GAZA — Eskalasi kekerasan kembali mengguncang Jalur Gaza. Kementerian Dalam Negeri di Gaza mengumumkan syahidnya Kepala Kepolisian Kabupaten Gaza Utara akibat serangan drone militer Israel di kawasan Al-Sheikh Radwan.

Sementara itu, sumber medis di berbagai rumah sakit Gaza mengonfirmasi sedikitnya tujuh warga Palestina syahid dan lebih dari 20 lainnya luka-luka akibat tembakan pasukan pendudukan sejak Sabtu pagi.

Dalam keterangan resminya, Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional di Gaza membenarkan bahwa Kapolres Gaza Utara, Brigadir Jenderal Abdel Nasser Muhammad Al-Maqadma (54 tahun), syahid setelah menjadi sasaran tembak pesawat nirawak (drone) militer Israel di Al-Sheikh Radwan, sebelah barat laut Kota Gaza.

Di sisi lain, militer Israel mengklaim Al-Maqadma merupakan anggota sayap bersenjata Hamas dan tuduhannya terlibat dalam operasi Tufan Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023.

Peristiwa ini terjadi di tengah langkah Israel yang kian gencar menargetkan sektor-sektor pelayanan publik di Gaza, terutama kepolisian, melalui pembunuhan para perwira dan anggotanya.

Target Sistematis pada Institusi Sipil

Kementerian Dalam Negeri di Gaza menegaskan bahwa serangan terhadap jajaran kepolisian merupakan tindakan disengaja untuk memicu kekacauan di tengah masyarakat.

“Kejahatan ini menunjukkan keteguhan pendudukan dalam menargetkan sendi-sendi kerja kepolisian, dengan tujuan menyebarkan kekacauan di Jalur Gaza,” bunyi pernyataan resmi Kementerian, Sabtu.

Pihaknya mencatat, setidaknya 53 pimpinan, perwira, dan personel kepolisian telah tewas akibat serangan langsung yang menyasar markas, patroli, kendaraan, hingga personel sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku Oktober lalu.

Atas kondisi tersebut, Kementerian Dalam Negeri mendesak komunitas internasional dan negara-negara mediator untuk segera bertindak menekan Israel agar menghentikan penyerangan terhadap institusi kepolisian. Mereka menekankan bahwa kepolisian adalah lembaga sipil yang dilindungi oleh hukum internasional dan bertugas menjaga keamanan serta ketertiban warga sipil.

Pelanggaran Gencatan Senjata dan Jatuhnya Korban Jiwa

Di tengah rangkaian pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlangsung sejak 10 Oktober lalu, sumber medis melaporkan tujuh warga tewas dan puluhan lainnya terluka sejak Sabtu pagi.

Petugas medis melaporkan serangan udara Israel merenggut nyawa seorang tenaga medis Palestina di Kamp Pengungsian Al-Nuseirat, Gaza tengah. Di Khan Younis, Gaza selatan, gempuran udara menghantam sebuah rumah dan menewaskan dua orang. Militer Israel berkilah serangan di Khan Younis diarahkan kepada anggota kelompok Jihad Islam.

Tak lama setelah itu, serangan udara susulan di Khan Younis merenggut nyawa Khalid Al-Bureim, seorang siswa sekolah menengah atas. Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa drone Israel juga menyerang kawasan Mawasi Khan Younis, lokasi yang menjadi penampungan ribuan pengungsi.

Di saat bersamaan, militer Israel melakukan peledakan skala besar terhadap rumah-rumah dan fasilitas milik warga Palestina di area yang berada di bawah kendalinya di timur Khan Younis.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan yang dirilis Sabtu mencatat, berbagai pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata oleh Israel telah mengakibatkan 1.191 warga Palestina gugur dan 3.853 lainnya luka-luka.

Sejak 7 Oktober 2023, agresi militer yang disokong Amerika Serikat telah menewaskan lebih dari 73 ribu jiwa dan melukai lebih dari 173 ribu orang, serta merusak hingga 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.

Upaya diplomasinya sendiri masih berjalan tertatih. Negara-negara mediator seperti Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat terus mencoba mendorong rencana penyelesaian konflik, termasuk desakan pembentukan wilayah bebas senjata dan penarikan pasukan Israel. Namun, perkembangan nyata di meja perundingan masih sangat minim.

Ancaman Kelaparan Massal

Di samping gempuran militer, krisis kemanusiaan di Gaza kian mengkhawatirkan. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa dua pertiga penduduk Gaza terancam menghadapi kelaparan tingkat akut pada akhir tahun ini akibat pangkasan bantuan kemanusiaan yang dipicu krisis pendanaan.

Mayoritas penduduk kini menggantungkan hidup sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan setelah bertahun-tahun diterpa perang, pengungsian berulang, dan pembatasan ketat akses logistik oleh Israel.

Data dari Inisiatif Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) sempat menunjukkan penurunan jumlah warga yang mengalami kelaparan akut menjadi 1,2 juta jiwa pada periode pertengahan April hingga akhir Juni. Namun, angka tersebut diproyeksikan kembali melonjak hingga melampaui 1,4 juta jiwa (atau sekitar 67 persen dari total populasi) pada Desember mendatang seiring menurunnya pasokan bantuan.

Kini, hampir dua juta jiwa warga Gaza terdesak di areal sempit, bertahan hidup di dalam tenda-tenda darurat atau puing bangunan yang rusak di bawah kondisi yang sangat memprihatinkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here