Perang yang berkecamuk di Jalur Gaza tak hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur. Ia juga mengoyak kehidupan ribuan perempuan Palestina, mengubah banyak dari mereka menjadi janda, kehilangan pekerjaan, sekaligus menghadapi sistem kesehatan yang runtuh.

Data terbaru yang dirilis oleh Biro Pusat Statistik Palestina menunjukkan bahwa perempuan mencakup hampir separuh populasi Palestina. Hingga akhir 2025, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 2,74 juta orang, atau sekitar 49 persen dari total penduduk.

Dalam pernyataan yang dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, lembaga itu mencatat sekitar 1,69 juta perempuan tinggal di Tepi Barat, sementara 1,06 juta lainnya berada di Jalur Gaza. Secara demografis, angka ini menegaskan peran penting perempuan dalam kehidupan sosial Palestina, peran yang kini berada di bawah tekanan berat akibat perang.

Gelombang Janda Baru

Konflik yang berkepanjangan meninggalkan luka yang sangat dalam bagi keluarga di Gaza. Data statistik Palestina mencatat 22.057 perempuan kehilangan suami mereka sejak perang pecah. Dalam sekejap, mereka menjadi kepala keluarga.

Dampaknya terlihat jelas pada struktur rumah tangga. Sebelum perang, sekitar 12 persen keluarga di Gaza dipimpin oleh perempuan. Kini angkanya melonjak menjadi sekitar 18 persen selama masa agresi.

Di balik angka itu terdapat kisah ribuan rumah tangga yang harus bertahan di tengah kehilangan, para ibu yang kini memikul beban ganda: berduka sekaligus mencari cara menyambung hidup bagi anak-anak mereka.

Pengangguran Membelit Perempuan

Situasi ekonomi tak kalah suram. Sepanjang 2025, partisipasi perempuan Gaza dalam angkatan kerja hanya berada di angka 17 persen. Pada saat yang sama, partisipasi laki-laki anjlok drastis dari 63 persen menjadi 31 persen akibat dampak perang.

Namun krisis paling tajam terlihat pada tingkat pengangguran. Sebanyak 92 persen perempuan di Gaza tidak memiliki pekerjaan, lebih tinggi dibandingkan 81 persen laki-laki.

Di Tepi Barat, gambaran ekonominya sedikit berbeda tetapi tetap menunjukkan ketimpangan. Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja tercatat sekitar 19 persen, jauh di bawah 72 persen laki-laki. Tingkat pengangguran perempuan mencapai 27 persen, hampir setara dengan laki-laki yang berada di angka 28 persen.

Sementara itu, di kalangan anak muda berusia 19 hingga 29 tahun yang memiliki pendidikan diploma atau lebih tinggi, pengangguran melonjak hingga 79 persen. Ketimpangan gender terlihat jelas: 86 persen perempuan muda menganggur, dibandingkan 70 persen laki-laki.

Angka-angka ini menggambarkan jurang ekonomi yang semakin lebar antara perempuan dan laki-laki di tengah konflik yang belum mereda.

Sistem Kesehatan di Ambang Runtuh

Jika ekonomi tercekik, sektor kesehatan menghadapi situasi yang bahkan lebih genting. Statistik Palestina menunjukkan sekitar 94 persen fasilitas layanan kesehatan di Jalur Gaza rusak atau hancur akibat perang.

Kondisi ini berdampak langsung pada kelompok paling rentan: ibu dan bayi. Diperkirakan sekitar 37 ribu perempuan hamil dan menyusui menghadapi malnutrisi akut dalam periode antara Oktober 2025 hingga Oktober 2026.

Indikator kesehatan ibu menunjukkan lonjakan yang mencemaskan. Angka kematian ibu melonjak menjadi 145 kasus per 100 ribu kelahiran hidup pada 2024, jauh meningkat dibandingkan 17,4 kasus pada 2022. Lonjakan ini mencerminkan memburuknya akses terhadap layanan medis dasar.

Di sisi lain, penyakit kronis juga menghadapi hambatan penanganan. Kanker payudara kini menyumbang sekitar 30 persen dari seluruh kasus kanker pada perempuan di Gaza, dengan tingkat 29 kasus per 100 ribu perempuan. Namun layanan deteksi dini dan pengobatan telah terhenti lebih dari dua tahun, membuat banyak pasien kehilangan kesempatan untuk mendapat perawatan tepat waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here