GAZA – Mohammad Al-Bakri masih mengingat setiap detail rasa sakit, aroma keringat, hingga tawa para sipir yang menggema di dalam selnya pada 10 April 2024. Hari itu, ketika jutaan umat Muslim di seluruh dunia merayakan sukacita Hari Raya Idul Fitri, mantan pegawai negeri sipil asal Gaza ini justru sedang melewati malam paling jahanam dalam hidupnya: diperkosa secara bergantian di bawah todongan senjata.
Kisah kelam Al-Bakri bukan kasus tunggal, melainkan potongan kecil dari kotak pandora yang baru saja dibuka oleh investigasi eksklusif Al Jazeera English. Ditulis oleh jurnalis Simon Speakman Cordall dan Awad Joumaa, laporan mendalam tersebut membongkar pola kekerasan seksual (systemic sexual violence) yang terstruktur, kejam, dan dilegalkan secara de facto di dalam pusat-pusat penahanan militer Israel sejak pecahnya perang 7 Oktober 2023.
Laporan ini disusun berdasarkan kesaksian langsung para penyintas yang berhasil bebas, laporan rahasia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta dokumen investigasi dari lembaga HAM internasional dan lokal Israel seperti Amnesty International, Human Rights Watch, dan B’Tselem.
“Ada enam tentara di sebelah kanan dan enam di kiri. Mereka memaksa kami telanjang bulat, menutup mata kami, dan mengikat tangan kami ke belakang,” kenang Mohammad Al-Bakri dengan suara bergetar. Ia disekap bersama tujuh tahanan lain dalam kondisi tanpa busana.
“Kami diperkosa dalam keadaan terikat. Kami berteriak histeris menyebut nama Allah, tapi mereka justru tertawa terbahak-bahak dan merekam aksi itu menggunakan kamera ponsel mereka. Tidak ada belas kasihan sedikit pun. Itu berlangsung selama 30 menit sebelum mereka menyuruh kami berpakaian lagi.”
Ketika Anjing Penjaga dan Alat Buatan Menjadi Instrumen Siksaan
Metode penyiksaan seksual ini dirancang sedemikian rupa untuk menghancurkan martabat kemanusiaan korban. Selain menggunakan kekuatan fisik tentara, investigasi tersebut mengungkap adanya penggunaan anjing penjaga militer untuk mengintimidasi dan menyerang area sensitif tahanan pria maupun wanita.
Kesaksian serupa juga dituturkan oleh “Job” (bukan nama sebenarnya), seorang kuli harian asal Gaza yang ditangkap tanpa dakwaan resmi. Hidup Job berubah menjadi mimpi buruk saat ia dipindahkan ke ruang interogasi khusus.
“Sejumlah tentara wanita masuk ke sel saya. Mereka memborgol tangan dan kaki saya besi, lalu merobek seluruh pakaian saya hingga telanjang,” tutur Job. Beberapa tentara pria kemudian menduduki punggung dan lehernya agar ia tidak bisa bergerak, sementara para tentara wanita melakukan kekerasan seksual menggunakan alat-alat artifisial.
“Para tentara yang menonton bersorak, bertepuk tangan, dan mendokumentasikannya. Mereka sengaja merekam proses pemerkosaan itu untuk menghancurkan psikologis saya saat diinterogasi terkait peristiwa 7 Oktober, padahal saya warga sipil biasa yang tidak tahu apa-apa,” tambahnya lirih.
Impunitas Total: Saat Pemerkosaan Dibela Anggota Parlemen
Secara hukum dan politik, investigasi ini menyoroti bagaimana sistem peradilan Israel secara sengaja memelihara budaya impunitas (kebal hukum) bagi para personel militernya. Hingga Juni 2026 ini, tidak ada satu pun tentara atau sipir Israel yang dijatuhi vonis bersalah oleh pengadilan domestik atas kasus kekerasan seksual terhadap warga Palestina.
Ironi terbesar terjadi pasca-bocornya rekaman video CCTV yang memperlihatkan sekelompok sipir memerkosa seorang tahanan Palestina di kamp militer Sde Teiman di Gurun Negev pada Juli 2024 lalu. Ketika 10 oknum tentara sempat ditahan untuk penyelidikan formal, gelombang protes sayap kanan ekstrem justru pecah di Israel. Mengejutkannya, sejumlah anggota parlemen (Knesset) ikut menggalang massa dan mencoba menyerbu fasilitas penahanan demi membebaskan para pelaku.
Pada Juli 2025, seluruh dakwaan terhadap para sipir pemerkosa tersebut resmi digugurkan. Sebaliknya, jaksa militer wanita yang diduga membocorkan video CCTV tersebut ke publik justru ditangkap. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka melabeli kebocoran video pemerkosaan tersebut sebagai “serangan propaganda paling berbahaya” terhadap citra Israel sejak negara itu berdiri.
Dukungan moral terhadap kejahatan seksual ini bahkan disuarakan lantang di ruang sidang parlemen Israel. Anggota Knesset dari Partai Likud, Hanoch Milwidsky, memicu kecaman internasional saat berteriak menjawab pertanyaan anggota dewan lainnya: “Ya! Jika dia adalah bagian dari Nukhba (Hamas), maka segalanya (termasuk pemerkosaan) diizinkan untuk dilakukan!”
Dehumanisasi: Menghancurkan Jiwa, Bukan Cuma Raga
Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Wilayah Palestina, Francesca Albanese, menilai bahwa kebrutalan seksual di dalam penjara Israel bukan sekadar ekses dari emosi personal prajurit di lapangan. Ini adalah refleksi dari narasi politik dehumanisasi yang terstruktur dari level atas pemerintahan.
“Tujuan dari kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina sangat jelas: bukan sekadar menimbulkan rasa sakit fisik, melainkan untuk menghancurkan jiwa, mental, dan esensi kemanusiaan korban secara permanen. Pemerkosaan dirancang agar korban tidak akan pernah bisa membangun kembali hidup atau kepribadian mereka setelah keluar dari sana,” tegas Albanese.
Para sosiolog dan pakar hukum internasional yang diwawancarai dalam investigasi ini sepakat bahwa ketika para pemimpin politik menyebarkan narasi yang menyamakan seluruh penduduk Gaza dengan “hewan”, hal itu secara otomatis menciptakan ekosistem yang melegalkan penyiksaan massal tanpa takut akan adanya konsekuensi hukum.
Di tengah mandeknya mekanisme hukum internasional dan veto politik global, ribuan tahanan Palestina di dalam jeruji besi Israel kini harus menghadapi kenyataan pahit: tubuh mereka dijadikan medan pertempuran baru yang sunyi, brutal, dan merobek nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.










