ditahan selama tiga minggu di area perbatasan sebelum akhirnya dipindahkan dari Rafah menuju perlintasan Beit Hanoun (Erez) dan Kerem Shalom dalam ketidakpastian.

Pemeriksaan 7 Kali dan Penggeledahan Tanpa Sepatu di Tengah Dingin

Seorang pemuda yang menempuh perjalanan dari Mesir sejak tengah malam menceritakan detik-detik mencekam saat bus milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang mengangkut mereka dihentikan tepat di hadapan tank dan armada militer Israel di Kerem Shalom.

Pola pemeriksaan yang diterapkan petugas mencakup:

  • Pelepasan Busana dan Intimidasi: Warga dipaksa menanggalkan sepatu serta jaket tebal di tengah cuaca dingin menusuk demi menjalani pemeriksaan fisik secara berulang hingga tujuh kali berturut-turut.
  • Penyitaan Barang Elektronik dan Obat-Obatan: Petugas menyita ponsel, pengisi daya (charger), earphone, kartu SIM, obat-obatan pribadi, hingga barang kecil seperti korek api.
  • Pembatasan Batas Berat Tas (20 kg): Di area penimbangan, tentara secara acak membongkar dan membuang pakaian, sepatu, serta barang pribadi warga jika melebihi batas 20 kilogram. Bahkan, perlengkapan medis khusus untuk bayi tak luput dari penyitaan.

Haru dan Air Mata di Tanah Kelahiran

Kendati harus berjalan kaki sangat jauh tanpa makanan sejak subuh dan melalui rentetan penggeledahan yang melelahkan, kegembiraan membuncah saat warga akhirnya berhasil menginjakkan kaki di tanah Gaza.

Seorang pemuda menyambut haru kepulangan saudarinya yang telah terpisah selama tiga setengah tahun. Di titik lain, seorang ibu menggendong bayinya yang baru lahir setelah 16 tahun menanti keturunan.

“Melihat kembali tanah Gaza seketika menghapus seluruh rasa sakit, siksaan, dan kelelahan yang kami alami di pos-pos pemeriksaan,” tutur seorang warga sembari menahan air mata.

Kemenlu Palestina dan PBB Kecam Tindakan Kebiri Hak Pulang

Kementerian Luar Negeri Palestina mengutuk keras perlakuan kasar dan penjarahan barang pribadi milik warga yang kembali ke Gaza. Kemenlu memperingatkan bahwa kebijakan represif ini disengaja untuk menciptakan lingkungan yang tidak layak huni serta menakut-nakuti warga agar enggan kembali ke tanah air mereka (forced displacement).

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) turut menyatakan keprihatinan mendalam atas maraknya laporan kekerasan fisik, intimidasi, penggeledahan sewenang-wenang, hingga penghinaan yang dialami warga di Perlintasan Kerem Shalom dan Rafah.

Laporan OCHA membeberkan bahwa dokumen identitas, ijazah pendidikan, obat-obatan, hingga uang tunai milik warga disita tanpa mekanisme pengembalian yang jelas. Dalam satu hari di bulan Juli lalu, OCHA mencatat 54 dari 92 warga yang kembali melaporkan bahwa seluruh atau sebagian barang pribadi mereka disita secara paksa oleh petugas di pos perbatasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here