JALUR GAZA — Di tengah hancurnya sistem kesehatan dan menumpuknya korban dengan cacat fisik permanen maupun sementara akibat perang di Jalur Gaza, layanan rehabilitasi medis kini menjadi ‘tali penyelamat’ utama. Di Rumah Sakit Lapangan Zawayda, Gaza tengah, para tenaga medis terus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan organ tubuh para korban luka agar tidak berakhir di meja amputasi.
Meski dihantam krisis parah akibat minimnya peralatan medis dan menipisnya jumlah staf ahli, RS Lapangan Zawayda tetap beroperasi penuh. Rumah sakit yang didirikan pada awal perang tahun 2024 ini menjadi tumpuan utama masyarakat ketika fasilitas kesehatan lain gulung tikar dan ancaman keselamatan melumpuhkan mobilitas para tenaga medis.
Koordinator Terapi Fisik RS Lapangan Zawayda, Muhammad Al-Yaziji, menjelaskan bahwa fasilitas ini terus memberikan pelayanan intensif bahkan setelah berjalannya gencatan senjata. Hal ini dilakukan demi menampung gelombang korban luka yang tak pernah berhenti.
Melalui unit terapi fisik dan okupasi, rumah sakit ini berfokus memulihkan fungsi motorik pasien, baik mereka yang dirawat inap maupun yang berobat jalan. “Banyak pasien yang datang dalam kondisi memprihatinkan dan kesulitan mengakses fasilitas kesehatan karena kehancuran infrastruktur yang masif,” ujar Al-Yaziji.
Inovasi Gips Lokal di Tengah Blokade
Al-Yaziji mengungkapkan, setiap harinya unit rehabilitasi menerima antara 60 hingga 100 korban luka berat. Mereka menjalani sesi terapi intensif untuk memulihkan fungsi dasar tubuh, seperti berjalan, makan, berpakaian, dan bergerak secara mandiri.
Tingginya tekanan medis yang berbanding terbalik dengan ketersediaan alat medis memicu lahirnya inovasi lokal. Pada awal 2025, tim medis memelopori pembentukan unit gips plastik (thermoplastic splints) dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersisa sebagai pengganti pasokan medis impor yang diblokir.
Layanan penyangga plastik ini awalnya ditujukan bagi pasien patah tulang dan kerusakan saraf guna memulihkan gerak anggota tubuh. Namun seiring meningkatnya kasus, cakupannya diperluas untuk menyiapkan fisik para korban yang kehilangan organ tubuh akibat ledakan dahsyat dan tembakan peluru tajam.
“Gips plastik berbahan lokal ini memiliki keunggulan karena dapat dibentuk kembali sesuai dengan perkembangan pemulihan pasien. Desainnya juga dirancang khusus agar memiliki sirkulasi udara yang baik bagi kulit sehingga mencegah infeksi dan komplikasi lanjutan,” terang Al-Yaziji.
Sebelum inovasi ini lahir, para staf medis terpaksa mengandalkan gips semen tradisional yang kaku dan tidak fleksibel. Meski bekerja dalam keterbatasan bahan thermoplastic utama, tim medis terbukti berhasil membawa banyak pasien kembali bergerak secara bertahap.
Menolak Pasrah pada Amputasi
Kisah pemulihan dirasakan langsung oleh Karim Abu Samak, seorang pengungsi asal Rafah. Karim menderita luka parah akibat serangan pecahan bom dari dron saat sedang berjalan kaki. Serangan tersebut merusak jaringan saraf di tangannya dan melukai organ gerak lainnya hingga ia tak berdaya selama bertiga-tiga bulan.
“Pascaoperasi, saya bahkan tidak mampu melakukan hal paling sepele seperti memegang sendok untuk makan atau mengenakan pakaian sendiri. Namun setelah rutin mengikuti program rehabilitasi dengan gips plastik inovatif ini, tangan saya perlahan bisa digerakkan kembali,” tutur Karim.
Kisah serupa dialami seorang warga pengungsi lainnya yang ditembak di dekat pusat penyaluran bantuan kemanusiaan. Tembakan peluru tajam itu meremukkan lengan tangannya hingga para dokter memprediksi amputasi total sebagai satu-satunya jalan keluar.
Namun lewat serangkaian operasi rekonstruksi yang diikuti terapi fisik intensif menggunakan gips plastik buatan lokal, keajaiban kecil itu terjadi. “Tangan saya yang tadinya hendak dipotong kini bisa digerakkan kembali dan bisa dipakai mengangkat beban. Ini memberi saya harapan untuk pulih sepenuhnya,” ungkapnya penuh syukur.
Berdasarkan data terbaru, agresi militer yang melanda Gaza telah merenggut lebih dari 73 ribu jiwa rakyat Palestina dan melukai lebih dari 174 ribu orang lainnya. Selain jatuhnya ribuan korban jiwa dan cacat fisik, perang ini menghancurkan 90 persen infrastruktur Gaza, dengan estimasi biaya rekonstruksi yang ditaksir PBB mencapai 70 miliar dolar AS.










