Langkah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang sengaja membawa kamera saat menerobos sel-sel tahanan perempuan Palestina di Penjara Damon dekat Haifa (serta mengunggah video tersebut ke media sosial untuk mempermalukan mereka) menyingkap manuver politiknya.
Menteri dari sayap kanan ekstrem itu secara gamblang memanfaatkan para tahanan perempuan yang berada di posisi rentan sebagai bahan jualan dalam panggung politiknya.
Berdasarkan laporan lembaga-lembaga hak asasi manusia Palestina dan Israel, terdapat 94 tahanan perempuan dan lebih dari 350 anak-anak di antara sekitar 9.500 warga Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel. Mereka terus mengalami penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis yang sistematis.
Pamer Kekejaman di Depan Kamera
Bentuk intimidasi terbaru terjadi pada Minggu (30/8/2026). Dalam rekaman video yang diunggah di akun platform X miliknya, Ben-Gvir terlihat berdiri didampingi pengawal pribadi di hadapan tiga tahanan perempuan dari gerakan Jihad Islam.
Ketiga tawanan tersebut tengah menyuarakan kondisi penahanan yang teramat buruk serta perampasan hak-hak dasar manusia.
“Kondisi di sini sangat buruk. Kami tidak mendapatkan hak-hak dasar sebagai wanita, termasuk kebutuhan pribadi. Ini hari ketiga kami tidak mandi. Banyak yang sakit dan kami tidak diberi obat, pakaian kami pun kotor,” tutur salah satu tahanan perempuan dalam video tersebut.
Merespons keluhan itu, sang menteri justru menjawab dengan penuh kesombongan: “Fasilitas dan kondisi enak di penjara sudah berakhir. Saya yang bertanggung jawab langsung atas semua ini, dan saya senang dengan kondisi kalian yang seperti ini.”
Dalam keterangan unggahan video tersebut, Ben-Gvir menulis: “Saya tidak akan terkecoh oleh (keluhan) para teroris tentang kondisi penjara. Sandera kita saja tidak mendapatkan fasilitas apa pun, dan saya akan terus menerapkan kebijakan dengan standar paling minimum dari yang terkecil.”
Pola Pemburukan yang Terus Berulang
Insiden tersebut bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada awal Agustus 2026, Ben-Gvir juga mengunggah video yang memperlihatkan dirinya sedang mengejek para tahanan perempuan di penjara yang sama, seraya mengancam akan menambah tindakan represif terhadap mereka.
Ia juga sempat membalas keluhan seorang tahanan perempuan terkait ketiadaan fasilitas hidup yang layak dengan pernyataan singkat: “Penjara bukan hotel.”
Sejak menjabat, Ben-Gvir konsisten menerapkan kebijakan pembalasan yang ekstrem terhadap para tahanan Palestina. Langkah-langkah tersebut mencakup pemangkasan jatah makanan dan air bersih, pembatasan kunjungan keluarga, pemotongan durasi mandi, hingga pencabutan berbagai hak dasar di dalam sel.
Dari Sel Tahanan Hingga Rekayasa AI
Tak cukup dengan unggahan video di sel penjara, pada malam harinya Ben-Gvir kembali mengunggah video lain berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Video tersebut merayakan kelaparan yang dialami para tahanan Palestina dengan menyematkan keterangan: “Kami berjanji dan kami menepatinya.”
Video rekayasa itu dibuka dengan adegan para tahanan yang tertawa di dalam ruang sidang, sebelum akhirnya mereka berjalan tertatih di atas rel dengan bermacam ikon makanan melayang di atas kepala mereka.
Pada adegan berikutnya, figur Ben-Gvir tampak merampas makanan-makanan tersebut di tengah keterkejutan para tahanan, lalu menggiring mereka masuk ke dalam fasilitas bertuliskan “Penjara Orang Gila”, sebutan yang diduga merujuk pada julukan yang sering disematkan para tahanan kepadanya. Video tersebut ditutup dengan adegan seorang tahanan yang menangis.
Panggung Pencarian Suara Politik
Pola perilaku Ben-Gvir yang berulang kali menjadikan tahanan perempuan dan warga Palestina secara umum sebagai objek provokasi memicu pertanyaan mendasar terkait motif utamanya. Lembaga-lembaga pemerhati hak-hak tahanan Palestina menegaskan bahwa aksi sang menteri bukan sekadar cerminan kesombongan personal, melainkan bagian dari strategi politik untuk meraup suara dalam pemilu.
Unggahan video yang memperlihatkan intimidasi terhadap tahanan perempuan tersebut memicu gelombang kemarahan dan kecaman luas di media sosial, terutama di kalangan netizen Arab dan Palestina. Mereka mengecam keras penggunaan lembaga pemasyarakatan sebagai arena kampanye politik.
Aktivis dan pegiat HAM menilai Ben-Gvir sengaja mengeksploitasi penderitaan para tahanan perempuan demi mendongkrak popularitasnya dalam proses pemilu. Menampilkan kondisi penjara yang serba memprihatinkan di bawah kepemimpinannya dianggap sebagai taktik ampuh untuk menarik simpati pemilih dari kelompok kanan ekstrem.
Hamas: Tahanan Bukan Komoditas Kampanye
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengutuk keras aksi Ben-Gvir yang menerobos sel tahanan perempuan dan mengubah penderitaan mereka menjadi “tontonan di depan kamera.” Hamas menilai tindakan tersebut mencerminkan “tingkat fasisme serta kebangkrutan politik dan moral.”
Dalam pernyataan resminya, Hamas memperingatkan bahaya atas terus berlanjutnya praktik penataan penjara sebagai arena terbuka untuk pelanggaran, penghinaan, ancaman, penyiksaan, hingga pembunuhan. Mereka juga mengecam keras “penggunaan penderitaan para tahanan oleh pejabat penjajah sebagai bahan kampanye pemilu yang murah.”
Menjual Penghinaan Tahanan demi “Prestasi Politik”
Klub Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Society) turut melayangkan peringatan serupa. Lembaga tersebut menegaskan bahwa rekaman video yang mengejutkan itu mengonfirmasi ambisi Ben-Gvir untuk terus mendokumentasikan penindasan terhadap tahanan Palestina di dalam penjara.
Video tersebut menyingkap peran sang menteri yang terus memprovokasi publik Israel demi meraih tambahan suara dengan cara memamerkan penindasan.
Juru bicara Klub Tahanan Palestina menyatakan kepada Al Jazeera bahwa Ben-Gvir berusaha mengubah kejahatan penyiksaan dan penghinaan terhadap tahanan perempuan menjadi sebuah “prestasi politik.” Menurutnya, video-video yang diunggah Ben-Gvir memperlihatkan pola pikir keseluruhan sistem kekuasaan Israel yang memandang para tahanan sebagai sasaran balas dendam.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa sejak dimulainya perang di Jalur Gaza, pihak mereka telah mendokumentasikan ratusan kesaksian mengenai penyiksaan dan kekerasan di dalam penjara, termasuk pemukulan, penghinaan, perampasan makanan, pengabaian medis, hingga isolasi mandiri.
Dalam rilis resminya, Klub Tahanan Palestina mencatat bahwa sistem pemasyarakatan Israel kini telah berubah menjadi salah satu lokasi utama berlangsungnya kejahatan genosida. Data mereka menunjukkan lebih dari 100 tahanan Palestina gugur di dalam penjara sejak perang pecah.
Jejak Ideologi di Balik Kebijakan Represif
Kebijakan keras Ben-Gvir tidak dapat dilepaskan dari latar belakang politik dan ideologinya. Menteri ekstremis ini tumbuh dari pemikiran Rabi Meir Kahane, pendiri gerakan “Kach” yang sebelumnya dikategorikan sebagai organisasi teroris di Israel dan Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan media-media Israel, Ben-Gvir di masa mudanya berulang kali menghadapi dakwaan hukum terkait provokasi dan dukungan terhadap kelompok radikal. Ia juga dikenal aktif menjadi pengacara yang membela para pemukim Israel pelaku penyerangan di Tepi Barat, sebelum akhirnya meniti karier di politik formal hingga menduduki kursi menteri.
Sejalan dengan kebijakan penindasan terhadap tahanan Palestina, partainya, Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi), juga terus mendesak pengesahan undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina di Knesset (parlemen Israel).
Berbagai data survei menunjukkan bahwa ideologi Ben-Gvir kini mendapatkan tempat yang stabil dalam sistem politik Israel dan tidak lagi dianggap sebagai pandangan kelompok marjinal semata.
Perkembangan di lapangan dan data elektoral mengindikasikan semakin menyatunya agenda pribadi Itamar Ben-Gvir dengan arah kebijakan umum negara Israel. Stabilitas perolehan kursi partainya di parlemen serta posisinya di kabinet menunjukkan bahwa kebijakan penindasan dan hukuman kolektif telah menjadi bagian dari tata kelola konflik, yang membawa pemikiran kanan ekstrem keluar dari sekadar wacana ideologis menuju praktik resmi negara.
Pemilihan umum Knesset dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026 mendatang, di tengah persaingan sengit memperebutkan suara dari kelompok kanan ekstrem.










