GAZA — Di atas kertas, kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza yang diteken sejak 10 Oktober 2025 semestinya membawa jeda dan ketenangan bagi warga sipil. Namun, di balik jargon-jargon diplomasi dan retorika “reda”, realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Mesin perang Israel tak berhenti berderit, terus memburu warga sipil, merobek kesunyian malam dengan ledakan, dan menumpahkan darah baru di berbagai sudut kantong pengungsian.
Bagi jutaan warga Palestina di Gaza, apa yang disebut sebagai gencatan senjata ini hanyalah ilusi. Kampanye militer, pembantaian skala kecil yang berulang hampir setiap hari, dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk menggambarkan bahwa agresi ini adalah kelanjutan dari genosida terstruktur. Dunia internasional mungkin mengira perang telah mereda, namun bagi warga Gaza, perang masih terasa membara layaknya hari pertama.
Jeritan di Ruang Digital
Ketika laporan media arus utama mulai menyusut, jagat maya menjadi saksi bisu yang merekam kengerian yang terus berlanjut. Rekaman video amatir dan foto-foto kehancuran terbaru terus diunggah oleh para jurnalis warga dan aktivis lokal. Mereka mencoba mendobrak keheningan dunia dan menelanjangi jurang pemisah yang lebar antara pengumuman gencatan senjata di atas kertas dengan nestapa riil di atas tanah Gaza.
Analis politik asal Gaza, Iyad al-Qarra, melalui akun pribadinya di platform X mengecam tindakan militer Israel. “Penjajah tidak hanya puas membantai warga sipil, mereka bahkan terus meratakan tempat-tempat yang tersisa,” tulisnya, merujuk pada intensitas pengeboman yang tidak menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.
Kekecewaan serupa disuarakan oleh aktivis kemanusiaan, Muhammad al-Jabour. “Perang di Gaza hari ini terasa seolah baru memasuki hari pertama. Bom meledak di mana-mana,” tulisnya memperingatkan warga untuk tetap waspada.
Sementara itu, aktivis Ahmad Hamdan mengingatkan publik global yang mulai memalingkan pandangan, “Bagi siapa saja yang belum memalingkan wajah dari Gaza, ketahuilah, Gaza masih dibom. Setiap detik, darah terus tumpah dan para syuhada terus berguguran.”
Senyap dalam Pemberitaan, Berdarah di Lapangan
Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi warga Gaza saat ini adalah hilangnya perhatian media internasional, sebuah kondisi yang disebut oleh fotografer lokal, Mahmoud Shalha, sebagai “penggelapan informasi secara masif”.
“Siapa pun yang mengira intensitas perang ini telah menurun, mereka salah besar. Pengeboman tidak pernah berhenti, pembantaian berulang setiap hari, dan korban terus berjatuhan,” ujar Shalha.
Dia mencontohkan, sesaat sebelum dirinya mengunggah laporan tersebut, jet tempur Israel baru saja menghantam atap sebuah rumah di kamp pengungsian al-Shati. “Satu serangan baru saja selesai di satu titik, serangan lain langsung menyusul di titik yang berbeda.”
Akun aktivis kemanusiaan lainnya, Al-Hakim, menggambarkan siklus horor harian ini sebagai lingkaran setan. “Satu ledakan disusul ledakan berikutnya. Kawasan pemukiman terus berada di bawah hujan peluru, sementara genangan darah di Gaza tak kunjung mengering.”
Bagi para aktivis ini, video-video kehancuran yang mereka bagikan bukanlah rekaman arsip dari bulan-bulan pertama perang pada akhir tahun 2023. Itu adalah rekaman hari ini, detik ini. Yang menyusut bukanlah skala kekejaman serangan Israel, melainkan empati dan ruang pemberitaan global.
Statistik Kematian yang Terus Merayap Naik
Pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata oleh militer Israel tidak hanya berupa serangan udara dan artileri, melainkan juga operasi penghancuran sistematis pemukiman di sepanjang perimeter “Garis Kuning” (Yellow Line), serta pengetatan blokade terhadap bantuan kemanusiaan dan pergerakan warga.
Data resmi yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Palestina menyajikan angka-angka yang mengerikan. Sejak periode “gencatan senjata” yang diklaim dimulai pada 10 Oktober lalu, sebanyak 1.094 warga Gaza justru gugur, 3.507 orang terluka, dan 799 jenazah baru berhasil dievakuasi dari balik puing-puing bangunan.
Secara kumulatif, sejak badai agresi pecah pada 7 Oktober 2023, korban jiwa di pihak Palestina telah menembus angka 73.120 jiwa gugur dan 173.635 orang luka-luka. Ditambah dengan hancurnya 90 persen infrastruktur publik, Gaza kini menjadi saksi bagaimana sebuah bangsa dipaksa bertahan hidup di bawah reruntuhan, sembari menolak mati di tengah gencatan senjata yang semu.
(Sumber: Al Jazeera / Media Sosial)










