TEPI BARAT — Upaya sistematis untuk melumpuhkan Marwan Barghouti, tokoh kunci gerakan Fatah Palestina yang telah mendekam di jeruji besi Israel selama hampir seperempat abad, kembali mencapai titik kritis. Kantor Informasi Tahanan (Asra Media Office) melaporkan sebuah insiden mengerikan: seorang sipir penjara Israel menembak kaki Barghouti menggunakan peluru karet dari jarak nol.
Istri Barghouti, Fadwa Barghouti, mengonfirmasi kabar serangan fisik tersebut setelah mendapatkan informasi dari kunjungan terakhir. Tembakan jarak dekat di dalam sel itu menyebabkan luka robek yang dalam dan pendarahan hebat pada kaki sang tokoh perlawanan.
Fadwa menegaskan bahwa kebrutalan terbaru ini berjalan seiring dengan rilis laporan bernada hasutan yang dikeluarkan oleh otoritas penjara Israel. Langkah ini dinilai sebagai kepanikan Tel Aviv di tengah meluasnya kampanye internasional yang mendesak pembebasan Barghouti.
“Semua intimidasi ini sengaja dirancang untuk meruntuhkan moral dan simbolisme nasional yang melekat pada diri Marwan,” tegas Fadwa.
Rekam Jejak Penyiksaan: Tujuh Kali Digulung Badai Kekerasan
Merespons situasi ini, Liga Arab mengutuk keras kekerasan berulang tersebut dan menuntut pembentukan tim investigasi internasional independen. Mereka mendesak agar Barghouti diizinkan menerima kunjungan tim medis independen, dievakuasi ke rumah sakit di luar kompleks penjara, serta segera dibebaskan karena statusnya sebagai tahanan politik.
Berdasarkan data lembaga swadaya tahanan Palestina, sejak meletusnya perang pada 7 Oktober 2023, Barghouti setidaknya telah mengalami tujuh kali penganiayaan brutal di dalam tahanan. Rentetan serangan tersebut menyebabkan patah tulang rusuk dan luka permanen di sekujur tubuhnya.
Kronologi Intimidasi Terhadap Marwan Barghouti:
- November 2023: Dipindahkan secara paksa ke sel isolasi ketat di Penjara Janoot.
- September 2025: Mengalami penganiayaan fisik massal di dalam sel, sesaat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, melakukan inspeksi sepihak dan mengancamnya secara langsung.
- Mei 2026 (Dua bulan lalu): Sipir melemparkan bom kejut (sound bomb) ke dalam sel isolasinya, menyebabkan luka bakar serius pada tangannya.
- Juli 2026 (Insiden terbaru): Ditembak dengan peluru karet pada bagian kaki dari jarak nol.
Fadwa Barghouti menekankan bahwa otoritas penjara Israel sangat terusik oleh masifnya dukungan global terhadap kampanye “Freedom for Marwan.. Freedom for Palestine”.
“Apa yang gagal dipahami oleh penjajah selama seperempat abad ini adalah bahwa Marwan tidak akan pernah mundur dari keyakinannya. Baginya, melawan pendudukan untuk mencapai perdamaian yang adil adalah tanggung jawab moral dan nasional. Peluru dan hasutan tidak akan bisa menghapus namanya dari dada rakyat Palestina maupun dari sanubari manusia merdeka di dunia,” ujar Fadwa tegar.
Siapa Marwan Barghouti?
Lahir pada tahun 1959, Marwan Barghouti bukanlah sosok sembarangan dalam konstelasi politik Palestina. Ia mencatatkan sejarah sebagai anggota Komite Sentral Fatah pertama sekaligus anggota Dewan Legislatif Palestina pertama yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan Israel.
Saat ini, Barghouti tengah menjalani vonis 5 kali hukuman seumur hidup ditambah 40 tahun penjara, atas tuduhan memimpin berbagai operasi perlawanan bersenjata selama Intifada Al-Aqsa.
- 1976: Ditangkap pertama kali oleh Israel saat berusia remaja.
- 1994: Kembali dari pengasingan luar negeri dan terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Fatah di Tepi Barat.
- 1996: Terpilih sebagai anggota Dewan Legislatif (Parlemen) Palestina.
- 15 April 2002: Ditangkap di puncak Intifada Kedua, diikuti proses interogasi panjang yang diwarnai penyiksaan fisik berat sebelum akhirnya divonis pada tahun 2004.
Hingga pertengahan 2026 ini, posisi Barghouti di sel isolasi Penjara Janoot dikawal ketat. Otoritas Tel Aviv secara konsisten menolak memasukkan nama Barghouti ke dalam draf pertukaran tahanan apa pun, mengonfirmasi ketakutan terbesar Israel: bahwa kharisma politik Barghouti tetap hidup dan mampu menyatukan faksi-faksi Palestina dari balik dinding selnya.
(Sumber: Al Jazeera)










